Suluk Aksara di Jantung Kotagede

Oleh: Supriyadi Atmaja S.Fil

Di tengah gempuran modernisasi, sebuah gerakan sunyi namun mendalam sedang berdenyut di sudut-sudut ruang komunal Yogyakarta. Pawiyatan Taman Aksara Nusantara (TAN) Triguna berdiri pada 8 September 2024.

Konsisten menggaungkan bahwa belajar aksara bukan sekadar mengeja huruf, melainkan sebuah Suluk—perjalanan spiritual menuju kesempurnaan hidup.

Ilustrasi Aksara Jawa Dok Penulis

Secara etimologis, istilah “Aksara” berasal dari bahasa Sanskerta. Terdiri dari prefiks a- yang berarti “tidak” dan ksara yang berarti “musnah” atau “hancur”.

Aksara adalah sesuatu yang kekal. Ia adalah manifestasi dari pengetahuan yang melampaui zaman.

Bagi para peserta pawiyatan, mempelajari guratan-guratan kuno adalah upaya mengenali Jati Diri. Baik jati diri sebagai individu, makhluk sosial, hingga identitas sebagai bangsa besar bernama Nusantara.

Sejak berdirinya, Pawiyatan TAN Triguna—yang berafiliasi dengan Taman Sesaji Nusantara—memilih konsep pembelajaran yang berpindah-pindah (mider ring rat), menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Aksara hadir menjadi jalan spiritual dan ruang diskusi hangat bagi budayawan, seniman, dan khalayak umum.

Bangsa Nusantara bukanlah bangsa yang “baru kemarin sore” mengenal tulisan. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa nenek moyang kita telah memiliki tingkat literasi yang sangat tinggi sejak abad ke-4, ditandai dengan munculnya Prasasti Yupa di Kutai yang menggunakan aksara Pallawa.

Seiring waktu, setiap wilayah di Nusantara mengembangkan sistem aksaranya sendiri—seperti Jawa, Sunda, Bali, hingga Lontara—yang digunakan untuk mencatat tata kenegaraan, etika, hingga ilmu pengobatan.

Namun, keruntuhan bertahap mulai terjadi saat Aksara Latin (Romawi) masuk secara masif. Dominasi Latin mulai mengakar kuat di awal abad ke-20 melalui kebijakan pendidikan kolonial Belanda.

Campur tangan Eropa dalam mentransliterasikan bahasa-bahasa daerah ke huruf Latin secara perlahan memutus hubungan emosional dan intelektual masyarakat dengan naskah aslinya.

Dampak dari “Latinisasi” ini sangat sistemik. Saat ini, banyak generasi muda merasa asing dengan identitasnya sendiri. Penguasaan terhadap aksara, bahasa, dan sastra daerah yang merosot tajam menjadi penyebab utama runtuhnya ketahanan budaya.

Tanpa aksara aslinya, naskah-naskah kuno yang menyimpan rahasia kearifan hidup hanya menjadi benda bisu yang tak bisa lagi memberikan petunjuk bagi masa depan.

Keruntuhan sebuah bangsa seringkali berawal dari penghancuran budayanya.

Hal ini selaras dengan teori yang sering dikaitkan dengan Jurilina (terkait strategi subversi kebudayaan), bahwa untuk menghancurkan sebuah bangsa, tidak perlu menggunakan senjata fisik, melainkan dengan memutus akses terhadap sejarahnya, menjauhkan mereka dari bahasanya, dan membuat mereka asing terhadap aksaranya sendiri.

Ketika sebuah bangsa kehilangan aksaranya, mereka kehilangan instrumen untuk memahami filsafat dan sastra peninggalan leluhur. Inilah penyebab utama runtuhnya ketahanan budaya Nusantara saat ini.

Berbeda dengan negara-negara maju seperti Jepang, Korea, atau Tiongkok yang sangat menonjolkan identitas aksaranya sebagai fondasi kemajuan, Nusantara justru seringkali menganggap aksara daerah sebagai beban masa lalu.

Melalui Pawiyatan TAN Triguna kita berharap masyarakat sadar bahwa Suluk Aksara adalah jalan pulang. Dengan menguasai kembali aksara, kita tidak hanya belajar menulis, tetapi belajar membaca kembali

“DNA” spiritualitas bangsa yang terkubur, demi mencapai kesempurnaan hidup manusia yang berdaulat secara budaya.

Keunikan Pawiyatan TAN Triguna terletak pada Strategi Pembelajaran transfer ilmu ini adalah metode Pendidikan Orang Dewasa (POD) atau Andragogi.

Kita menyadari bahwa peserta pawiyatan bukanlah bejana kosong, melainkan pribadi yang memiliki segudang pengalaman hidup. Oleh karena itu, metode POD yang diterapkan mengedepankan:

  1. Pembelajaran Berbasis Pengalaman
    Aksara tidak hanya dihafal, tapi dikaitkan dengan filosofi hidup yang dialami peserta sehari-hari.
  2. Swa-Arah (Self-Directed)
    Peserta diberikan ruang untuk mengeksplorasi kedalaman makna aksara sesuai dengan minat spiritual dan profesional mereka.
  3. Relevansi Praktis
    Menghubungkan guratan aksara dengan realitas sosial dan pencarian jati diri di era modern.
    Pembelajaran di Pawiyatan TAN Triguna tidak dirancang sebagai kursus akademik biasa, melainkan sebuah transformasi kesadaran.

Dengan menggunakan metode Pendidikan Orang Dewasa (POD), setiap peserta didorong untuk melampaui batas kemampuan teknis menuju penghayatan spiritual terhadap aksara.

Target utama dari tingkat dasar ini adalah Penyambungan Kembali Mata Rantai Ingatan (Reconnecting the Cultural Memory).

Antara lain dengan:
Literasi Fundamental, dimana peserta ditargetkan mampu mengenali, mengeja, dan menulis karakter Aksara Kawi secara presisi sesuai kaidah palawa dan pascapalawa.

Demistifikasi Aksara, dengan mengubah persepsi bahwa aksara kuno adalah sesuatu yang “keramat dan tak tersentuh” menjadi sesuatu yang “hidup dan aplikatif”.

Kedaulatan Identitas, dimana peserta ditargetkan memiliki rasa percaya diri untuk menunjukkan identitas Nusantara melalui media visual harian.

Output merupakan hasil konkret yang dihasilkan selama proses pawiyatan berlangsung hingga penutupan di Peken Kelangenan Kotagede:

Portofolio Tata Tulis
Kumpulan naskah pendek yang ditulis tangan oleh peserta, menunjukkan penguasaan wyanjana (huruf konsonan), swara (huruf vokal), hingga sandhangan (tanda diakritik) yang rumit dalam sistem Kawi.

Koleksi Kaligrafi Aksara
Karya seni visual di mana aksara Kawi dieksplorasi secara estetis. Bukan sekadar tulisan, tapi juga komposisi seni yang memadukan keindahan garis dengan kedalaman makna filosofis.

Prototipe Produk Kreatif
Karya dalam bentuk kerajinan dan suvenir (seperti ukiran kayu, hiasan logam, atau desain grafis) yang mengintegrasikan aksara Kawi ke dalam benda fungsional.

Inventarisasi Balai Kaweruh
Penyerahan karya peserta sebagai aset literasi publik di Peken Kelangenan Kotagede, yang berfungsi sebagai galeri pembelajaran bagi pengunjung pasar.

Penulis: Alumni Filsafat UGM, Pendiri Pawiyatan Taman Aksara Nusantara (TAN) Triguna, Pengurus Yayasan Taman Sesaji Nusantara (TSN)

1

Share

By About

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *