Saudaraku, kehidupan tanpa rasa berdosa —rasa bersalah dan rasa malu— adalah kemabukan yang mengancam kewarasan.
Saat nurani tumpul, kuasa mudah menjelma angkara. Karena itu, keselamatan bersama menuntut kita —terutama elite negeri— kembali ke jalan cahaya.
Puasa adalah panggilan Cinta untuk pulang. Ia mengosongkan diri agar jiwa diisi cahaya Ilahi, mengingatkan kefanaan, dan menajamkan kesadaran bahwa tak ada pengawasan setajam nurani yang merasa dilihat Yang Maha Melihat.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membangun benteng batin. Di ruang sunyi tanpa saksi, hanya rasa salah dan malu yang mencegah pengkhianatan.
Dari sanalah karakter ditempa: kejujuran dijaga dan amanah dipelihara.
Bagi pemimpin, puasa adalah sekolah integritas. Ia mendidik sikap ugahari, tahu batas dan mengenal kata cukup.
Menahan yang halal di siang hari menjadi latihan membatasi syahwat kuasa. Jabatan bukan hak istimewa, melainkan titipan yang harus dipertanggungjawabkan.
Puasa juga melatih empati. Lapar dan dahaga mengingatkan pada derita rakyat, menumbuhkan kepekaan pada ketidakadilan, tak memperlakukan derita rakyat hanya dengan takaran statistika.
Ia menanamkan disiplin dan keberanian moral: berani mengakui salah, meminta maaf, dan memperbaiki kebijakan yang keliru; tidak silau pujian, tidak tergoda keserakahan, dan tidak dikuasai ambisi.
Pemimpin yang ditempa puasa memahami bahwa kekuasaan adalah sarana melayani. Ia menjaga lisan dari dusta, tangan dari korupsi, dan keputusan dari keberpihakan yang culas.
Tanpa rasa salah dan malu, kuasa hanya melahirkan kesombongan dan kehilangan kemanusiaan.
Di ujung perjalanan, yang tersisa bukan takhta atau harta, melainkan jejak kebaikan dan kehormatan —yang dapat dijaga bukan oleh mereka yang merasa tahu, melainkan mereka yang tahu merasa di hadapan sesama dan Sang Pencipta. ***



