Titik Koordinat

Kita sering lupa bahwa tubuh adalah jangkar. Di dunia yang kian digital dan nir-ruang, kita seolah-olah bisa berada di mana saja secara serempak. Namun, dalam urusan iman dan amal, Islam menarik kita kembali ke bumi.

Kita bukan angin yang mengelus awan tanpa jejak. Kita bukan malaikat yang membelah langit, bukan pula jin yang meloncati galaksi. Kita adalah makhluk dengan pinpoint: titik koordinat yang keras kepala.

Ibadah bukanlah abstraksi yang melayang-layang. Ia adalah aktivitas fisik yang terikat pada ruang dan waktu. Ada “di sini” dan ada “saat ini”. Jika Anda berdiri di Yogyakarta, kiblat Anda adalah Barat.

Jika Anda di Madinah, kiblat Anda adalah Selatan. Mencoba menjadi orang Madinah saat kaki berpijak di tanah Bantul bukan hanya sebuah kekeliruan geografis, tapi sebuah pembatalan makna.

Anda tidak sedang menghadap Ka’bah; Anda justru sedang menghadap kekosongan Benua Australia.

Begitu pula dengan waktu. Subuh bukan sekadar angka di jam digital, melainkan pertemuan antara fajar shadiq dan mata telanjang di ufuk setempat. Memaksakan waktu Madinah ke Baantul adalah bentuk “kekerasan” terhadap rotasi bumi.

Saat di Madinah fajar baru merekah, di Yogyakarta matahari sudah meninggi, dan Duha telah mengambil alih. Iman, dalam hal ini, menuntut kita untuk setia pada lokasi.

Mungkin “ketegangan” ini mencapai puncaknya pada Hilal. Ada keinginan manusiawi untuk menyeragamkan segalanya, sebuah ambisi globalisme spiritual. Namun, bumi itu bulat dan ia berputar.

Rotasi adalah hukum Tuhan yang tak bisa ditawar. Jika di Arab hilal tampak, ia menjadi garis start. Namun, Indonesia punya iramanya sendiri. Ada jeda 20 jam—sebuah perjalanan panjang cahaya dan bayang-bayang.

Jika memaksakan awal Ramadan di Indonesia agar sama dengan Arab bukan sekadar soal efisiensi, melainkan upaya memangkas takdir ruang.

Jika kita mengabaikan ketiadaan hilal di ufuk kita sendiri hanya demi “rukyat global”, kita seolah-olah sedang memaksa bumi berputar mundur.

Kita sedang mencoba menghapus empat jam perbedaan waktu menjadi nol, sebuah anomali yang menyalahi gerak semu matahari.

Pada akhirnya, beribadah adalah mengakui keterbatasan kita sebagai manusia yang mendiami ruang nyata.

Kita menggenapi Sya’ban menjadi 30 hari ketika hilal tak tampak, bukan karena kita tertinggal, melainkan karena kita patuh pada titik di mana kaki kita berpijak.

Di sana, di antara ruang dan waktu yang fana, keabsahan sebuah amal justru menemukan muaranya yang paling jujur.

Tetapi betapa pun, perbedaan madzhab (furu’iyah) jika bisa dikelola dengan baik itu adalah rahmat. Insyaallah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *