Mabur.co – Sebanyak 75 film horor karya sineas dari berbagai daerah di Indonesia ditayangkan dalam Festival Film Horor (FFH) 2026 Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.
Festival ini tidak hanya menghadirkan film horor garapan sineas profesional, tetapi juga karya pelajar, komunitas lokal, hingga ibu-ibu PKK yang mengangkat persoalan sosial dan cerita rakyat.
Memasuki tahun kedua festival yang berlangsung pada 14–17 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Indigo: Jejak Mbah Sayem”.
Total sebanyak 290 karya dari sineas di 42 kota di Indonesia masuk dalam seleksi. Dan setelah melalui kurasi, 75 film akhirnya terpilih untuk diputar kepada masyarakat.
Dikutip dari Pacitanku.com, Minggu (18/10/2026) festival tersebut digagas oleh sineas Garin Nugroho bersama Ruang Film Pacitan dan Pemerintah Kabupaten Pacitan.
Selain menjadi ruang kreativitas bagi sineas lokal maupun nasional, festival ini juga diharapkan mampu mendorong perkembangan perfilman dan ekonomi kreatif di Pacitan.
Menghadirkan Lima Bioskop di Ruang Publik
Salah satu daya tarik festival tahun ini adalah program “5 Layar Jejak Mbah Sayem”. Melalui program ini, Ruang Film Pacitan menyulap lima ruang publik dan bangunan di sekitar Alun-alun Pacitan menjadi bioskop rakyat.
Lima lokasi tersebut terdiri atas Gedung Karya Dharma, Gedung Gasibu Swadaya, kawasan Tobong alun-alun, halaman Pasar Sawo, serta lapangan voli alun-alun.
Setiap lokasi ini sengaja dibuat dengan segmen tayangan berbeda. Gedung Karya Dharma menampilkan film kategori umum nasional dan film tamu, sedangkan Gedung Gasibu Swadaya menjadi tempat pemutaran karya pelajar SMA/SMK se-Jawa Timur.
Sementara itu, kawasan Tobong menampilkan karya kolaborasi ibu-ibu PKK, Karang Taruna, komunitas lokal, serta siswa SD dan SMP. Halaman Pasar Sawo menyediakan ruang bagi film kategori video bercerita untuk anak usia PAUD, TK, dan SD.
Konsep tersebut membuat festival tidak terbatas pada gedung pertunjukan formal. Melainkan masyarakat dapat menyaksikan film di ruang yang dekat dengan aktivitas sehari-hari mereka.
Angkat Judi Online hingga Legenda Desa
Film-film yang diputar pun tidak hanya mengandalkan cerita hantu atau kejutan menegangkan. Sejumlah karya justru menggunakan genre horor untuk menyampaikan persoalan sosial, kesehatan mental, hingga pelestarian cerita rakyat.
Film Seramnya Judi Online, misalnya, dibuat oleh Karang Taruna dan ibu-ibu PKK Kecamatan Tegalombo. Film ini mengangkat bahaya judi daring melalui pendekatan horor.
Sementara itu sejumlah film lain juga menyoroti sejumlah hal yang menarik mulai dari persoalan pencemaran lingkungan, persoalan perundungan, hingga kisah kerinduan anak rantau kepada ibunya yang telah meninggal.
Tak hanya sekadar diputar, dalam setiap sesi pemutaran panitia juga akan menggelar diskusi interaktif bersama pembuat film dan kurator.
Kegiatan ini memberi kesempatan kepada penonton untuk menyampaikan tanggapan sekaligus memahami proses kreatif di balik film.
Dimeriahkan Pasar Hantu dan Jejak Mbah Sayem
Guna menyemarakkan acara, festival ini juga menghadirkan sejumlah kegiatan di luar layar. Di antaranya Pasar Hantu yang memadukan suasana horor dengan produk lokal, mulai dari kuliner, kerajinan tembikar, batu akik, hingga cinderamata festival. Program ini digelar guna memberi ruang promosi bagi pelaku usaha lokal.
Ada pula Galeri Jejak Mbah Sayem yang dikembangkan bersama Museum Song Terus dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Galeri ini menampilkan arsip dan instalasi visual tentang sosok Mbah Sayem sebagai bagian dari identitas prasejarah dan budaya Pacitan.
Nama Mbah Sayem menjadi benang merah tema festival tahun ini. Melalui perpaduan film horor, cerita lokal, dan jejak sejarah, festival berupaya mempertemukan ekspresi sinema dengan kekayaan budaya daerah.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan kegiatan malam penganugerahan film terbaik dan pertunjukan musik. Festival ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya horor, tetapi juga memperluas ruang bagi sineas muda serta menggerakkan pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
