Sultan Agung Hanyakra Kusuma terlahir dari seorang putri Pajang, bernama Dyah Banowati atau Ratu Mas Hadi.
Ayahnya bernama Prabu Panembahan Hanyakrawati. Lahir pada hari Jumat Legi, 14 November 1593 M/ 1514 S, tahun Jimakhir.
Dilihat dari silsilah jalur ibu, ia merupakan keturunan Nabi Muhammad, S. A.W. Sementara silsilah dari Prabu Panembahan Hanyakrawati menyambung kepada Prabu Brawijaya V.
Nama kecilnya Raden Mas Jadmika, atau Pangeran Rangsang. Setelah bertakhta ia bergelar Sultan
Agung Hanyakra Kusuma Senapati Ing Ngalaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama. Dialah Ratu Agung Binatara, Sultan juga Wali, Raja yang sekaligus Pandita.
Ketika umur satu tahun, ia dingengerkan kepada Kiai Jejer atau Ki Surapraba. Pada umur tujuh tahun ia sudah hafidz Alquran. Dialah, yang mendapatkan aliran pengetahuan, dari berbagai cabang pengetahuan.
Lantaran hidup dalam lingkungan yang terdidik, yang dekat dengan Panguwasaning Jagad. Para wali, para Panembahan, dan Kiai Pengulu, yang tidak dapat diragukan kesalehannya.
Di antara guru-gurunya adalah Prabu Panembahan Hanyakrawati, Ki Juru Martani, Kiai Jejer, Panembahan Purubaya, Panembahan Juminah, Pangeran ing Kadilangu, Pangeran Ing Tembayat, Pangeran ing Kudus, Pangeran ing Kajoran, Pangeran ing Wangga, Panembahan Juru Kithing, Kiai Pengulu Ahmad Kategan.
Karya-karya Sultan Agung
Pengetahuan Sultan Agung Hanyakra Kusuma yang begitu luas, melahirkan gagasan-gagasan besar yang mewarnai peradaban hingga saat ini. Di antaranya, ia mampu mensinkronisasi kalender qomariah (berbasis lunar) dan kalender syamsiah (berbasis solar), yang kemudian disebut dengan kalender Jawa.
Sultan Agung juga memberikan nama baru untuk pasaran, hari, bulan, tahun, windu, dengan menggabungkan antara sistem yang sudah ada di Jawa, yang disinkronkan dengan terminologi agama Islam.
Dalam politik dan ketatanegaraan, ia menerapkan konsep mamayu hayuning bawana. Konsep mamayu hayuning bawana itu digunakan untuk melawan ideologi orang Barat yang menerapkan politik devide et impera.
Dalam bidang ketatanegaraan Sultan Agung membagi wilayah kerajaan menjadi: Kuta Nagara atau Pusat Pemerintahan, diurus oleh dua orang Wedana (Wedana Miji dan Wedana Lebet).
Negara Agung yakni Daerah Sekitar Kuta Nagara. Diurus oleh Patih Jawi dan Wedana Jawi dibantu seorang kliwon, seorang Kabayan dan 40 mantri jajar, 8 Bupati Nayaka dan Panekarnya.
Manca Nagara, yang terdiri Manca Negara Kulon, dan Manca Negara Wetan, Daerah Pesisiran. Diurus oleh Bupati Manca Negara.
Sementara untuk daerah pesisiran diurus oleh Tumenggung, Kyai Demang, atau Kyai Ngabehi.
Dalam pekerjaannya, Sultan Agung juga dibantu oleh abdi dalem, yang ribuan jumlahnya, dengan nama dan pekerjaannya masing-masing.
Misalnya Abdi Dalem Pamethakan, terdiri atas: Penghulu, Kotib, Modin, marbot, Rois, Suranata. Abdi Dalem kaitannya dengan pengadilan: Jaksa, Marta Lulut, Singanagara.
Abdi dalem lainnya: Pamaosan, Meladang, Pande, Kemasan, Genjang, Surawedi, Gemblak, Sayang, Gajah Mati, Gending, Blandhong, Kemit Bumi, Gladag, Abdi Dalem Gandhek, wadyabala Sarangi, Nirbaya, Brajanata, Sangkraknyana, Kanoman, Priyantaka, Sera Seja, Panyutra, Mandhung.
Dalam sistem penggajian, Kerajaan Mataram menerapkan Hasil Plungguh dibagi menjadi:
penggarap 40 %, para bekel kepala desa 20 %, demang/ngabehi 8 %, para Bupati 8 %, untuk pajak Kas Keraton 24 %.
Dalam konsep kemasyarakatan Sultan Agung menerapkan konsep Tri-Ma(3 ma), yaitu mamasuh malaning bumi/dhiri (Membasuh kotoran/dosa yang ada di bumi/diri ), mangasah mingisih budi (mengasah kecerdasan intelektual), dan mamanis tyasing sasami (menebar kebaikan kepada sesama).
Dalam bidang seni, Sultan Agung membuat beberapa karya, di antaranya, menciptakan Tari Bedhaya Srimpi, Wayang Kulit Raksasa: Buta Terong, Buta Cakil, Buta Padhas Gempal, Buta Rambut Geni, Buta Ijo.
Dalam Tosan Aji, Sultan Agung pernah mengumpulkan 800 orang empu, untuk membuat keris, tombak, meriam dan senjata perang lainnya. Peristiwa ini disebut pakelun.
Para empu itu dibagi menjadi 8 kelompok, di mana masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang empu senior (empu tindih), di antaranya adalah: Ki Tepas (Semarang), Ki Salatea (Tuban), Ki Mayi (Jawa Barat), Ki Legi (Majapahit), Empu Gedhe (Pajang), Empu Luwing (Semarang), Ki Guling (Mataram), Ki Ancer (Kalianjir).
Semua Empu itu dipimpin oleh Ki Tundhung, empu dari Kudus.
Dalam bidang Arsitektur, Sultan Agung membangun Kraton Kerta dan Keraton Plered (mulai ditempati 1625).
Kraton Kerta dibangun di antara dua aliran Sungai, yaitu Sungai Gajah Wong dan Sungai Opak. Untuk keperluan pertahanan dan sekaligus ketahanan pangan, Sultan Agung membuat segaran, yang disebut sebagai Segarayasa, dengan cara membendung Sungai Opak dan Sungai Gajah Wong, menjadi satu.
Kekuasaan Mataram pada masa Sultan Agung (1613-1645 M) meliputi seluruh Pulau Jawa (Kecuali Banten dan Batavia), Pulau Madura, Sukadana di Kalimantan Barat.
Sastra Gendhing karya Masterpiece Sultan Agung
Salah satu upaya dalam konsolidasi kultural melalui bidang sastra, Sultan Agung mengembangkan sastra babad, unggah-ungguh basa atau undha usuking basa, dan bahasa Bagongan.
Karya sastra yang fenomenal dan mempengaruhi pergerakan dunia bahasa dan sastra hingga saat ini adalah Serat Sastra Gending.
Sastra Gending merupakan masterpiece yang menjadi tonggak dan penanda revolusi kebudayaan pada masa Mataram Islam.
Ada beberapa versi naskah Sastra Gendhing, di antaranya versi Pakualaman Yogyakarta dan Museum Sonobudoyo, Naskah Sastra Gending, terdiri atas: Sinom (13 bait), Asmarandana (12 bait), Dandanggula (11 bait), Pangkur (17 bait).
Perbedaan ada di pupuh Durma, di mana naskah Paku Alaman terdiri atas 19 bait, sedang versi naskah Museum Sonobudoyo pupuh Durma 20 bait.
Naskah versi Museum Radya Pustaka Surakarta, agak berbeda, di mana Sastra Gending terdiri atas 100 bait, yang terdiri atas: Sinom (11 bait), Asmarandana (14 bait), Dandang Gula (9 bait), Pangkur (15 bait), Durma (17 bait), Kinanti (15 bait), Pucung (9 bait), dan Megatruh (10 bait).
