Mabur.co– Barongsai dikenal sebagai kesenian tarian tradisional masyarakat Tionghoa.
Penari barongsai biasanya mengenakan kostum menyerupai singa.
Dalam pertunjukannya satu barongsai diperagakan oleh dua orang penari, satu orang di bagian kepala singa atau yang berperan sebagai pemegang topeng kepala singa.
Sementara satu orang lagi berada di belakang sebagai kaki barongsai.
Barongsai sangat identik dengan perayaan Imlek, hal ini disebabkan oleh atraksinya yang menjadi salah satu bagian atau rangkaian acara yang biasanya memeriahkan momen spesial Imlek.
Tarian ini kini tidak hanya ada di negara Tiongkok saja, namun barongsai telah berada turun temurun hingga di Indonesia.
Tradisi ini dibawa ke Indonesia bersamaan dengan migrasi besar-besaran dari Tiongkok sekitar abad ke-17.
Barongsai merupakan akulturasi budaya Tiongkok dengan budaya Indonesia.
Bahkan pada 2010, barongsai telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia.
Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, singa dipercaya sebagai simbol keberanian, kekuatan, kebijakan, dan keunggulan.
Barongsai sebagai unjuk aksi yang selalu ada pada saat momen perayaan Tahun Baru Cina atau perayaan Imlek, dan kerap menampilkan atraksi uniknya di tempat-tempat umum.
Riuh tabuhan musik pengiring barongsai memecah pagi yang cerah di Kelenteng Fuk Ling Miau, yang terletak di Jalan Brigjen Katamso No. 3, Prawirodirjan, Gondomanan, Kota Yogyakarta.
Warga asal Pakualaman, Delli menuturkan, sengaja datang ke kelenteng untuk melihat kemeriahan perayaan Imlek.
“Saya selalu tertarik untuk datang ke sini, selain melihat para umat Tionghoa berdoa juga pertunjukan barongsai,” ujarnya.
Delli berharap pada Imlek tahun ini, warga etnis Tionghoa dapat merayakan dengan suka cita dan nyaman.
“Mudah-mudahan mereka dapat merayakan Imlek dengan senang dan aman terlihat ada banyak petugas kepolisian juga yang berjaga demi rasa aman,” ujarnya, Selasa (17/2/2026).
Sementara itu, salah satu pemain barongsai Singa Mataram, Mazda Valentino, mengatakan perayaan tahun baru Imlek menjadi berkah. Banyak mendapatkan order pentas untuk menyemarakkan perayaan Imlek.
“Sebelum pentas saya bersama teman-teman terus menggelar latihan intensif agar pada perayaan Imlek bisa tampil maksimal. Sudah sekitar 15 order untuk mengisi pertunjukan di Kota Yogyakarta,” katanya.
Mazda menuturkan, order ini tidak hanya datang dari warga Tionghoa saja, namun sejumlah hotel di Yogyakarta juga mengajukan order.
Mereka juga akan menampilkan barongsai dan liong untuk menyemarakkan Imlek.
“Beberapa terpaksa kami tolak, karena harinya berbarengan,” ujarnya. ***



