Mabur.co – Setelah membuat geger dunia maya dengan mengatakan akan mundur atau berhenti membuat konten, kini YouTuber Bobon Santoso mulai mengklarifikasi pernyataannya di media sosial yang muncul beberapa waktu lalu.
Dalam podcast Close The Door bersama kanal YouTube Dedy Corbuzier, Bobon bercerita bahwa dirinya tidak sepenuhnya berhenti ngonten atau membuat video. Melainkan hanya “mutasi platform” atau berpindah dari satu platform ke platform lainnya, yang dianggap lebih menjanjikan dan tidak memerlukan effort yang terlalu besar.
Menurut Bobon, platform YouTube yang selama ini ia gunakan sebagai tempat membuat konten sekaligus menghasilkan cuan, dirasa sudah tidak lagi ramah bagi para konten kreator seperti dirinya.
Hal ini didukung dengan banyaknya perubahan fitur yang terjadi pada YouTube, yang dianggap tidak lagi sebanding dengan effort yang sudah ia keluarkan dalam membuat satu episode atau satu konten.
“Kita itu sudah capek-capek pergi ke Papua atau Aceh, lalu kita berbaur dengan masyarat sekitar di sana. Setelah syuting berhari-hari kita pun pulang dalam keadaan yang sudah capek berat, tapi ternyata kontennya masih harus diedit sedemikian rupa. Jadi rasanya ini sudah tidak worth it lagi,” ucap Bobon.
Oleh sebab itu, kata Bobon, ia ingin memfokuskan diri pada platform-platform yang mampu memberinya kebebasan waktu dan ruang untuk berekspresi, tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga yang ujung-ujungnya hanya menghasilkan cuan yang tidak seberapa.
“Saya akan fokus ke platform-platform yang memungkinkan lebih banyak interaksi, terutama Instagram. Karena sekarang YouTube sudah jauh berubah, dan tidak bisa lagi membangun interaksi yang sehat,” tambah Bobon.
Selain itu, meskipun sempat menyatakan akan menjual akunnya seharga Rp20 miliar, namun Bobon tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu akan dipertimbangkan kembali, sembari melihat perkembangan yang ada.
Setiap Masa Ada Platform, Setiap Platform Ada Masa
Bobon Santoso hanyalah satu contoh, dari sekian banyak YouTuber atau konten kreator lain yang sudah memutuskan untuk berhenti ngonten, atau juga “mutasi platform” dengan membuat jenis konten berbeda di platform lain.
Namun tak bisa dipungkiri, keberadaan platform-platform media sosial pembuat konten seperti YouTube, Instagram, TikTok, dan seterusnya itu tak lebih dari sekadar “momentum”, yang ujung-ujungnya juga akan ditinggalkan oleh para penggunanya.
Platform sendiri juga pada dasarnya adalah entitas bisnis, dan pergerakan mereka juga sangat dipengaruhi oleh pasar atau market yang sedang berjalan.
Pada akhirnya, setiap perubahan yang dilakukan oleh platform, baik itu fitur, syarat mendapatkan adsense, format yang disukai maupun yang tidak, dan seterusnya, semuanya adalah hak dari masing-masing platform.
Dan ketika platform-platform tersebut pelan-pelan mulai ditinggalkan oleh para penggunanya, tinggal menunggu waktu saja bahwa di kemudian hari popularitas mereka juga akan terus merosot.
Pada akhirnya harus tutup layanan atau bangkrut. Seperti yang pernah dialami oleh media sosial Path, BBM, dan sebagainya. (*)



