Mabur.co – Hari ini tepat 271 tahun silam, tepatnya pada 13 Februari 1755, salah satu peristiwa penting dalam sejarah Jawa terjadi, yakni adanya Perjanjian Giyanti terjadi.
Perjanjian ini menandai babak sejarah Kerajaan Mataram Islam yang secara resmi terbagi menjadi dua kerajaan baru, yakni Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Lalu siapa sebenarnya sosok yang paling berperan dalam memecah belah, kerajaan terbesar sekaligus paling berpengaruh, di pulau Jawa itu?
Sosok kunci itu tak lain adalah seorang pejabat kolonial Belanda, bernama Nicolaas Hartingh. Ia merupakan petinggi VOC dengan jabatan Gubernur Pantai Timur Laut Jawa.
Dengan kemampuan negosiasi yang ulung, Hartingh mampu memanfaatkan konflik internal yang terjadi di tubuh lingkungan kerajaan, untuk memastikan kepentingan penjajah Belanda tetap bercokol di Pulau Jawa.
Dikutip dari Digitale Bibliotheek voor de Nederlandse Letteren, Nicolaas Hartingh lahir sekitar tahun 1718 di Amsterdam Belanda. Ia bergabung dengan VOC pada usia muda.
Sekitar tahun 1734, ia sudah berada di Tegal. Ia lalu dikirim ke Kartasura untuk pelatihan sebagai penerjemah dengan mempelajari bahasa Jawa.
Setelah bekerja di Semarang serta Surabaya, Hartingh lalu diangkat sebagai sekretaris, kemudian menjadi pedagang junior pada 1748.
Hanya dalam waktu 2 tahun ia naik pangkat menjadi pedagang senior, serta komisaris untuk urusan penduduk asli.
Sosok Hartingh dikenal sangat cakap berbahasa Jawa. Serta mampu bergaul sangat baik dengan orang-orang Jawa.
Selain dapat memahami sifat dan kebiasaan orang Jawa, Hartingh juga dikenal kerap membuat kebijakan yang bijaksana sehingga banyak disukai para petinggi di lingkungan keraton Mataram.
Pada 7 Maret 1754, Hartingh resmi diangkat menjadi Gubernur Pantai Timur Laut Jawa yang berkedudukan di Semarang yakni salah satu pusat kekuasaan VOC di Pulau Jawa.
Sebagai administrator yang cakap serta diplomat ulung, Hartingh diketahui mampu menjalin negosiasi dengan para elite petinggi kerajaan.
Dengan cerdik, Hartingh juga melihat konflik internal yang terjadi di tubuh Kesultanan Mataram, sebagai peluang untuk memperkuat pengaruh VOC.
Melalui diplomasi, tekanan politik, dan keberanian serta kecerdikannya, Hartingh akhirnya berhasil memediasi kesepakatan yang membagi Mataram menjadi dua kerajaan yang lebih kecil melalui Perjanjian Giyanti.
Tanpa menunjukkan kekuatan militer, ia diketahui berani mempertaruhkan nyawanya dengan memasuki kamp musuh di Grobogan.
Perjanjian Giyanti yang diinisiasi oleh Hartingh tidak hanya mengakhiri perang saudara di Mataram, tetapi juga memperkuat dominasi VOC di Jawa selama beberapa dekade berikutnya.
Dengan adanya perjanjian ini keberadaan Kerajaaan Mataram Islam yang perkasa akhirnya runtuh. Dan terpecah menjadi dua kerajaan, sehingga secara politik lebih mudah dikendalikan oleh VOC.
Nicolaas Hartingh meninggal pada 1779, dan dimakamkan di salah satu gereja di Batavia atau Jakarta. Namun jejak dan perannya telah meninggalkan dampak jangka panjang dalam sejarah Indonesia.
Hingga kini, Perjanjian Giyanti dikenang sebagai peristiwa yang membentuk peta politik Jawa modern. ***