Pada pupuh Sinom, Sultan Agung mempertegas posisi dan identitasnya sebagai seorang Amirul Mukminin (Pemimpin orang beriman).
Gelar ini dipakai para khalifah sesudah Rasulullah SAW. Selain itu, menjelaskan pula bahwa Sultan Agung seorang raja yang mengutamakan kehidupan akhirat.
Gelar Sayidin Panatagama, menunjukkan bahwa ia adalah raja agung yang mengemban amanat Tuhan, untuk menata kehidupan kawula Mataram dengan berdasarkan ajaran agama Islam.
Sultan Agung juga melegitimasi bahwa ia adalah seorang raja pandita, seorang raja yang sekaligus seorang wali allah.
Konsep ini dikembangkan dari konsep ratu binatara (titisan Dewa), yang sudah ada di Jawa.
Sri nata dipeng rat Jawa/ Jeng Sultan Agung Matawis/ Kang ngadaton nagri Karta/ Ing jaman saolah Mulki/ Ngrat Jawa nyakra wati/ Sabrang pesisir sumuyut/ Amirul mukminina/ Sayidin panatagami/ Mahambara sinuksmeng bangsa ambiya//
(Sri maharaja pemimpin jagad tanah Jawa/ Yang Mulia Sultan Agung Mataram/Yang beristana di Kerajaan Kerta/Di zaman kekuasaannya/Menguasai tanah Jawa dan menebar kebaikan/Tanah Sabrang dan pesisir tunduk/Pemimpin para mukmin/Sayid penata agama/Raja yang hebat, titisan dari para Nabi.
Serat Sastra Gending merupakan karya yang penuh dengan simbol dan alegoris filosofis. Oleh sebab itu, untuk memahaminya harus mengetahui penggunaan simbolisasi kata sastra dan gending dalam bait-bait serat Sastra Gending.
Pada serat Sastra Gending pupuh Asmarandana, bait 11 dan Dandanggula bait 8, sastra dimaknai sebagai Dzat dan gending dimaknai sebagai Sifat.
Pada Pupuh Asmarandana bait 12, Dandanggula bait 7, sastra dimaknai sebagai rasa, sedang gending dimaknai sebagai pangrasa.
Sastra dimaknai sebagai simbol cipta/pencipta dan gending sebagai simbol dari ripta/ciptaan (Asmarandana bait 12).
Sastra sebagai simbol yang disembah dan gending sebagai simbol yang menyembah (Asmarandana 12 dan Pangkur 9).
Sastra dimaknai sebagai cermin dan gending sebagai bayangannya, sastra sebagai simbol qodim/terdahulu dan gending sebagai simbol sesuatu yang baru (Dandang Gula bait 8).
Sastra sebagai simbol papan, sedang gending sebagai simbol tulisannya (Pangkur bait 9).
Apabila dikaji secara lebih mendalam Sastra Gending sebenarnya hendak menyampaikan hubungan antara Gusti dengan Kawula, atau menjelaskan kawruh sangkan paraning dumadi, dengan perspektif makrifat Jawa.
Arab digarap, Jawa digawa, nampaknya mempengaruhi pemikiran Sultan Agung, yang menghendaki adanya harmoni antara pemikiran berbasis Rasionalisme/Empirisme (Filsafat Barat). Disimbolkan seperti gunung (giri) dan ilmu rasa yang menjadi basis utama Filsafat Timur. Disimbolkan oleh sagara.
Inilah sebabnya Kerajaan Mataram, menggunakan bangunan kosmologi giri sagara/gunung samodra/Among tani, dagang layar (segitiga berdiri dan segitiga terbalik, yang apabila dipadukan menjadi simbol sadcona, simbol kesempurnaan di dalam hidup).
Begitu pula dalam bangunan pemikiran keagamaan yang hendak dibangun, Sultan Agung berupaya menjembatani, dua kutub aliran pemikiran, syariat dan hakikat, menjadi satu kesatuan yang bersatu dan padu.
Seperti termuat dalam pupuh Pangkur bait 1:
Kawuri pangestining byat/ Tuduhireng sastra kalawan gending/ sokur lamun samya rujuk/mufakat ing ngakathah/Sastra Arab Jawa luhur asalipun/ gending wit purbaning akal/kadya kang wus kocap ngarsi//
(Telah dibahas sebelumnya/ penjelasan tentang sastra gending/ bersyukur jika semua sepakat/ bersumber pada sastra Arab dan Jawa yang luhur/Gending muncul dikarenakan akal/ sebagaimana telah dibahas di depan).
Keunikan dalam serat Sastra Gending adalah Sultan Agung memperkenalkan susunan aksara carakan (Ha Na Ca Ra Ka, Da Ta Sa Wa La, Pa Dha Ja Ya Nya, Ma ga Ba Tha Nga), yang merupakan representasi dari ajaran Makrifat Jawa, yang dikenal dengan Martabat Pitu.
Martabat pitu itu meliputi: 1. Ahadiyat 2. Wahdat 3. Wahidiyat 4. Alam Arwah 5. Alam Mitsal 6. Alam Ajsam 7. Insanul Kamil. Konsep Makrifat Jawa ini dibahas pada pupuh pangkur.
Aksara Carakan merupakan perwujudan dari sifat dua puluh bagi Allah sebagaimana tersurat di dalam bait 6 pupuh pangkur:
Iku telenging paningal/ surasane kang sastra kalih desi/lan mirid sipat rong puluh/ liding isim jalalah/ ponang akal during mantra ananipun/ kababaring gendhing akal/ Manikmaya wus kangelmi//
(Itu ada dalam penglihatan, rahasia dari sastra dua puluh, nama-nama keagungan Allah/Akal belum nyata keberadaannya/ Terbukanya gending akal/ Saat Manikmaya sudah diketahui//)
Revolusi Aksara, Bahasa dan sastra, terjadi pada masa kekuasaan Sultan Agung, yang ditandai dalam manuskrip Sastra Gending.
Perubahan susunan aksara telah mengubah jagad Jawa, yang semula berbasis aksara Jawa Kuna (kawi) menjadi berbasis Jawa Baru (Carakan).
Aksara Pallawa dan Jawa kuna, disusun berdasarkan asal-muasal bunyi aksara. Sementara aksara Carakan disusun berdasarkan pada filosofinya, yaitu untuk memahami kawruh Makrifat Jawa.
Semenjak itu, Serat, Babad, Wirid dan lain sebagainya ditulis dengan menggunakan aksara carakan (Jawa Baru).
Aksara Carakan tak ayal lagi melahirkan berbagai ajaran filosofi yang tak terhitung jumlahnya, baik dalam konteks panjarwan, pralambang, pralampita, maupun palungidan.
Tulisan-tulisan tersebut mewarnai perkembangan Sastra mulai abad 16 hingga saat ini.
Sultan Agung dengan demikian merupakan inisiator dalam dunia Aksara Carakan dan membangun Bahasa, Sastra, yang saat ini dominan, terutama di Jagad Jawa.
Sastra Gendhing juga menjadi bukti bahwa Aksara Carakan tidak dibuat oleh Aji Saka, kecuali Nama Aji Saka itu dilekatkan dengan nama Sultan Agung. Atau nama samaran dari tokoh yang hidup pada masa Mataram Islam. (*)
Daftar Bacaan:
Agung, Sultan, Sastra Gending, koleksi Sonobudoyo, (carakan).
Aldila SN, Serat Sastra Gending dalam Kajian Strukturalisme Semiotik, Semarang, Unes, 2010.
Zainudin Bukhari, Mistisisme Islam Jawa, Studi Serat Sastra Gending Sultan Agung, IAIN Walisongo, Semarang, 2012.
Graaf, de H.J. 1986. Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, Terj: Pustaka Grafitipers dan KITLV . Jakarta: Grafiti Pers.



