Hancur Tersapu Awan Panas, Masjid di Lereng Merapi Buka Seminggu Sekali

Mabur.co – Di Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat sebuah masjid unik yang hanya ‘dibuka’ setiap seminggu sekali. Tepatnya saat ibadah salat Jumat. 

Masjid itu adalah Masjid Umi Yati, yang terletak di Kelurahan Kepuharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. 

Berjarak sekitar 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi, masjid ini bisa dibilang merupakan salah satu masjid terpencil yang berada di wilayah paling utara di DIY. 

Menurut Ahmad Hanif, pengelola masjid tersebut, sebelum bernama Masjid Umi Yati, dulunya masjid ini bernama Masjid Al Fatah.

Namun pada saat bencana Erupsi Merapi tahun 2010, masjid ini hancur terkena awan panas dan baru dibangun kembali tahun 2023 lalu. 

“Dulu masjid ini kerap digunakan warga lereng Gunung Merapi untuk salat berjemaah dan mengaji. Salah satunya adalah Hj Umi Yati Habibah. Beliau adalah seorang Hafidzah (penghafal Alquran) yang memiliki lahan di sekitar masjid ini,” ujarnya kepada Mabur.co

Dikisahkan saat peristiwa Erupsi Merapi tahun 2007, Hj Umi Yati bersama 7 warga lainnya sedang melantunkan ayat-ayat suci Alquran di masjid ini.

Meski pihak terkait telah meminta seluruh warga mengungsi, namun mereka memilih tetap bertahan  di masjid ini untuk mengaji. Ajaibnya mereka semua lolos dari maut, meski awan panas mengepung mereka. 

Seorang jemaah sedang melihat kaligrafi Alquran yang dipasang di sekeliling dinding masjid Foto JH Kusmargana

Saat peristiwa erupsi besar Merapi yang menewaskan Mbah Maridjan tahun 2010 terjadi, masjid ini juga masih digunakan warga termasuk Hj Umi Yati untuk kegiatan ibadah. 

“Saat erupsi besar tahun 2010, Nyai (Umi Yati) dan 7 warga, belum mau turun. Mereka memilih bertahan di masjid, karena takut kalau mereka berhenti mengaji, justru awan panas akan menghancurkan semua rumah warga,” kata Ahmad Hanif. 

Meski erupsi Merapi kala itu berlangsung secara terus-menerus dan meluluh-lantahkan kawasan sekitar masjid, namun keajaiban kembali terjadi. Hj Umi Yati dan 7 warga yang berada di dalam masjid tetap selamat. 

“Anehnya awan panas saat itu tidak mengarah ke masjid ini. Seolah berbelok menghindari masjid yang digunakan untuk mengaji,” katanya. 

Diungkapkan Ahmad Hanif, tanggal 10 Oktober 2010, Hj Umi Yati bersama 7 orang warga akhirnya memutuskan untuk turun dari masjid dan memilih mengungsi.  

“Karena saat itu erupsi sudah sangat besar sekali. Sehingga demi kebaikan semua pihak, Hj Umi Yati memutuskan untuk memgungsi dengan menggajak 7 warga yang selama ini menemaninya,” katanya.

Sambil terus membaca ayat-ayat suci Alquran, mereka mengungsi dari masjid yang saat itu telah dikelilingi lautan awan panas. Mereka bahkan harus menggunakan bantal dan sajadah sebagai alas untuk berpijak, guna menghindari panasnya debu vulkanis.

“Setelah sampai di bawah. Nyai meminta agar sebanyak 7 buah Alquran yang tertinggal di masjid diambil. Setelah Alquran itu diambil, barulah masjid ini tersapu awan panas dan hancur tak bersisa,” kenangnya. 

Suasana di dalam masjid Umi Yati Foto JH Kusmargana

Pembangunan kembali masjid ini baru dilakukan sekitar tahun 2023 lalu.

Bermula dari keprihatinan Hj Umi Yati yang melihat tidak adanya masjid atau tempat ibadah di kawasan terpencil lereng Gunung Merapi itu.  

“Padahal tahun 2023 itu sudah banyak sekali wisatawan maupun pekerja yang setiap hari berada di wilayah sekitar kawasan Bunker Kaliadem ini,” katanya. 

Setelah berdiri, masjid ini pun kini dinamai Masjid Umi Yati.

Dibangun berbentuk limasan dengan menempati lahan milik Hj Umi Yati.

Di dalamnya terdapat banyak tulisan kaligrafi huruf Alquran di setiap sisi dindingnya. 

“Kaligrafi ini merupakan ayat-ayat Alquran yang biasa dibacakan Nyai Umi Yati. Berisi doa-doa sehari-hari. Baik itu doa keselamatan, doa penyembuhan dan sebagainya,” katanya. 

Kini lahan serta masjid ini telah diwakafkan oleh Hj Umi Yati kepada Majelis Wakil Cabang NU kecamatan Cangkringan. 

Uniknya masjid ini hanya ‘dibuka’ dan ramai setiap seminggu sekali. Yakni pada saat ibadah Salat Jumat.

Hal itu terjadi karena masjid ini berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau zona merah yang tidak boleh ditinggali. 

“Sebenarnya masjid ini boleh digunakan untuk beribadah kapanpun dan oleh siapapun. Hanya saja setiap hari memang ditutup oleh pihak pengelola, untuk menghindari hewan liar seperti monyet yang masuk ke dalam masjid,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *