Mabur.co – Kalau membicarakan Yogyakarta, biasanya langsung terbayang Malioboro, gudeg, atau keraton dengan segala keagungannya. Tapi ada satu hal yang sering kelewat dari obrolan: kampung-kampung kecil di dalam benteng keraton.
Nama kampung itu bukan asal tempel, melainkan jejak sejarah hidup yang nempel sampai hari ini, yakni warisan dari para Abdi Dalem, orang-orang yang dulu jadi “tulang punggung” jalannya kerajaan.
Abdi Dalem ini, ibarat roda kecil yang membuat mesin besar keraton tetap berputar. Ibaratnya ada yang mengurus rambut, membuat kereta, menyiapkan nasi kebuli, sampai sekadar mengurusi lampu minyak.
Karena mereka mempunyai peran penting, tiap kelompok Abdi Dalem dulu dapat jatah permukiman khusus. Letaknya tidak jauh dari keraton, bahkan banyak yang masih ada di area Njeron Beteng.
Tanggung Jawab Besar Abdi Dalem
Keraton Yogyakarta tidak bisa lepas dari keberadaan Abdi Dalem. Para Abdi Dalem mengerjakan berbagai hal yang dari keraton. Tanggung jawabnya beragam seperti membuat nasi, membuat peralatan besi, bermain gamelan, membuat teh, dan masih banyak lagi.
Dilansir dari berbagai sumber, Rabu (7/10/2026), keberlangsungan keraton tidak bisa lepas dari Abdi Dalem. Oleh karena itu, para Abdi Dalem biasanya tinggal tidak jauh dari keraton. Sewaktu-waktu tenaganya dibutuhkan, mereka bisa dengan mudah mencapai keraton.
Abdi Dalem Penyandang Disabilitas
Di antara banyaknya tugas Abdi Dalem, ada yang jadi Abdi Dalem palawija. Mereka adalah Abdi Dalem penyandang disabilitas atau memiliki tubuh yang berbeda seperti badan kerdil, albino, bongkok, dan pincang.
Abdi Dalem ini menempati sebuah kawasan dekat keraton. Warga kemudian mengenal daerah itu dengan Kampung Polowijan.
Sayangnya, kampung Abdi Dalem penyandang disabilitas itu kini sudah tidak ada. Memang, secara administratif masih ada Kampung Polowijan yang kini masuk ke dalam Kalurahan Kadipaten, Kecamatan Keraton. Namun, bentuknya hanyalah kampung seperti pada umumnya.
Abdi Dalem palawija biasanya hadir mendampingi raja di momen-momen penting. Misalnya, upacara penobatan raja (jumeneng) dan upacara grebeg. Bagi raja, mereka memang pengiring kesayangan karena biasanya sangat setia.
Abdi Dalem palawija memang cukup terpandang di keraton. Selain karakternya yang setia, Abdi Dalem ini diceritakan sebagai sosok yang sakti, punya kekuatan gaib, dan bisa memberi berkah ke orang lain.
Oleh karena itu, mereka kerap menempati barisan terdepan dalam upacara Keraton Yogyakarta. Harapannya bisa menjadi penolak bala.
Punakawan
Keberadaan Abdi Dalem palawija di keraton kerap dikaitkan dengan Punakawan. Cerita pewayangan dengan tokoh Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong.
Dalam cerita pewayangan, tokoh-tokoh itu memiliki bentuk fisik yang berbeda. Namun, nasihat-nasihat mereka selalu didengar. Begitu pula dengan Abdi Dalem palawija yang kerap menjadi penasihat raja.
Keberadaan Kampung Polowijan di masa lampau menunjukkan sudut pandang masyarakat Jawa, khususnya Keraton Yogyakarta, terhadap penyandang disabilitas.
Raja menghargai perbedaan dan memberi kesempatan yang sama bagi masyarakat untuk mengabdi pada kerajaan. ***
