Peristiwa yang dikenal sebagai Perang Bubat atau Pasunda Bubat merupakan salah satu narasi yang paling kontroversial dalam historiografi Nusantara.
Tulisan ini bertujuan menelusuri peristiwa tersebut berdasarkan sumber-sumber primer yang tersedia dengan pendekatan objektif.
Penting dicatat sejak awal, kita tidak memiliki prasasti atau inskripsi sezaman yang mencatat peristiwa ini. Semua sumber yang tersedia adalah naskah sastra atau kronik yang ditulis puluhan hingga ratusan tahun setelah peristiwa diduga terjadi.
Jika mengacu ke kronik Jawa, abad ke-15, Pararaton menyebut peristiwa Pasunda Bubat dan mencatat nama-nama yang gugur.
Teks ini juga menyebutkan bahwa setelah peristiwa tersebut, Gajah Mada diberhentikan sementara selama 11 bulan.
Pararaton merupakan sumber yang relatif kredibel karena beberapa peristiwa yang dicatatnya telah terkonfirmasi oleh sumber-sumber lain.
Pararaton sendiri adalah kronik sejarah Majapahit yang diperkirakan ditulis pada akhir abad ke-15, sekitar 100-130 tahun setelah peristiwa yang diduga terjadi tahun 1357.
Naskah ini pertama kali dipublikasikan oleh J.L.A. Brandes tahun 1896, dengan edisi lengkap terbit tahun 1920 berjudul Pararaton: Ken Arok Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit.
Sumber lain adalah Carita Parahyangan. Carita Parahyangan sendiri adalah naskah Sunda kuno yang ditulis sekitar akhir abad ke-16, terdaftar sebagai Kropak 406 di Perpustakaan Nasional Jakarta.
Naskah ini terdiri dari 47 lembar daun lontar berukuran 21 x 3 cm, dengan 4 baris tulisan per lembar menggunakan aksara Sunda. Peneliti utama: K.F. Holle (1882), C.M. Pleyte (1914), Poerbatjaraka (1919-21), dan J. Noorduyn (1962, 1966).
J. Noorduyn dari KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde) mempublikasikan penelitian penting tentang naskah ini pada 1962 dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, dengan judul Het begingedeelte van de Carita Parahyangan. Noorduyn berhasil mengembalikan urutan folio naskah yang sebelumnya kacau.
Yang terpenting adalah Carita Parahyangan hanya memberikan informasi sangat singkat tentang peristiwa tersebut.
Naskah menyebutkan seorang putri raja bernama Tohaan dan kalimat singkat ‘pan prangrang di Majapahit’ yang berarti ‘orang berperang di Majapahit.’
Singkatnya penyebutan ini sangat kontras dengan narasi dramatis yang muncul dalam sumber-sumber kemudian.
Ada pula rujukan Kidung Sunda. Kidung Sunda adalah naskah yang ditemukan di Bali, ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan (bukan bahasa Sunda), abad ke-16.
C.C. Berg menerbitkan teks dan terjemahannya pada 1927. Naskah ini diperkirakan ditulis setelah tahun 1540 di Bali.
Kidung Sunda memberikan narasi yang jauh lebih dramatis dan detail dibandingkan Pararaton atau Carita Parahyangan.
Teks ini menggambarkan Gajah Mada menuntut putri Sunda diserahkan sebagai upeti, bunuh diri Putri Dyah Pitaloka, dan kematian Raja Hayam Wuruk.
Yang jadi masalah, detail tentang kematian Hayam Wuruk bertentangan dengan fakta sejarah, Hayam Wuruk tercatat hidup hingga tahun 1389.
Lebih dari 30 tahun setelah peristiwa Bubat. Ini menunjukkan Kidung Sunda lebih merupakan karya sastra dengan unsur fiksi, bukan catatan historis murni.
Tak ketinggalan adanya rujukan Nagarakretagama. Nagarakretagama sendiri adalah karya Mpu Prapanca berupa kakawin atau puisi epik, yang ditulis pada 1365, hanya 8 tahun setelah peristiwa Bubat diduga terjadi.
Sebagai pujasastra yang ditulis oleh pujangga istana Majapahit, ini adalah sumber sezaman yang paling kredibel tentang masa pemerintahan Hayam Wuruk.
Fakta krusial: Nagarakretagama sama sekali tidak menyebut peristiwa Bubat secara eksplisit.
Kitab ini hanya menyebutkan bahwa di lapangan Bubat pernah terjadi ‘perang tanding, perang pukul, dan adu keris’. Deskripsi yang sangat umum dan bisa merujuk pada berbagai jenis pertarungan atau kompetisi, bukan peristiwa spesifik tahun 1357.
Ketiadaan Bukti Arkeologis
Tidak ada satu pun prasasti, baik dari Sunda maupun Majapahit, yang menyebut peristiwa Bubat.
Dalam tradisi kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara, peristiwa-peristiwa penting, terutama yang melibatkan keluarga kerajaan atau konflik militer, biasanya diabadikan dalam prasasti.
Ketiadaan prasasti ini menimbulkan pertanyaan tentang skala dan signifikansi historis peristiwa tersebut. Ini bukan berarti peristiwa tersebut tidak terjadi, tetapi mengindikasikan bahwa jika memang terjadi, mungkin tidak dengan skala dramatis sebagaimana digambarkan dalam narasi sastra.
Analisis Kritis Evolusi Narasi
Pola yang jelas terlihat adalah evolusi dari sumber sederhana menuju narasi yang semakin dramatis:
- Nagarakretagama (1365, 8 tahun setelah): tidak menyebut peristiwa spesifik, hanya menyebut lapangan Bubat sebagai tempat pertandingan umum.
