Romo Mangun, Sosok Multi Talenta Banyak Mendapat Penghargaan

Mabur.co– Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun merupakan sosok legendaris yang banyak dikenal sebagai pejuang kaum marginal atau wong cilik.

Beberapa kiprahnya yang cukup dikenal masyarakat adalah mendirikan Rumah Warna-warni di Kali Code, Jogja, hingga menginisiasi Dinamika Edukasi Dasar (DED) di bidang pendidikan.

Romo Mangun lahir di Ambarawa pada 6 Mei 1929 silam. Namanya cukup tenar di masyarakat sebagai seorang rohaniwan dan arsitek. Dia cerdas, peduli, dan berani melawan demi kaum pinggiran. Berikut sepenggal kisahnya.

Yusuf Bilyarta dikenal sebagai sosok multi talenta. Setiap karyanya selalu mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari banyak pihak.

Selain menjadi biarawan Katolik, Romo Mangun panggilan akrabnya juga diapresiasi sebagai seorang arsitek, budayawan, novelis, serta pakar pendidikan.

Staf Bidang Diseminasi Yayasan Dinamika, Edukasi Dasar (DED), Augustinus Windu Aji, menuturkan, sisi humanisme dari seorang Romo Mangun, sosok yang apa adanya dan memberikan dirinya untuk kemanusiaan.

”Pilihannya menjadi pastor merupakan jalan yang diyakininya dapat memberikan balas jasa kepada rakyat yang sudah berjuang pada masa perjuangan. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, sangat menghargai keragaman dan kebhinekaan dan punya perhatian intens kepada rakyat kecil,” ujarnya saat diwawancarai Mabur.co via telepon, Selasa (10/2/2026).

Windu menuturkan, Romo Mangun, karya sastranya kental dengan nilai-nilai keluhuran bangsa Indonesia. Toponim yang akurat dan mengangkat adat-istiadat serta budaya Indonesia yang adiluhung.

“Ini dapat dilihat dalam novel trilogi Roro Mendut-Lusi Lindri-Gendhuk Duku, juga pada Burung-burung Manyar atau Burung-burung Rantau,” ujarnya.

Windu mengatakan, Romo Mangun seorang yang memiliki kepribadian mirip wong cilik (rakyat kecil) yang sangat terang benderang.

Ia juga mau membela warga bantaran Code yang terancam digusur, menyediakan sarana pendidikan, dan sekolah untuk anak-anak Code yang tidak dapat mengakses sekolah formal.

Berbela rasa pada rakyat Kedung Ombo yang tergusur pembangunan waduk, mengusahakan sumber air bersih untuk warga Grigak, dan masih banyak lagi karya-karyanya untuk membela mereka yang lemah dan tersingkir.

“Sekolah Eksperimental Mangunan yang dibukanya membebaskan uang sekolah bagi yang benar-benar tidak mampu. Bahkan alat tulisnya pun diberikan secara gratis,” katanya.

Windu menuturkan, karya arsitektur Romo Mangun yang dibuat memanfaatkan secara optimal bahan dan material lokal (kayu, bambu, batu), tidak mengeksploitasi lingkungan, cenderung bebas namun fungsional.

Romo Mangun juga sangat memperhatikan bahan-bahan bangunan yang terbuang dan dimanfaatkan menjadi bahan bangunan untuk rumah atau bangunan apa pun yang dirancang dan dibuatnya.

Tukang bagi Romo Mangun adalah mitra, bukan buruh, maka kepada mereka Romo Mangun dengan sukarela membagikan ilmu yang dimilikinya.

“Dalam sebuah seminar Romo Mangun menyebut karya arsitekturnya sebagai Wastu yang memuat guna sekaligus citra. Indah sekaligus fungsional.  Bagi Romo Mangun arsitektur harusnya bisa mengupayakan konsep rumah yang murah sehingga bisa terjangkau rakyat kecil,” katanya.

Windu menjelaskan pula, semasa hidupnya Romo Mangun sering dinilai sebagai pihak yang menentang kekuasaan dengan aksi-aksinya membela rakyat kecil. Namun  itu sejatinya justru dilakukannya untuk menunjukkan kepada penguasa bahwa masih banyak rakyat miskin yang masih butuh perhatian.

“Pada masa Orde Baru relasinya dengan pejabat pemerintah cukup baik dan luas. Romo Mangun dekat dengan Mendikbud Wardiman Joyonegoro (sampai datang ke Sekolah Mangunan), akrab dengan Presiden Habibie (teman menuntut ilmu di Jerman), serta petinggi-petinggi negeri ini lainnya,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *