Mabur.co– Pusat perbelanjaan atau mal kini mempunyai fenomena unik baru yakni rombongan cari jodoh (rocadoh), menambah daftar fenomena unik lainnya yang ada sebelumnya yakni rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya (rohana).
Belum lama ini, beberapa mal mengadakan kegiatan unik dan belum pernah terjadi di Indonesia.
Kegiatan tersebut yakni ajang cari jodoh. Bahkan kini, sudah ada gerai jasa cari jodoh di salah satu mal di Jakarta Utara.
Ajang cari jodoh tersebut yakni Cindo Match, sebuah jasa cari jodoh yang kini bahkan sudah memiliki gerai di Mall Of Indonesia (MOI), Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Pada awalnya, jasa cari jodoh tersebut hanya diperuntukan khusus etnis Tionghoa-Indonesia atau Cindo, tetapi karena minatnya meningkat, akhirnya pengelola jasa cari jodoh tersebut mulai melirik masyarakat non-Cindo.
Dalam unggahan Instagram voktis.id, pada Senin (16/2/2026), Rocadoh ini sejatinya merupakan sebutan bagi pengunjung yang datang ke mal bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga menjadi ajang untuk mencari pasangan.
“Beberapa mal mengadakan kegiatan yang unik dan belum pernah terjadi di Indonesia. Bahkan kini, sudah ada gerai jasa cari jodoh di salah satu mal di kawasan Jakarta Utara,” ujarnya.
Rocadoh, mirip dengan Shanghai Marriage Market di Cina yakni fenomena sosial unik yang berlangsung setiap akhir pekan (Sabtu-Minggu, 12.00-17.00) di mana orang tua bertindak sebagai perantara mencari jodoh bagi anak mereka.
Mereka memajang profil anak (usia, tinggi, gaji, kepemilikan rumah/mobil) pada payung atau kertas, menargetkan lajang usia 26-35 tahun untuk diaturkan kencan.
Shanghai Marriage Market di Cina skalanya masih tergolong kecil. Hingga kini, fenomena Rocadoh masih dianggap menarik mengingat mal adalah salah satu unit bisnis yang kerap mengubah perubahan perilaku belanja masyarakat akibat perkembangan pesat e-commerce.
Sejatinya, mal dirancang sebagai mesin transaksi dengan logika bisnis sederhana, yakni kunjungan, konversi dan penjualan. Pengelola biasanya mengukur keberhasilan bisnis malnya lewat tinggi penjualan per meter persegi.
Semua berubah begitu memasuki era e commerce boom. Saat ini, konsumen bisa membeli hampir semua produk secara online dengan harga yang lebih kompetitif dan pengiriman cepat.
Akibatnya, intensitas transaksi di mal terkikis, hanya menyisakan ruang fisik yang memang tidak bisa didigitalkan.
Namun, karena sudah eksis sejak puluhan tahun silam, mal sudah menjadi salah satu ruang interaksi sosial masyarakat.
Secara urutan, mal merupakan tempat sosial masyarakat nomer tiga setelah rumah dan tempat kerja. Ini tercipta, khususnya di perkotaan, lantaran ruang publik terbuka semakin terbatas, kurang aman, dan nyaman.
Karena masih jadi pilihan tempat untuk didatangi, pengelola mal berpeluang mengembangkan bisnisnya dari fenomena Rocadoh.
Ini dilandasi oleh konsep experience economy theory (teori ekonomi pengalaman). Fenomena Rocadoh dapat dilihat sebagai implementasi konkret dari pergeseran tersebut: mal menjadi panggung pengalaman sosial, bukan sekadar tempat konsumsi.
Studi lembaga riset pasar global, Euromonitor pada 2024 menemukan adanya kecenderungan konsumen melirik pengalaman fisik dan sosial pascapandemi.
Karena itu, jika dikelola dengan tepat, fenomena Rocadoh bisa memantik transformasi model bisnis mal yang semula pusat transaksi menjadi ekosistem sosial.
Sementara itu, jika diabaikan, atau tidak diintegrasikan dengan strategi komersial yang tepat, ia hanya menjadi keramaian tanpa cuan berarti.
Kegiatan-kegiatan unik seperti Cindomatch terbukti bisa meningkatkan kunjungan orang tanpa biaya promosi besar. Ini memperkuat posisi mal sebagai ruang komunitas dan gaya hidup.
Dengan basis kedatangan orang yang besar, maka mal perlu melakukan ekspansi monetisasi event berbasis komunitas.
Melalui diversifikasi event yang baik, transaksi di tenant makanan-minuman, hiburan, dan gaya hidup bisa meningkat.
Di sisi lain, tambahan transaksi akan sulit terwujud untuk tenant berbasis produk seperti fesyen lantaran metode pembeliannya sudah berfokus di kanal digital.
Sebagai gantinya, pengelola mal bisa menggandeng para tenant berbasis produk untuk memeriahkan event mal sebagai satu kesatuan.
Kolaborasi ini bertujuan untuk meredam risiko trafik tinggi tapi minim transaksi—terjadi akibat fenomena Rojali dan Rohana.
Terlepas dari hitung-hitungan bisnis, fenomena Rocadoh mengingatkan kita bahwa bisnis ritel bukan hanya soal barang, tapi juga tentang manusia.
Ketika fungsi mal bergeser dari tempat belanja menjadi ruang relasi, manajemen dan pemasaran harus ikut berubah.
Di era ketika hampir semua transaksi bisa dilakukan secara digital, interaksi manusia justru jadi pembeda utama bagi ruang fisik.
Mungkin, masa depan mal bukan lagi tentang apa yang dijual—tapi tentang siapa yang bertemu di dalamnya.
Implikasinya jelas, pengelola mal berserta para tenant perlu bertransformasi dari sekadar penjual produk menjadi penyedia pengalaman yang menarik bagi konsumennya.
Solusi menghadapi kondisi normal baru masyarakat ini tidak lagi bisa berorientasi terhadap produk semata, tapi juga mencakup aspek suasana, pelayanan, dan narasi (story telling).
Tranformasi mal sudah berlangsung oleh negara lain sejak jauh-jauh hari. Amerika Serikat (AS) dan Eropa
Mereka mengembangkan program komunitas dan event untuk memperkuat fungsi sosial mal.
Indikator cuan operasional mal mungkin saja perlu berganti dari sales per square meter, menjadi keterlibatan (engagement) per kunjungan, lamanya kunjungan, dan kualitas pengalaman.
Saat ini sulit membayangkan jika pengunjung akan berbelanja kembali di mal seperti sebelum era pandemi.
Terlebih, posisi e-commerce saat ini sedang dibayang-bayangi oleh penjualan melalui siaran langsung di media sosial (Live Commerce).
Cara berbelanja masyarakat mungkin terus berubah, tapi tidak dengan cara interaksi sosial mereka. Karena mal adalah wadah sosial masyarakat yang sudah menjadi bagian dari hidup kita semua. ***



