Situs Ratu Boko, Arsitektur Klasik Hunian Elit Kaum Bangsawan Jawa Kuno 1200 Tahun Silam

3 Min Read
Ancient stone temple gateway with central opening, flanked by two pyramidal pavilions and broad stone stairs under a blue sky.
Gapura Utama Situs Ratu Boko. (Foto: JH Kusmargana)

Mabur.co – Selama ini banyak yang mengira Situs Ratu Boko yang terletak di Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Sleman, merupakan sebuah kompleks candi. 

Padahal situs ini sebenarnya adalah kompleks permukiman elit tempat tinggal raja serta bangsawan kerajaan Mataram Kuno atau Medang di abad ke-8.

Sebagai kompleks permukiman elit, Situs Ratu Boko, dibangun dengan tata perencanaan bangunan yang jauh berbeda dari kompleks percandian yang ada di sekitarnya.

Salah satu yang paling menyolok adalah lokasinya yang berada di atas bukit dengan ketinggian sekitar 200 MDPL serta memiliki luas keseluruhan hingga mencapai 25 hektare.

Parit dan Benteng Sangat Kokoh

Tak hanya dilengkapi parit dan benteng keliling yang sangat kokoh, kompleks ini juga dilengkapi berbagai fasilitas megah sebagai syarat sebuah kawasan hunian mewah di masanya. 

Mulai dari pintu gerbang raksasa berupa gapura utama, bekas bangunan untuk upacara pembakaran, pringgitan, plaza atau alun-alun, tempat permukiman, pendapa, kolam pemandian atau keputren, gua untuk meditasi, hingga bekas candi bercorak Hindu dan Buddha.

Konservator Balai Pelestarian DIY, R. Wikanto Harimurti, mengatakan kompleks Situs Ratu Boko diperkirakan mengalami beberapa fase pemanfaatan dengan fungsi yang berbeda di setiap masanya.

Jejak paling awal keberadaan kompleks Situs Ratu Boko tercatat dalam Prasasti Abhaya Giriwihara yang berangka tahun 714 Saka atau 792 Masehi.

Prasasti tersebut menyebut keberadaan wihara di kawasan perbukitan yang dikaitkan dengan Rakai Panangkaran, salah satu penguasa Mataram Kuno.

Wihara di Atas Bukit

Nama Abhayagiri Wihara sendiri dapat dimaknai sebagai wihara di atas bukit yang aman dan bebas dari bahaya.

Menurut sejumlah sumber, dikutip mabur.co, Jumat (16/10/2026), Rakai Panangkaran sebagai penguasa Medang saat itu memutuskan mengundurkan diri sebagai raja dan memilih mencari ketenangan rohani di kawasan ini.

Baca Juga: Pemandian Kuno Berusia 1200 Tahun, Tak Pernah Kering Meskipun Puncak Musim Kemarau

Sebagai penganut Buddha, ia kemudian membangun tempat keagamaan. Terbukti dari adanya temuan arkeologis berupa arca Buddha, sisa stupa, hingga lempengan emas dan perak bertuliskan mantra Buddha.

Namun, fungsi kawasan ini kemudian mengalami perubahan. Pada masa berikutnya, kompleks Situs Ratu Boko kemudian berkembang menjadi tempat kediaman penguasa atau bangsawan yang menganut agama Hindu.

Salah satu tokoh yang dikaitkan dengan perubahan tersebut adalah Rakai Walaing Pu Kumbhayoni. Jejak peninggalan Hindu di kompleks ini terlihat dari keberadaan candi kecil dan temuan arca yang berkaitan dengan tradisi Hindu.

Jejak Peradaban yang Menakjubkan

Bila menelusuri seluruh kompleks kawasan ini, siapa pun pengunjung pasti akan takjub melihat jejak peradaban masa lalu yang pernah ada di tempat ini. 

Pemandangan Candi Prambanan berlatar Gunung Merapi di sisi utara, deretan Candi Kalasan dan Sambisari di sisi barat hingga indahnya perbukitan di sisi timur yang memanjang hingga ke selatan bisa disaksikan dari kompleks kuno ini.

Menapaki sejumlah reruntuhan sisa bangunan yang ada di tempat ini pengunjung juga akan bisa merasakan dan membayangkan betapa besar dan megahnya kompleks ini pada 1200 tahun silam. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar