Meneruskan Perjuangan Romo Mangun di Era Modern

Mabur.co – Berbicara tentang dunia sastra, rasanya tak akan lengkap jika tidak membahas sosok Romo Mangun.

Ia adalah sosok yang begitu peduli terhadap kaum miskin, dan bagaimana agar mereka dapat hidup dengan layak seperti orang-orang lainnya yang lebih beruntung dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Romo Mangun memiliki nama asli Yusuf Bilyarta (Y.B.) Mangunwijaya. Ia lahir di Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah pada 6 Mei 1929, dan tutup usia pada 10 Februari 1999 lalu.

Semasa hidupnya, ia berperan aktif melahirkan berbagai karya sastra sebagai upaya membela orang kecil dan kelompok marginal.

Salah satu karya populer dari Romo Mangun yaitu novel berjudul Burung-burung Manyar, yang berhasil meraih penghargaan Ramon Magsaysay Award pada 1996 silam.

Bagi Romo Mangun, memproduksi karya sastra tidak hanya sekadar hiburan, namun lebih kepada literature engagement (pendekatan literasi) sebagai upaya membela rakyat kecil, dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini kerap terpinggirkan.

Selain itu, Romo Mangun juga kerap menggunakan karya-karya sastranya untuk menyuarakan aspirasi rakyat kecil (voice of the voiceless) yang juga tidak banyak terdengar oleh pemerintah ataupun penguasa pada saat itu.

Kini, memasuki 27 tahun wafatnya Romo Mangun pada 10 Februari 1999 silam, perjuangannya dalam membela rakyat kecil sejatinya patut diteruskan oleh generasi muda saat ini.

Apalagi kaum miskin di Indonesia tetap menjadi figur dominan yang menghiasi dinamika kehidupan bangsa sampai saat ini.

Malahan jumlahnya justru semakin banyak, seiring dengan banyaknya pengangguran maupun PHK di mana-mana.

Dilansir dari laman Kompas, berikut adalah beberapa aspek yang bisa dilakukan oleh generasi muda saat ini, untuk meneruskan perjuangan Romo Mangun dalam membela rakyat miskin dan kaum marginal.

Menerapkan Pendidikan Humanis

Romo Mangun memiliki concern terkait bagaimana menciptakan kultur pendidikan yang menyenangkan, membebaskan, dan berpusat pada anak, khususnya bagi mereka yang terpinggirkan, lalu membangun ekosistem pendidikan dasar yang berdaya saing bagi semua kalangan.

Sebagai generasi muda, hal ini tentunya bisa diteruskan dengan berbagai cara. Terutama dengan bergabung ke instansi pemerintahan, yang bertugas membuat kebijakan secara langsung.

Jika tidak, Anda bisa memanfaatkan berbagai platform yang ada saat ini, untuk menyuarakan suara rakyat kecil, dan membuat konten-konten yang dapat membantu meringankan beban hidup mereka.

Menerapkan Prinsip Arsitektur dan Tata Ruang yang Berorientasi pada Manusia

Romo Mangun juga selalu menerapkan prinsip arsitektur yang berorientasi pada manusia (human-centered), bukan hanya memikirkan tentang estetika serta profit.

Konsep ini melibatkan penataan lingkungan yang memadukan nilai lokal dengan kebutuhan dasar, contohnya adalah penataan Kali Code, yang berfokus pada revitalisasi pemukiman kumuh menjadi kawasan layak huni, aman, dan memiliki potensi wisata yang sanggup mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara.

Hal ini tentunya masih sangat relevan untuk diterapkan di kehidupan modern saat ini. Karena membangun sarana fasilitas baru tidak melulu harus berorientasi bisnis atau keuntungan. Namun lebih penting dari itu, bagaimana bangunan baru tersebut juga mampu “memanusiakan manusia” seutuhnya.

Pendampingan Kaum Marginal

Romo Mangun sering terjun langsung ke lapangan untuk mendengar dan mendampingi langsung kelompok miskin di wilayah kota maupun pedesaan yang terancam penggusuran atau ketidakadilan secara sosial.

DI zaman sekarang, menerapkan hal semacam ini sebenarnya “susah-susah gampang”, karena dengan banyaknya platform yang tersedia sekarang ini, terjun langsung ke rakyat miskin (blusukan) sangat mudah dilakukan, sekaligus bisa dijadikan konten yang menghasilkan cuan.

Hanya saja, kegiatan seperti ini juga cukup rentan terhadap multitafsir, yakni bagaimana masyarakat melihat kegiatan blusukan ini sebagai pencitraan, memanfaatkan rakyat miskin sebagai komoditas atau bahan konten, hingga kemungkinan mencari dukungan suara (dalam konteks pemilu/pilkada).

Sehingga melakukan aksi semacam ini haruslah hati-hati dan butuh persiapan yang sangat matang, serta tidak asal eksekusi saja.

Menggunakan Karya Sastra sebagai “Suara Rakyat”

Sebagai sastrawan, tentu saja Romo Mangun juga kerap menggunakan karya-karyanya sebagai perwakilan dari suara rakyat kecil, sebagai bagian dari kritik terhadap rezim pemerintahan orde baru, dan seterusnya.

Menerapkan hal semacam ini pastinya jauh lebih mudah di zaman yang serba canggih seperti sekarang. Tidak hanya melalui karya sastra, melalui konten yang bertebaran setiap hari pun, sejatinya generasi muda juga sudah mampu menjadi perwakilan rakyat kecil, untuk menyuarakan ketidakadilan yang masih saja terjadi sampai hari ini.

***

Bisa dibilang, Romo Mangun adalah “pahlawan” bagi rakyat kecil, karena kepeduliannya sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup mereka, bahkan sampai saat ini.

Dengan berbagai kemudahan yang tersedia saat ini, tentunya tidak akan sulit bagi generasi muda, untuk meneruskan setiap perjuangan Romo Mangun dalam membela rakyat kecil, yang akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari negeri ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *