Redaksi mabur.co hari ini dan besok memuat tulisan tentang chattra dalam tradisi Buddha yang ditulis oleh M. Basyir Zubair, arkeolog dan pengamat budaya. Semoga bisa mencerahkan pembaca, sebagai bagian bukti arkeologis yang terlupakan dalam perdebatan mengenai Borobudur.
Perdebatan tentang pemasangan chattra di puncak stupa induk Borobudur sering kali terjebak dalam pertanyaan teknis dan prosedural: apakah kajian sudah memadai? Apakah prosedurnya benar? Apakah UNESCO sudah diberitahu?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting, tetapi mereka mengaburkan sebuah fakta fundamental yang jauh lebih mendasar: chattra tidak pernah menjadi bagian dari tradisi arsitektur Buddha di Indonesia.
Ini bukan sekadar soal Borobudur. Ini adalah pola yang konsisten di seluruh sejarah Buddha Indonesia, dari Batujaya di Jawa Barat yang dibangun pada abad ke-5, hingga Muaro Jambi di Sumatra yang berkembang hingga abad ke-13.
Tidak ada satu pun situs Buddha di Indonesia yang memiliki bukti arkeologis keberadaan chattra.
Artikel ini tidak membahas apa yang harus dilakukan jika pemerintah memutuskan memasang chattra. Artikel ini membahas sesuatu yang jauh lebih penting: mengapa argumen untuk memasang chattra bertentangan dengan bukti arkeologis dan sejarah arsitektur Buddha Indonesia itu sendiri.
BAGIAN PERTAMA: CHATTRA ADALAH FENOMENA GEOGRAFIS DAN KULTURAL YANG SPESIFIK
1. Asal-Usul Chattra: India dan Konteks Pemakaman Kerajaan
Chattra adalah elemen arsitektural yang berasal dari tradisi stupa paling awal di anak benua India.
Menurut Encyclopaedia Britannica, stupa pada bentuk paling karakteristiknya, seperti yang terlihat di Great Stupa Sanchi (abad ke-2 hingga ke-1 SM), terdiri dari alas melingkar yang menopang kubah besar (Anda), dari mana sebuah payung menonjok ke atas.
Chattra, atau parasol suci itu, adalah elemen yang tumbuh dari tradisi pemakaman bangsawan di India. Dalam konteks India kuno, payung adalah simbol kedaulatan dan perlindungan ilahi, sebuah atribut yang diberikan kepada raja dan bangsawan.
Ketika stupa berkembang sebagai monumen pemakaman untuk relik Buddha dan para biksu agung, chattra menjadi cara untuk menandai kesakralan dan status tinggi dari apa yang dikandung di dalamnya.
Chattra di India memiliki bukti arkeologis yang sangat kuat: fragmen chattra ditemukan di berbagai situs penggalian di India, relief pada gerbang stupa Sanchi menggambarkan chattra dengan detail yang jelas, tradisi pembuatan dan pemeliharaan chattra terus berlanjut tanpa terputus hingga hari ini.
Di Myanmar, tradisi chattra, yang di sana disebut “hti”, juga memiliki sejarah yang sangat kuat dan berkelanjutan.
Stupa-stupa besar di Bagan, seperti Shwezigon Pagoda (abad ke-11), dikembangkan dari pengaruh Theravada yang datang langsung dari Sri Lanka dan India.
Tradisi chattra di Myanmar terjaga karena kesinambungan praktik keagamaan yang tidak pernah benar-benar terputus sejak abad ke-11 hingga hari ini.
2. Mengapa Indonesia Berbeda: Jalur Transmisi Buddhism yang Berbeda
Kunci perbedaannya terletak pada jalur transmisi Buddhism itu sendiri. Menurut The Temple Trail, sebuah sumber riset perjalanan dan arsitektur Buddha yang berbasis akademis, transmisi Buddhism ke Indonesia, Malaysia, dan Vietnam adalah dari tradisi Mahayana dan Vajrayana yang masuk dari selatan Cina, bukan langsung dari India atau Sri Lanka yang memiliki tradisi chattra yang kuat.
Jalur transmisi ini sangat penting untuk memahami mengapa arsitektur Buddha di Indonesia berkembang dengan cara yang berbeda.
Buddhism yang masuk ke Indonesia sudah melewati proses adaptasi budaya yang panjang di Cina, dan kemudian beradaptasi lagi dengan konteks lokal Nusantara, termasuk tradisi megalitik Jawa, konsep gunung suci, dan kosmologi lokal.
Britannica sendiri mengakui keunikan transformasi ini secara eksplisit. Dalam entri “Stupa”, Britannica menulis bahwa konsepsi stupa India menyebar ke seluruh dunia Buddha dan berevolusi menjadi berbagai bentuk yang sangat berbeda, termasuk “the terraced temple of Borobudur in Java.”
