Syekh Yusuf Al-Makassari, Ulama yang Dimakamkan Lima Kali

3 Min Read
Poster Syekh Yusuf Al-Makassari yang banyak dipajang di rumah-rumah penduduk Sulselbar (Foto: Arrahim.id)

Mabur.co – Di Gowa, ada gelar yang lebih tinggi dari Karaeng. Tuanta Salamaka, Tuan Kita yang Selamat dan Diberkahi. Gelar itu milik Muhammad Yusuf, lahir 3 Juli 1626.

“Salah satunya adalah Syeikh Yusuf Al-Makassari. Dirinya adalah seorang ulama yang menjadi penasihat Kerajaan Gowa di masa Sultan Alauddin sampai Sultan Hasanuddin,” tulis Brilio.net.

Secara darah, ia bangsawan. Lontara mencatat ayahnya Gallarang Moncongloe, saudara seibu Raja Gowa Sultan Alauddin, dan ibunya Aminah binti Dampang Ko’mara keturunan bangsawan Tallo.

Menuntut Ilmu 20 Tahun

Ia tumbuh di istana, tapi ditolak lamaran ke putri Sultan karena status “hamba tetap hamba”. Kekecewaan itu yang membuatnya pergi menuntut ilmu 20 tahun ke Banten, Aceh, Yaman, Damaskus, Istanbul, sampai jadi mursyid Tarekat Khalwatiyah.

Hubungannya dengan Gowa bukan sekadar darah, tapi ideologi. Ketika Gowa kalah dalam Perjanjian Bongaya 1667, ia tidak tinggal diam.

“Ketika Kesultanan Gowa kalah perang, Syekh Yusuf pindah ke Banten dan kembali berjuang melawan Belanda bersama Sultan Ageng Tirtayasa,” tulis Amanmakmur.com.

Di Banten ia jadi mufti. Ketika Banten kalah 1682, ia ditangkap, dibuang ke Sri Lanka, lalu karena pengaruhnya terlalu besar, dibuang lebih jauh ke Afrika Selatan, ke Zandvliet, desa pertanian di muara Eerste Rivier.

Macassar di Afrika Selatan

Di sana, di tanah orang, ia justru jadi bapaknya Islam Afrika Selatan. Tempatnya kini bernama Macassar, distrik di Cape Town.

Pemerintah Afrika Selatan menganugerahinya Pahlawan Nasional, makamnya di Faure jadi situs suci Circle of Islam. Tapi jasadnya tak tenang.

“Syekh Yusuf dimakamkan di Cape Town, Afrika Selatan. Namun pada 1705, jenazah Syekh Yusuf dibawa ke Gowa dan dimakamkan kembali atas permintaan Sultan Abdul Jalil,” kata Ketua DPD La Nyalla dalam rilis ziarahnya.

Pemulangannya butuh negosiasi 6 tahun karena VOC takut semangat jihadnya hidup lagi. Jenazah diangkut lewat Sri Lanka, Banten, Sumenep, baru sampai Gowa 5 April 1705.

Karena itu, kata juru kunci Mujibur Rahman bin Abdul Jalil, “Makanya makam Syekh Yusuf itu diyakini di beberapa tempat. Ada di Banten, Sumenep Madura, Ceylon di Srilanka dan kampung Macassar di Afrika Selatan.”

Adanya makam lebih dari satu dikarenakan Syekh Yusuf semasa hidupnya memiliki banyak pengikut.

Karamahnya masih ada, seperti diceritakan Mujibur: “Waktu diasingkan kompeni, sedang dalam perjalanan ke Afrika Selatan. Kapalnya sulit sekali masuk ke Afsel karena ombak besar-besar. Pimpinan tentara Belanda lalu meminta Syekh Yusuf menghentikan ombak. Kalau ombak berhenti, maka semua orang Belanda di kapal itu akan masuk Islam.” Ombak pun tenang.

Di makamnya di Lakiung, Katangka, peziarah dulu bakar lilin merah dan kemenyan. Sekarang hanya bawa bunga.

“Saya sudah lama menjaga di sini, sudah turun temurun sejak leluhur saya dulu. Syekh Yusuf adalah wali buat masyarakat Sulsel,” ujar Mujibur.

Dari Gowa ia berangkat sebagai keponakan raja, pulang sebagai wali lima makam. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar