Mabur.co– Gunungkidul, sebuah kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan termasuk pantai yang eksotis dan gua-gua yang memesona.
Namun, di balik keindahannya, Gunungkidul juga menyimpan legenda-legenda mistis yang menakutkan, salah satunya adalah fenomena Pulung Gantung.
Masyarakat Gunungkidul menganggap fenomena Pulung Gantung sebagai pertanda kematian seseorang. Fenomena ini digambarkan dengan adanya bola api dengan cahaya kebiruan yang melayang di langit pada malam hari dan jatuh di suatu tempat, yang dianggap sebagai penyebab fenomena ini.
Menurut cerita, tempat bola api jatuh adalah tempat seseorang akan melakukan gantung diri.
Melansir dari BBC, legenda Pulung Gantung telah ada sejak lama di tengah masyarakat Gunungkidul. Tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul yang sering dikaitkan dengan kemunculan Pulung Gantung membuat masyarakat setempat percaya bahwa Pulung Gantung adalah makhluk halus atau roh jahat yang datang untuk menjemput nyawa seseorang.
Kata “Pulung” berasal dari bahasa Jawa yang bermakna sebuah wahyu, isyarat atau anugerah. Sementara kata “Gantung” berarti bunuh diri dengan cara menggantung diri.
Sehingga Pulung Gantung dapat diartikan sebagai isyarat bagi seseorang untuk melakukan perilaku bunuh diri dengan cara gantung diri.
Pulung Gantung juga diyakini dapat menular kepada orang lain. Arah yang dituju oleh orang yang melakukan gantung diri menjadi isyarat peristiwa berikutnya.
Untuk menghentikan hal tersebut, salah satu cara yang sering dilakukan adalah dengan menggali tanah tepat di bawah lokasi tergantungnya jenazah.
Dengan menggali tanah, masyarakat percaya bahwa Pulung Gantung dapat dihentikan peredarannya.
Jenazah seseorang yang melakukan gantung diri tidak diperbolehkan untuk dimandikan, dikafani, dan disalatkan.
Hal ini disebabkan oleh keyakinan masyarakat bahwa energi negatif yang ada pada jenazah tersebut dapat menular kepada orang lain jika mereka memandikan atau mensalatkannya.
Mitos Pulung Gantung konon bermula dari orang-orang Kerajaan Majapahit yang melarikan diri dari Kesultanan Demak pada abad ke-15.
Raja Majapahit Brawijaya V melarikan diri ke Gunungkidul bersama pengikutnya pada saat itu. Brawijaya V dianggap moksa, yang dalam agama Hindu berarti keluar dari ikatan duniawi (meninggal).
Brawijaya V meninggalkan pengikutnya yang tidak memiliki kesaktian, mereka frustasi dan memutuskan untuk bunuh diri.
Tuhan menolak roh pasukan Brawijaya V yang bunuh diri dan mengubahnya menjadi Pulung Gantung, yang terus mencari korban lain untuk menjadi seperti mereka.
Kendati demikian, ada banyak versi terkait meninggalnya Raja Brawijaya V. Ada juga versi yang mengatakan bahwa Raja Majapahit itu moksa di Gunung Lawu.
Banyak faktor yang diduga menjadi penyebab tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul. Beberapa di antaranya adalah:
1. Faktor Ekonomi
Keterbatasan ekonomi dan kemiskinan menjadi salah satu alasan utama. Banyak warga yang merasa putus asa karena sulitnya mencari nafkah.
2. Masalah Kesehatan Mental
Depresi dan gangguan mental lainnya sering tidak terdeteksi atau tidak ditangani dengan baik di masyarakat pedesaan.
3. Pengaruh Budaya dan Mitos
Kepercayaan terhadap mitos seperti Pulung Gantung dapat memperkuat rasa takut dan keputusasaan di kalangan masyarakat.
Upaya Pencegahan
Pemerintah daerah bersama dengan berbagai lembaga sosial dan kesehatan telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka bunuh diri di Gunungkidul. Beberapa langkah yang diambil antara lain:
1. Peningkatan akses layanan kesehatan mental, dengan menyediakan layanan konseling dan terapi bagi masyarakat yang membutuhkan.
2. Pemberdayaan ekonomi dengan mengadakan pelatihan keterampilan dan pemberian modal usaha bagi masyarakat kurang mampu.
Edukasi dan kampanye anti bunuh diri guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental dan bahaya bunuh diri.
Pulung Gantung masih menjadi misteri yang paling sulit untuk dijelaskan secara akurat. Namun, angka bunuh diri yang tinggi di Gunungkidul menunjukkan bahwa hal ini tidak boleh dianggap remeh. Mengatasi masalah ini dari perspektif ekonomi, kesehatan mental, dan edukasi masyarakat membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Dengan kerja sama antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat, diharapkan angka bunuh diri di Gunungkidul dapat terus menurun, sehingga mitos Pulung Gantung perlahan-lahan dapat tergantikan oleh harapan dan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat setempat. ***



