Mabur.co- Lilin-lilin merah beragam ukuran tertata rapi, berjajar di tengah hingga di sudut ruangan Kelenteng Fuk Ling Miau, Gondomanan, Yogyakarta. Beberapa di antaranya menyala dengan api kecil yang menari-nari.
Nuansa warna merah terasa kental di tempat itu. Bukan hanya lilin dan puluhan lampion yang tergantung, tetapi juga orang-orang yang hadir mayoritas mengenakan pakaian merah.
Di sejumlah sisi ruangan terdapat guci bokor berwarna keemasan. Di dalamnya, tertancap lidi sisa dupa dan abu pembakaran.
Aroma wanginya masih sedikit tercium saat melintas. Tiga atau empat pemuda yang merupakan pengurus kelenteng, tampak sibuk mengangkat dua meja menuju halaman dalam kelenteng, tepat di depan altar.
Lalu melanjutkan dengan mengangkat baskom berisi air kembang.
Air dalam baskom itulah yang nantinya akan mereka gunakan untuk mencuci patung-patung dewa.
Hari itu, pengurus kelenteng dan jemaat serta para relawan memang menjadwalkan pencucian patung dewa dan dewi, sebuah kegiatan rutin tahunan menjelang tahun baru Tiongkok yang lebih dikenal dengan Imlek.
Peralatan cuci patung seperti kuas kecil, sikat gigi, dan handuk pengering pun telah disiapkan.
Satu per satu patung dikeluarkan dari tempatnya, digendong dengan hati-hati, kemudian diletakkan di dekat baskom.
Beberapa patung yang terbuat dari bahan logam atau keramik terlihat cukup berat saat diangkat.
Wujud kerukunan, persatuan, kesatuan dan toleransi yang kental terasa beberapa hari jelang Tahun Baru Imlek 2577 yang jatuh pada 17 Februari 2025.
Puluhan orang tampak memadati Kelenteng Fuk Ling Miau di Jalan Brigjen Katamso Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta. Mereka memulai memegang sejumlah perangkat untuk membersihkan halaman Altar Kelenteng.
Setelah beberapa saat, mereka bergeser membersihkan area dalam kelenteng. Sudut-sudut bangunan hingga benda-benda di dalam kelenteng dibersihkan, termasuk patung.
Koordinator aksi, Swastika Tri Purwanto, mengatakan ada berbagai komunitas terlibat dalam kegiatan bersih-bersih kelenteng.
Menjelang perayaan Imlek 2026 menjadi momentum untuk membantu sesama warga.
Menurut dia, keterlibatan membersihkan kelenteng sekaligus membantu masyarakat merasa nyaman dalam perayaan Imlek 2026.
“Kita menjaga toleransi. Kita melihat bahwa kondisi kelenteng masih bisa kita bersihkan bareng-bareng,” katanya, saat diwawancarai mabur.co, Kamis (12/2/2026).
Salah seorang relawan, Andriani, mengungkapkan sudah dua kali ikut membersihkan kelenteng. Sebagai orang beragama Islam, ia merasa senang bisa membantu sesama manusia kendati beda keyakinan.
“Saya ikut membantu karena merasa sebagai saudara, sama-sama warga Jogja,” kata perempuan asal Kabupaten Bantul ini.
Selain relawan, bersih-bersih tersebut diikuti warga yang kebetulan berkunjung di Kelenteng Fuk Ling Miau.
Handi, 26, warga Tegal, Jawa Tengah, semula datang di kelenteng untuk sembahyang.
“Niatnya ke sini untuk sembahyang. Pas ada yang ini jadi ikut sekalian bersih-bersih,” ujarnya.
Ia mengatakan bersih-bersih di kelenteng baginya tak sekadar membersihkan diri dari kotoran, namun juga membersihkan hati serta perilaku dari kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan.
“Apabila kita ada perilaku tahun lalu melakukan kekeliruan maka bisa memperbaiki diri. Tahun ini kan Kuda Api, semoga bisa semakin baik dan semakin sukses,” ucapnya. ***