Borobudur bukan sekadar “salinan stupa India yang dipindahkan ke Jawa”, ia adalah hasil dari proses adaptasi budaya yang panjang dan unik.
UNESCO sendiri mengakui keunikan ini secara resmi dalam kriteria penetapannya sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.
Borobudur didaftarkan di antara lain berdasarkan kriteria (i) sebagai “masterpiece of human creative genius” dan (ii) untuk menunjukkan “an important interchange of human values, over a span of time or within a cultural area of the world, on developments in architecture.”
Keunikan arsitekturnya yang memadukan konsep stupa Buddha dengan tradisi asli Jawa adalah bagian dari nilai yang diakui UNESCO itu sendiri.
Memasang chattra berarti menghilangkan keunikan itu dan memaksakan model India pada tradisi yang sudah berkembang mandiri selama berabad-abad.
BAGIAN KEDUA: POLA KONSISTEN DI SELURUH LANSKAP BUDDHA INDONESIA
Fakta bahwa chattra tidak ada di Borobudur bukanlah anomali. Ini adalah pola yang konsisten di seluruh sejarah arsitektur Buddha Indonesia, dari Jawa hingga Sumatra, dari abad ke-5 hingga ke-13.
1. Candi Mendut dan Pawon (Abad ke-9, Jawa Tengah)
Kedua candi ini dibangun oleh dinasti Sailendra dalam periode yang sama dengan Borobudur.
Menurut penelitian arkeologis, ketiga candi ini, Borobudur, Pawon, dan Mendut, terposisi dalam satu garis lurus, dan diduga memiliki hubungan ritual yang erat.
Mendut dimahkotai oleh stupa tanpa chattra. Pawon juga tidak memiliki chattra. Kedua candi ini telah dipugar dan diteliti secara ekstensif sejak masa kolonial hingga era modern, dan tidak ada satu pun bukti bahwa chattra pernah ada.
Jika chattra adalah elemen yang “wajib” atau “universal” dalam stupa Buddha, mengapa candi-candi yang dibangun oleh dinasti yang sama, dalam periode yang sama, di lokasi yang berdekatan, semuanya tidak memiliki chattra?
2. Candi Sewu dan Plaosan (Abad ke-9, Jawa Tengah)
Candi Sewu adalah kompleks Buddha terbesar kedua di Jawa setelah Borobudur. Kompleks ini terdiri dari satu candi induk dan 249 candi perwara (candi pendamping) yang tersusun dalam pola mandala. Banyak dari candi perwara ini dimahkotai oleh stupa-stupa kecil.
Tidak ada satu pun dari ratusan stupa di Sewu yang memiliki chattra.
Candi Plaosan, yang juga dibangun pada periode yang sama, menunjukkan pola yang identik. Kompleks ini memiliki puluhan stupa, dan tidak ada satu pun yang memiliki bukti chattra.
3. Muaro Jambi (Abad ke-7 hingga ke-13, Sumatra)
Menurut UNESCO World Heritage Centre, Muaro Jambi adalah kompleks candi Buddha terbesar di Asia Tenggara, yang mencakup area seluas lebih dari 3.000 hektar.
National Geographic menyebutnya sebagai “one of the largest Buddhist temple compounds in the world.”
Muaro Jambi berkembang sebagai pusat pembelajaran Buddha selama hampir enam abad. Atisha Dipamkara, salah satu guru Buddha paling berpengaruh dalam sejarah Tibet, pernah belajar di Muaro Jambi pada abad ke-11. Kompleks ini memiliki puluhan struktur candi dan stupa.
Struktur-strukturnya dibangun dari batu bata merah lokal dan, menurut Seasia.co yang mengutip hasil penelitian arkeologis, memiliki desain yang “simpler, flatter” dibandingkan candi-candi Jawa, sebuah gaya khas Sumatra yang mencerminkan adaptasi lokal dari konsep stupa Buddha.
Tidak ada bukti chattra di seluruh kompleks ini.
Muaro Jambi adalah bukti yang sangat kuat bahwa tradisi Buddha Indonesia berkembang dengan caranya sendiri, dan chattra bukan bagian dari tradisi itu.
4. Batujaya (Abad ke-5 hingga ke-6, Jawa Barat)
Menurut peneliti dari Universitas Indonesia yang pertama kali mengekskavasi situs ini pada tahun 1984, Batujaya adalah salah satu situs Buddha tertua di Jawa.
Strukturnya berbentuk mound dari batu bata dan plester, bentuk paling primitif dari stupa di Indonesia.
Tidak ada bukti chattra sama sekali.
