Mabur.co – Ribuan warga Kulon Progo menghadiri kegiatan Nyadran Agung yang digelar Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo, bertempat di kawasan Alun-alun Wates, Kamis (12/02/2026) sore hari ini.
Datang dari berbagai daerah, mereka antusias mengikuti tradisi rayahan gunungan yang menjadi ciri khas dari kegiatan Nyadran Agung ini.
Sejak siang, sebagian besar warga nampak sudah memadati lokasi acara. Mereka rela berpanas-panasan demi bisa berada di barisan terdepan saat gunungan dibagikan.

Tradisi Nyadran Agung ini sendiri diawali dengan acara kirab gunungan mengelilingi Alun-alun Wates menuju depan rumah dinas bupati. Total terdapat sedikitnya 22 gunungan disiapkan panitia di tahun ini.
Gunungan tersebut berasal dari instansi pemerintah, kapanewon se-Kulon Progo, serta tiga gunungan inti dari panitia pelaksana.
Masing-masing gunungan berisi hasil bumi dan produk lokal sebagai simbol kemakmuran dan rasa syukur masyarakat.

Setelah doa selesai dipanjatkan, suasana yang sebelumnya khidmat mendadak berubah riuh. Ratusan warga yang sejak siang menunggu di Alun-Alun Wates, Kulon Progo, langsung berhamburan menuju puluhan gunungan yang berjajar rapi di tengah lapangan.
Sayuran segar, buah-buahan, hingga aneka jajanan pasar yang disusun mengerucut tinggi itu dalam hitungan menit ludes diperebutkan.
Tawa, teriakan, dan sorak warga bercampur menjadi satu, menandai puncak tradisi Nyadran Agung yang digelar setiap menjelang bulan Ramadan.

Bagi warga, mendapatkan sebagian isi gunungan dipercaya membawa berkah dan kebaikan bagi keluarga.
“Saya sengaja datang lebih awal supaya bisa ikut rebutan. Alhamdulillah tadi dapat sayur dan jajanan. Semoga membawa berkah,” ujar Nia, salah satu warga.
Hal serupa disampaikan Sandra, yang mengaku rutin hadir setiap tahun. Baginya, Nyadran Agung bukan hanya soal mencari hasil bumi.
“Ini sudah jadi tradisi. Selain mencari berkah, juga jadi ajang silaturahmi karena banyak saudara dan warga luar daerah datang,” katanya.
Selain digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, Nyadran Agung ini juga sekaligus digelar sebagai bentuk permohonan agar diberi kelancaran dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Joko Mursito, mengatakan Nyadran Agung merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan.
“Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan dan semangat gotong royong warga,” katanya.
Tak hanya warga Kulon Progo, masyarakat dari daerah tetangga seperti Magelang dan Purworejo, Jawa Tengah, turut meramaikan acara.
Mereka datang setiap tahun untuk merasakan langsung suasana khas Nyadran Agung. ***



