Meneruskan Perjuangan Buya Hamka di Era Modern

Mabur.co – Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang kerap disapa Buya Hamka, adalah seorang ulama, filsuf, dan salah satu sastrawan kondang yang pernah dimiliki Indonesia.

Ia juga pernah berkarier sebagai wartawan, penulis, serta guru.

Buya lahir di Sungai Batang, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908, dan wafat pada 24 Juli 1981.

Semasa hidupnya, ia turut membesarkan organisasi Muhammadiyah hingga akhir hayatnya, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan masih banyak lagi.

Lewat perjuangannya yang tak kenal lelah untuk membangun peradaban Islam, mendidik umat, sekaligus mempertahankan kedaulatan bangsa Indonesia di masa kolonial serta orde baru, Buya Hamka tak henti-hentinya menyebarkan dakwah secara moderat kepada umat Islam dalam berbagai bentuk, salah satunya melalui sastra.

Salah satu karya Buya yang sangat populer, bahkan hingga saat ini, yaitu dua novel roman yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938) serta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1938).

Saking populer dan inspiratifnya kedua novel karya Buya Hamka tersebut, dua production house ternama macam MD Pictures dan Soraya Intercine Films pun tertarik menjadikan dua novel ini untuk diangkat dalam versi layar lebar.

Film Di Bawah Lindungan Ka’bah diproduksi oleh MD Pictures pada tahun 2011 lalu, menampilkan artis-artis ternama pada saat itu macam Herjunot Ali, Laudya Cynthia Bella, Niken Anjani, Tarra Budiman, dan Yenny Rachman.

Sedangkan film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck digarap oleh Soraya Intercine Films yang rilis pada tahun 2013.

Film ini juga dibintangi oleh artis papan atas lainnya seperti Pevita Pearce, Herjunot Ali, Reza Rahadian, Randy Nidji, Arzetti, Bilbina, dan Kevin Andrean.

Poster film Di Bawah Lindungan Kabah kiri dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck kanan yang disadur dari novel karya Buya Hamka Foto Istimewa

Meskipun telah berpulang hampir 45 tahun silam, namun apa yang telah diperjuangkan oleh seorang Buya Hamka, terutama dalam nilai-nilai keislaman, tetap mampu menjadi warisan yang sangat baik, untuk bisa diteruskan ke berbagai generasi penerusnya, termasuk hingga saat ini.

Berikut adalah poin-poin penting perjuangan Buya Hamka, yang masih bisa diteruskan di zaman sekarang, seperti dilansir dari blog Universitas Ahmad Dahlan.

1. Aktualisasi “Tasawuf Modern”

Bagi seorang Buya Hamka, tasawuf bukan hanya berdiam diri, namun lebih kepada melindungi diri dari materialisme duniawi, tapi tetap mampu mengikuti kemajuan zaman.

Contohnya dengan tidak membuat kegaduhan di media sosial melalui postingan-postingan yang dapat memicu kontroversi.

Sebaliknya media sosial bisa digunakan untuk mengkampanyekan suatu kebaikan, yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

2. Produktif Menuangkan Ide Melalui Tulisan

Buya Hamka juga dikenal sangat produktif menghasilkan ratusan karya, salah satunya Tafsir Al-Azhar.

Di zaman yang serba canggih seperti sekarang, anak-anak muda bisa memanfaatkan berbagai platform yang ada seperti media sosial, blog, buku, dan lain-lain, untuk dapat menyebarkan pemikiran Islam yang wasathiyah (moderat) tapi tetap humanis, dan masih banyak lagi.

3. Pendidikan Islam sebagai Pembentuk Karakter Individu

Buya Hamka merupakan salah satu sosok sentral yang mendorong pendidikan agama untuk ditetapkan sebagai kurikulum pendidikan berkarakter, dan masih terus bertahan sampai saat ini.

Hal ini tentunya merupakan warisan yang sangat baik, karena menjadikan agama (dalam hal ini agama Islam) sebagai pembentuk karakter seorang individu, agar bisa bermanfaat bagi bangsa dan negara secara umum.

4. Menerapkan Prinsip Qonaah

Buya juga sering mengajarkan konsep qonaah, yang artinya selalu mensyukuri apapun keadaan saat ini, tanpa perlu mengeluh.

Sehingga tidak perlu ada paksaan sedikit pun untuk selalu mencari lebih dan lebih. Padahal apa yang dimiliki saat ini dirasa sudah lebih dari cukup.

Dalam konteks kehidupan hari ini, tentunya konsep ini masih sangat relevan.

Terlebih manusia di zaman sekarang selalu saja merasa kurang terhadap sesuatu yang sudah dimiliki, lebih-lebih tidak mensyukurinya.

Melalui konsep qonaah yakni “selalu merasa cukup”, manusia bisa menjalani hidup dengan lebih kalem, alias tidak perlu mengejar segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Karena pada akhirnya juga akan tetap merasa kurang. Terlebih semuanya hanyalah bersifat materialistik dan duniawi semata.

***

Meneruskan perjuangan Buya Hamka sebenarnya bisa dibilang “susah-susah gampang”, lantaran perbedaan zaman dan teknologi yang sangat mencolok.

Namun, melalui langkah-langkah kecil dan konsisten yang dimulai dari diri sendiri, niscaya warisan emas dari Buya Hamka bukanlah sesuatu yang sulit untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *