Orang Jawa memelihara budaya berisik. Budaya ngerasani atau budaya gibah menjadi identitas alternatif orang Jawa.
Di luar urusan dosa, budaya berisik berkembang dalam kultur Jawa hingga hari ini dan mungkin sampai kapan pun.
Budaya berisik atau budaya membicarakan orang lain jika diambil sisi positifnya sebenarnya ada juga.
Salah satunya menjadi kontrol diri yang efektif bagi orang yang dibicarakan sekaligus yang membicarakan.
Oleh sebab itu orang Jawa pun tumbuh dalam budaya malu dan budaya hati-hati yang lumayan serius.
Jadinya bisa saja takut salah, harus sempurna, dan jangan sampai terlihat kekurangan.
Oleh sebab itu pula hidup orang Jawa dipoles semenarik mungkin agar tidak menjadi sumber berisik, sumber bahan pembicaraan orang lain.
Orang Jawa pun diam-diam mengejar setinggi mungkin cita-cita terhormat.
Melalui berbagai cara dengan penuh rendah hati dan prihatin terus berjuang menjadi yang terbaik.
Sebisa mungkin punya pasangan yang baik, pekerjaan yang layak, harta yang cukup, dan keturunan yang menambah lengkap kebahagiaan.
Jika sudah sampai pada titik itu biasanya orang Jawa akan terhindar dari berisik.
Terhindar dari sumber pembicaraan yang negatif. Kalau pun masih jadi bemper pembicaraan sudah lebih berkualitas materi pembicaraannya. Bisa jadi panutan dan sebagainya.
Jika sudah sampai pada tahap itu orang Jawa pun akan terhindar dari kekosongan. Ia akan merasa dirinya berarti. Bagi diri, keluarga, sosial, kultural, dan bisa jadi agama.
Karena pada dasarnya memang ngeri jika orang terus terperangkap dalam rasa kosong, rasa sunyi. Jangan-jangan kesehatan mentalnya terganggu. Hahaha.
Kolom ini saya tulis tepat usai tarawih, setelah satu hari penuh berhasil menjalankan puasa.
Kebetulan di media sosial Facebook seorang kawan belum lama juga mengirimkan artikel yang pernah saya tulis dua puluh sembilan tahun lalu.
Dimuat di majalah Balairung UGM judulnya Horor Vacui yang berarti ketakutan terhadap kekosongan.
Awal bulan puasa tahun ini artikel jadul itu terasa masih tetap relevan.
Setidaknya agar menjadi kontrol diri betapa setiap orang harus mampu menghindar dari kekosongan hidup dan memberi makna atas hidupnya sendiri.
Budaya berpuasa menjadi salah satu jalan mencapai keberartian hidup.
Menghindar sejenak dari budaya berisik dan membicarakan orang lain serta lebih mengejar kualitas hidup personal. Agar menjadi lebih berharga secara sosial, kultural, dan agama. ***