- Pararaton (akhir abad ke-15, ~100 tahun setelah): menyebut ‘Pasunda Bubat’ dengan detail terbatas, mencatat nama-nama yang gugur.
- Carita Parahyangan (akhir abad ke-16, ~200 tahun setelah): hanya menyebut sangat singkat ‘orang berperang di Majapahit.’
- Kidung Sunda (abad ke-16, ~180 tahun setelah): narasi dramatis lengkap dengan dialog, motif, bunuh diri, dan detail yang bertentangan dengan fakta sejarah.
- Pola ini konsisten dengan transformasi peristiwa historis menjadi legenda atau epos sastra, di mana setiap penceritaan ulang menambahkan lapisan baru detail dramatik.
Berdasarkan prinsip kritik sumber sejarah, Nagarakretagama memiliki kredibilitas tertinggi karena ditulis sezaman oleh pujangga istana yang memiliki akses langsung ke informasi kerajaan.
Ketiadaan catatan eksplisit tentang peristiwa Bubat dalam naskah ini sangat signifikan. Pararaton memiliki kredibilitas menengah sebagai kronik yang ditulis sekitar 100 tahun setelah peristiwa, dengan beberapa informasi yang dapat dikonfirmasi oleh sumber lain.
Carita Parahyangan, meskipun dari perspektif Sunda, justru sangat singkat dalam menyebut peristiwa ini, bertentangan dengan ekspektasi jika ini benar-benar peristiwa traumatis besar.
Kidung Sunda memiliki kredibilitas historis terendah karena berisi detail yang bertentangan dengan fakta sejarah dan lebih cocok dikategorikan sebagai karya sastra fiksi.
Berdasarkan analisis bukti sumber-sumber yang tersedia, dapat disimpulkan:
Pertama, kemungkinan memang terjadi suatu insiden di Bubat yang melibatkan rombongan dari Sunda dan pihak Majapahit. Sebagaimana tercatat dalam Pararaton dan Carita Parahyangan. Namun, skala dan detail peristiwa tersebut tidak dapat dipastikan.
Kedua, ketiadaan catatan dalam Nagarakretagama (sumber sezaman paling kredibel) dan ketiadaan prasasti mengindikasikan bahwa jika insiden tersebut terjadi, kemungkinan skalanya tidak sebesar yang digambarkan dalam narasi sastra kemudian.
Ketiga, narasi dramatis tentang ratusan korban, armada besar, dan bunuh diri massal yang muncul dalam Kidung Sunda kemungkinan merupakan elaborasi sastrawi yang berkembang satu atau dua abad setelah peristiwa.
Keempat, peristiwa ini tidak dapat dikategorikan sebagai ‘genosida.’ Bahkan dalam narasi paling dramatis sekalipun, ini adalah konflik terbatas yang melibatkan rombongan kerajaan, bukan upaya sistematis untuk memusnahkan suatu kelompok etnis.
Kelima, penelitian akademik modern, seperti yang diterbitkan dalam Jurnal Patanjala (2018) oleh Yeni Mulyani Supriatin, menyimpulkan bahwa ‘peristiwa Bubat diresepsi setelah dua abad berlalu, yaitu pada abad ke-16 dan peristiwa tersebut diresepsi ulang pada abad ke-20-an.’ Ini mengindikasikan bahwa narasi Perang Bubat sebagaimana kita kenal sekarang lebih merupakan konstruksi sastra dan budaya daripada catatan sejarah murni.
Sebagai penutup, penting untuk membedakan antara apa yang dapat kita ketahui dengan pasti dari sumber-sumber yang ada, dan apa yang merupakan spekulasi atau elaborasi kemudian.
Pendekatan kritis terhadap sumber sejarah mengharuskan kita untuk mengakui keterbatasan pengetahuan kita, sambil tetap menghargai nilai budaya dan sastra dari narasi-narasi yang telah berkembang. ***
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Primer:
Brandes, J.L.A. (1896). Pararaton (eerste uitgave). Batavia.
Brandes, J.L.A. (1920). Pararaton: Ken Arok Het Boek der Koningen van Tumapel en van Majapahit.
Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Vol. LXII.
Berg, C.C. (1927). Kidung Sunda: Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
Noorduyn, J. (1962). ‘Het begingedeelte van de Carita Parahyangan.’ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde, Vol. 118, No. 4, hlm. 405-432.
Noorduyn, J. (1966). ‘Aanvullende gegevens betreffende de Carita Parahyangan.’ Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.
Atja dan Saleh Danasasmita. (1981). Carita Parahyangan: Transkripsi, Terjemahan dan Catatan. Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.
Prapanca, Mpu. (1365). Nagarakretagama.
Publikasi Akademik Modern:
Supriatin, Yeni Mulyani. (2018). ‘Perang Bubat, Representasi Sejarah Abad ke-14 dan Resepsi Sastranya.’ Patanjala:
Jurnal Penelitian Sejarah dan Budaya, Vol. 10, No. 1, Maret 2018, hlm. 59-76.
Hernawan, Wawan. (2011). ‘Perang Bubat dalam Literatur Majapahit.’ Wawasan, Vol. 34, No. 1, 2011.
Hidayat, Sarip. (2015). ‘Pandangan Dunia Orang Sunda dalam Tiga Novel Indonesia tentang Perang Bubat.’
Metasastra: Jurnal Penelitian Sastra, hlm. 105-120.
Sondarika. (2024). ‘Dampak Perang Bubat Terhadap Identitas Dan Kebudayaan Masyarakat Sunda.’ Jurnal Artefak, Vol. 11, No. 2, September 2024.
Catatan: Daftar pustaka ini hanya mencantumkan sumber-sumber yang dapat diverifikasi keberadaannya melalui publikasi akademik atau arsip perpustakaan.
Yogyakarta, 10 Februari 2026


