Legenda Romo Mangunwijaya, Inspirasi Kerja Budaya Tak Kenal Henti

Pada 10 Februari, 27 tahun yang silam, budayawan YB Mangunwijaya atau yang dikenal pula secara akrab dengan panggilan Romo Mangun telah berpulang.

Kiprahnya sepanjang hidup adalah bentang makna, warisan intelektual yang tiada bandingannya. Karya-karyanya menjadi tonggak dan bernilai sejarah tak terkalahkan.

Beberapa karyanya yang legendaris misalnya novel Burung-burung Manyar dan Durga Umayi. Banyak penghargaan yang juga diterima dalam level dunia. Misalnya penghargaan karya sastra untuk level Asia Tenggara, yaitu Ramon Magsaysay Award pada 1996.

Kiprahnya luas tidak hanya sastra. Dunia arsitektur dan kerja sosial dijelajahi. Ia pun mengabdikan diri untuk pendampingan masyarakat di bantaran Kali Code, Yogyakarta.

Mengenang kiprah Romo Mangun yang inspiratif, mabur.co sengaja menghubungi sastrawan Tedi Kusyairi, penerima Anugerah Kebudayaan Bantul tiga tahun lalu.

Di mata Tedi Kusyairi, Romo Mangun adalah legenda bagi dunia budaya. Kerja sosialnya menjadi inspirasi untuk toleransi dan akulturasi budaya lokal.

Sastrawan Tedi Kusyairi penerima Anugerah Kebudayaan Bantul Foto Dokumentasi Pribadi

“Hal itu merupakan contoh, memberi teladan bagi masyarakat untuk meningkatkan kerja budaya, khususnya dalam hal spirit membangun masyarakat tanpa membedakan latar belakangnya,” papar Tedi Kusyairi, Selasa (10/2/2026).

Selama ini Tedi Kusyairi sendiri banyak berkiprah untuk pengembangan media alternatif melalui Suara Pemuda Jogja, bergiat di KNPI Bantul, dan menghidupkan komunitas film maupun aktivitas budaya lainnya melalui wadah Kelingan Garden Cafe di Bejen, Bantul.

Yang menarik dari Romo Mangun memang dalam hal pengorganisasian. Hal itu tidak mudah. Terbukti dengan berbasis komunitas di pinggiran Kali Code Romo Mangun berhasil memberikan penguatan intelektual atau apa pun yang dibutuhkan masyarakat setempat.

Bagi Tedi Kusyairi yang pernah mengenyam studi filsafat di Universitas Gadjah Mada, sudah sepantasnya jika kiprah Romo Mangun selalu ada yang melanjutkan.

“Kerja-kerja budaya dan sosial tidak boleh berhenti. Harus selalu tumbuh menjadi napas hidup yang berkesinambungan untuk setiap zaman, setiap era, baik Milenial, Gen Z, atau apa pun,” pungkas Tedi Kusyairi. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *