Budaya teror melekat erat sebagai kepribadian alternatif di negeri Pancasila. Parameter sederhananya, selalu saja ada yang mengaku diteror oleh pihak tertentu dalam masa-masa tertentu.
Yang paling aktual, Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mengaku diteror oleh entah siapa pasca-dirinya tampil kritis berorasi meluncurkan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Tidak hanya dirinya, bahkan ia mengaku keluarganya juga ikut diteror. Jauh sebelumnya, teror juga dialami oleh majalah Tempo. Dikirimi kepala babi.
Dua hal itu hanya data kecil saja. Intinya konfrontasi berupa perbedaan pandangan yang ada di Indonesia ternyata memang bisa membuka ruang merebaknya budaya teror.
Dalam kasus lain, yang kecil-kecil di skala daerah, misalnya, bisa saja kita jumpai hal yang sama. Teror kepada seseorang atau kelompok tertentu.
Boleh jadi, demokrasi kita memang selalu bertolak belakang dengan wacana yang menyertainya.
Wacana yang mengawal demokrasi sudah melaju kencang hingga menyoal pentingnya transparansi dan keterbukaan kritik.
Sebaliknya, praktik demokrasi yang tumbuh justru antikritik. Muncullah jurang ketidaksiapan perbedaan. Risikonya memunculkan luapan amarah terselubung. Bisa saja dilampiaskan dalam bentuk teror.
Namun, pastilah itu hanya analisa mendadak dan sepihak saja. Sebab, kita tak pernah tahu pelaku teror yang sesungguhnya. Ataukah, memang ada teror yang sesungguhnya?
Kalau pakai logika terbalik, yang meneror adalah kawan-kawannya sendiri bagaimana? Bukan lawan pandangan ideologis?
Semuanya serba mungkin. Oleh sebab itu perlu dipastikan dulu siapa sesungguhnya yang meneror.
Dibutuhkan kecerdasan setara hacker atau bahkan setara Elon Musk untuk mengetahui siapa sesungguhnya si peneror. Setidaknya ada upaya pelacakan secara digital juga.
Iseng-iseng, saya temukan lagi berita di Kompas soal sidang penculikan aktivis pada 1999. Sebelum saya baca keseluruhan kliping koran itu, saya kira judul cerita pendek saja. Ternyata judul berita yang mengacu pada fakta persidangan.
Saya jadi gemetar juga. Jangan sampai budaya teror kita akan menimbulkan adanya berita sebagaimana yang saya temukan dan saya pasang sebagai cover kolom ini.
Saya berharap budaya teror kita akan langsung berhenti saat tulisan kolom saya ini saya posting. Saya share secara luas kepada Anda. ***



