Mabur.co – Di Makassar, orang tidak bilang “makam pahlawan”. Mereka bilang “Kampung Jawa”. Di lorong sempit Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, di antara rumah Bugis dan warung coto, ada gapura kecil bertuliskan arab: di sanalah Bendara Raden Mas Mustahar beristirahat.
Pangeran Diponegoro yang diberi nama kanak-kanak Bendoro Raden Mas Mustahar, lahir di Keraton Yogyakarta pada 11 November 1785, tepat menjelang fajar.
Ia wafat di dalam tembok benteng Speelman, Fort Rotterdam, Makassar pada 8 Januari 1855 pagi hari setelah matahari terbit dan dimakamkan di pemakaman umum Kampung Melayu, Makassar.
R. Hamzah Diponegoro, Penjaga yang Setia
Kaitannya dengan keraton bukan putus, tapi justru direkatkan oleh Belanda sendiri lewat setelah Diponegoro berpulang.
Juru kunci makam, R Hamzah Diponegoro, yang juga generasi kelima Pangeran Diponegoro menjelaskan, pada awalnya tidak ada masyarakat yang tahu jika Pangeran Diponegoro diasingkan di Benteng Fort Rotterdam.
Baru setelah Pangeran Diponegoro meninggal, warga dan masyarakat mengetahui adanya pejuang yang selama ini hidup di pengasingan.
“Baru setelah itu anak cucunya menikah dengan orang Bugis dan tinggal di Makassar,” terangnya.
Hamzah adalah bukti hidup kaitan itu. Ia merawat 66 makam: dua makam besar milik Diponegoro dan istrinya RA Ratu Ratna Ningsih, 25 makam sedang, dan 39 kecil milik anak, cucu, cicit, dan pengikutnya.
“Bantuan dari Kodam IV Diponegoro karena menjadi simbol kemiliteran. Saya kebetulan dipercaya merawat makam setelah ayah saya juga mendapat kekancingan dari Keraton Yogya pada 2015 silam,” katanya.
Kenapa tidak dipindah ke Makam Imogiri Yogyakarta seperti para leluhurnya? Ini mitos sekaligus wasiat yang dipegang teguh.
Sebelum wafat, Pangeran Diponegoro meminta dirinya, istri, dan anak-anaknya tidak dipulangkan ke tanah Jawa.
“Sebelum beliau mengembuskan napas terakhir, dia sudah mengamanahkan dirinya, mewakafkan dirinya bersama istri dan anak-anaknya. ‘Sepeninggal saya nanti tidak usah pulangkan saya ke tanah Jawa’,” kata Raden Hamzah di pemakaman.
Saat Prabowo Mewacanakan Pemindahan Makam
Bahkan ketika Prabowo di Rakernas Apeksi 2023 mewacanakan pemindahan Makam Diponegoro, family Makassar marah.
Keluarga menyebut, Pangeran Diponegoro dimakamkan di Makassar bukan tanpa sebab. Ada benang merah darah yang sudah lama tercurah: garis Nyai Ageng Tegalrejo, nenek Diponegoro sebagai istri HB I, punya jalur ipar Raja Tallo bernama Karaeng Kasuarang.
“Jadi Pangeran Diponegoro dimakamkan di Tanah Makassar istilah bangsawan-bangsawan Makassar, beliau pulang kampung karena garis leluhurnya juga ada di Makassar,” ujar Ketua Trah, Saiful Diponegoro.
Keraton Yogyakarta sendiri menghormati keputusan itu. Sri Sultan HB X pernah bilang singkat, “Kalau saya, nggak usah.”
Hingga kini, setiap HUT Kodam IV/Diponegoro, Pangdam ziarah ke Makassar.
“Bagi prajurit Diponegoro, nama besar tersebut bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi pengingat untuk menjaga kehormatan, keteguhan, dan semangat pengabdian,” ujar Pangdam Mayjen Achiruddin pada ziarah September 2026 lalu.
Di Tegalrejo ia lahir sebagai pangeran keraton, di Selarong ia jadi Ratu Adil, di Makassar ia jadi orang Jawa yang mewakafkan diri jadi orang Bugis-Makassar. ***
