Mabur.co – Jika malam ini, 7 Oktober 2026, kamu berdiri di Malioboro, kamu tidak hanya menonton karnaval. Kamu sedang menyaksikan kota yang mencoba mengingat jati dirinya.
Puncak HUT ke-270 Kota Yogyakarta akan dipusatkan pada Wayang Jogja Night Carnival (WJNC) 2026. Tidak lagi di Tugu seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini panggungnya dibentangkan memanjang, start dari Gedung DPRD DIY dan pertunjukan utama di Titik Nol Kilometer. Rute itu sengaja dipilih.
“Dewa Gana Kalajaya itu Ganesha yang melambangkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan kepandaian. Ini sesuai dengan brand Kota Yogyakarta sebagai kota pendidikan,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Lucia Daning Krisnawati, dalam jumpa pers di Balai Kota, sebagaimana dilansir dari infowaw.postingnews.id.
Mitos Dihidupkan Kembali di Perempatan Malioboro
Tema Gana Kalajaya bukan tanpa mitos. Dalam naskah Babad Giyanti, 1756, Pangeran Mangkubumi memilih tanah di antara dua sungai karena dipercaya dijaga Ganesha, penjaga perempatan. 270 tahun kemudian, mitos itu dihidupkan kembali di perempatan Malioboro.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyebut, 7 event unggulan sengaja dibuat sebulan penuh bukan sehari, agar length of stay wisatawan lebih panjang.
“Kita tarik lebih panjang dari rel Malioboro, sampai ke Titik Nol agar bisa lebih dinikmati. Malioboro adalah tempat paling top,” ujarnya pada awak media.
Mendongkrak Okupansi Hotel di Pusat Kota
Persiapannya sudah terasa futuristik kampung. Untuk menghindari tumpukan 60.000 manusia di satu titik, panitia menyiapkan 7 layar LED di sepanjang koridor.
Sekretaris Dinas Pariwisata, Muh Zandaru Budi Purwanto, menargetkan lonjakan itu bisa mendongkrak okupansi hotel pusat kota.
Seperti dikutip kabarjawa.com: “Area penonton yang bisa digunakan sangat panjang. Dengan dipasangnya 7 titik LED ini, masyarakat tidak perlu menumpuk di Titik Nol saja,” kata CO WJNC Yurnelis Piliang.
Di kampung-kampung, persiapannya lebih organik. Sejak Agustus lalu, 270 titik kerja bakti serentak digelar, dari Beringharjo hingga Kali Code, melibatkan buruh gendong seperti Mbah Rubiem 72 tahun yang masih aktif di pasar. Bagi mereka, HUT 270 bukan soal Ganesha raksasa, tapi soal sapu lidi dan rasa srawung.
Malam puncak nanti, 14 kemantren akan mengarak tokoh wayang masing-masing. Jika kamu jeli, lihatlah kostum Kemantren Wirobrajan.
Biasanya mereka menyelipkan Badik Bugis kecil di balik kain lurik, jejak Pasukan Dhaeng yang menjaga keraton sejak 1727.
Itu yang tak tertulis di rilis resmi, tapi hidup di kampung-kampung Mataram-Yogya. ***