Batujaya penting karena ia menunjukkan bahwa sejak awal masuknya Buddhism ke Jawa, bahkan sebelum Borobudur dibangun, tradisi arsitektur Buddha di Indonesia sudah berkembang tanpa chattra.
5. Kesimpulan dari Pola Ini
Pola yang konsisten ini bukan kebetulan. Ini mencerminkan bagaimana tradisi Buddha yang masuk ke Indonesia benar-benar mengembangkan bentuknya sendiri, yang berbeda dari tradisi chattra India.
Dari Batujaya yang tertua (abad ke-5) hingga Muaro Jambi yang berkembang hingga abad ke-13, tidak ada satu pun situs Buddha di Indonesia yang memiliki bukti keberadaan chattra asli.
Ini adalah rentang waktu lebih dari 800 tahun, sebuah periode yang cukup panjang untuk membuktikan bahwa ini adalah ciri khas tradisi, bukan sekadar kebetulan.
BAGIAN KETIGA: BUKTI SPESIFIK DARI PARA AHLI TENTANG BOROBUDUR
Fakta bahwa chattra tidak pernah ada di Borobudur diperkuat oleh sejumlah ahli dan peneliti secara langsung:
1. Harry Sofian, Peneliti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional)
Dalam wawancara dengan Tempo pada September 2024, Sofian secara eksplisit menyatakan bahwa pemasangan chattra harus dibatalkan, bukan sekadar ditunda.
Ia menegaskan bahwa “there has been no study or research that concludes that there is a chattra in the original building of Borobudur Temple.”
Sofian juga mengingatkan bahwa Van Erp sendiri melepas chattra yang ia pasang “because it was deemed wrong, not in accordance with the principle of restoration.“
2. Aditya Revianur, Dosen Arkeologi Universitas Gadjah Mada
Dalam wawancara dengan CNN Indonesia pada September 2024, Aditya mengungkap bahwa batu-batu yang digunakan Van Erp untuk merekonstruksi chattra ditemukan bukan di bagian teratas Borobudur, melainkan di bagian bawahnya.
Aditya menjelaskan bahwa batu-batu tersebut kemungkinan besar adalah bagian dari stupa-stupa kecil di sekitar Borobudur, bukan dari stupa induk itu sendiri.
Ia juga menunjuk pada relief Gandawyuha di Borobudur sendiri, yang menggambarkan stupa besar tanpa chattra, sebagai bukti visual bahwa Borobudur pada masa aslinya tidak memiliki chattra.
3. Niken Wirasanti, Dosen Arkeologi UGM
Dalam wawancara yang sama, Niken menegaskan bahwa ketika ia terlibat dalam proyek pemugaran Borobudur pada dekade 1980-an bersama mendiang Soekmono dan beberapa arkeolog senior, sudah ada kesepakatan bahwa chattra rekonstruksi Van Erp “harus segera dibuang.”
4. Agus Aris Munandar, Profesor Arkeologi Universitas Indonesia
Dalam wawancara dengan The Jakarta Post pada Januari 2018, Agus menyatakan bahwa jika chattra ingin dipasang kembali, “we need to revisit the idea” dan sebuah kajian baru yang menyeluruh sangat diperlukan.
Ia mengakui bahwa “The Dutch said that there were no records of any chattras ever being on the top of the stupa.“
5. Marsis Sutopo, Ketua IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia)
Dalam pernyataannya yang dikutip The Star pada September 2024, Marsis menegaskan bahwa “in-depth archaeological research still needs to be done to prove whether the temple used to have a chattra.”
Ia menambahkan bahwa Van Erp sendiri “later dismantled the structure over his doubt about whether the temple structure originally included a chattra, as archaeologists had not unearthed any stones indicating their original use in such a structure.”
6. Kajian BRIN 2023
Menurut preprint yang dipublikasikan di Research Square pada November 2025 oleh Badruzzaman et al., kajian BRIN tahun 2023 menemukan bahwa chattra rekonstruksi Van Erp hanya memiliki “authenticity of its material” sebesar 42 persen.
Ini adalah angka yang sangat rendah. Dalam konservasi warisan budaya, autentisitas material adalah salah satu kriteria paling penting.
Chattra dengan autentisitas hanya 42% pada dasarnya adalah rekonstruksi modern, bukan pemulihan elemen asli.
Kajian tersebut merumuskan tiga alternatif kebijakan, salah satunya adalah penundaan pemasangan.
Tetapi yang lebih penting dari rekomendasi kebijakan adalah temuan faktual: chattra Van Erp adalah spekulasi modern, bukan bagian dari Borobudur asli. (Bersambung)
M. Basyir Zubair, arkeolog dan pengamat budaya.



