Bukannya Berkurang, Manusia Justru Lebih Banyak Makan di Bulan Puasa

Mabur.co – Ketika seseorang berpuasa, di mana ia diwajibkan menahan hawa nafsu selama kurang lebih 14 jam dalam sehari, termasuk di dalamnya adalah makan dan minum, maka otomatis durasi makan akan berkurang dari biasanya.

Namun siapa sangka, dalam beberapa tahun terakhir, ketika semua orang menjadikan bulan puasa atau bulan Ramadan sebagai momen kumpul-kumpul, misalnya mengadakan buka bersama (bukber), atau acara-acara lainnya, yang tetap diasosiasikan dengan acara makan-makan (berbuka dan sahur), akhirnya yang terjadi justru sebaliknya.

Ya, bulan puasa justru membuat seseorang menjadi lebih banyak makan daripada biasanya.

Lantaran ia menerima banyak makanan dari berbagai pihak, entah itu keluarga, teman, takmir masjid, pengurus RT, dan seterusnya.

Bagaimana bisa, ketika durasi makan hanya berlangsung selama kurang lebih 10 jam (sejak azan Magrib hingga Imsak), itupun masih dikurangi dengan tidur di malam harinya, namun tetap saja membuat manusia makan lebih banyak daripada sebelas bulan lainnya?

“Anomali Puasa”

Fenomena ini disebut juga dengan “anomali puasa”, yakni sebuah paradoks yang menggambarkan kegiatan makan manusia yang justru lebih banyak, ketika durasi makannya terbatas.

Ini mirip seperti sebuah “balas dendam” setelah menahan lapar dan haus selama 14 jam, tepatnya sejak Imsak hingga kumandang azan Magrib.

Dilansir dari laman Kumparan, berikut adalah beberapa alasan sederhana, mengapa manusia cenderung lebih banyak makan di bulan puasa ketimbang bulan-bulan lainnya, meskipun durasi makannya dibatasi.

1. Pola Makan “Balas Dendam”

Setelah menahan makan dan minum selama 14 jam, tentunya momen berbuka langsung dimanfaatkan sebagai ajang “balas dendam”, karena sudah dalam kondisi perut keroncongan serta haus.

Akhirnya yang terjadi adalah orang cenderung langsung makan secara berlebihan hingga menyebabkan kekenyangan.

Perilaku semacam ini tentu saja membuat pola makan jadi lebih berantakan dari biasanya, karena menganggap periode Magrib hingga Imsak sebagai “pembebasan”, sehingga semua makanan pun dikonsumsi begitu saja tanpa dikontrol sama sekali.

2. Memicu Perilaku Konsumtif

Masih berkaitan dengan poin pertama, ketika menganggap momen berbuka hingga sahur sebagai “pembebasan” (lepas dari penderitaan tidak boleh makan/minum), akhirnya pengeluaran untuk konsumsi pun seringkali meningkat drastis.

Salah satu penelitian bahkan menunjukkan bahwa pengeluaran di bulan puasa bisa naik sekitar 41% per hari, akibat sering membeli takjil atau makanan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

3. Kalori Meningkat, Berat Badan Pun Naik

Akibat pola makan yang meningkat sekaligus tidak teratur, tubuh pun terpaksa menampung begitu banyak kalori dalam waktu singkat.

Mulai dari gula, lemak, dan seterusnya, semuanya masuk ke dalam tubuh dengan begitu cepat.

Alhasil berat badan pun meningkat, ketika idealnya malah turun akibat berpuasa 14 jam.

4. Ilusi Lapar

Tak jarang keinginan makan juga berasal dari visual (lapar mata), sehingga memicu pembelian makanan yang tidak perlu.

Misalnya karena bentuknya yang menarik dan lucu, apalagi jika harganya murah, dan seterusnya.

***

Mengonsumsi banyak makanan dan minuman setelah berbuka tentunya sah-sah saja dilakukan oleh setiap orang.

Namun alangkah baiknya jika kesehatan diri sendiri juga diperhatikan dengan sebaik mungkin.

Karena pada akhirnya, periode makan di waktu Magrib hingga Imsak tidak akan berarti apa-apa, jika malah membawa penyakit baru yang tidak pernah diharapkan sebelumnya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *