Mabur.co – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu diwarnai dengan meningkatnya permintaan buah manggis asal Indonesia untuk diekspor ke Cina atau Tiongkok.
Rutin setiap tahun, sejumlah daerah penghasil manggis pun akan kewalahan memenuhi permintaan ekspor buah asli Indonesia itu. Salah satunya adalah Bali.
Awal tahun ini, Badan Karantina Indonesia melalui Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Bali bahkan mencatat adanya peningkatan permintaan ekspor komoditas tersebut
Berdasarkan data Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology), sebagaimana dikutip Karantinaindonesia.go.id, sepanjang 1 Januari hingga 9 Februari 2026, Karantina Bali telah menerbitkan 42 kali sertifikasi ekspor manggis dengan total volume mencapai 79,5 ton dan nilai ekspor sebesar Rp2,6 miliar.
Angka tersebut melonjak sekitar 700 persen dibandingkan Desember 2025 yang hanya mencatat satu kali sertifikasi dengan volume 9,7 ton.
Volume ekspor tahun ini tak jauh berbeda dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 131 kali sertifikasi dengan total volume 356,5 ton.
Lonjakan permintaan ini tak lepas dari tingginya konsumsi buah-buahan premium seperti manggis di Tiongkok menjelang Imlek.
Meski merupakan buah asli wilayah tropis, manggis menjadi salah satu komoditas favorit bagi masyarakat Cina karena dinilai memiliki makna simbolis yang kuat dalam budaya masyarakatnya.
Di Cina, manggis dijuluki sebagai “Ratu Buah” (Queen of Fruits) karena rasa manis-asamnya yang khas dan tampilannya yang eksotis.
Tak heran buah ini kerap dipandang sebagai simbol kemewahan dan kehormatan, sehingga sering disajikan dalam jamuan keluarga maupun dijadikan buah tangan saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Dalam budaya Tionghoa, manggis dipercaya sebagai buah yang membawa keberuntungan dan keseimbangan dalam hidup.
Warna ungu keemasan dari kulit manggis melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan. Sementara jumlah kelopak di bagian bawah kulitnya juga selalu sama dengan jumlah juring daging buah di dalamnya.
Hal inilah yang membuat manggis kerap dijadikan lambang integritas. Yakni apa yang tampak di luar mencerminkan isi di dalamnya.
Nilai tersebut sejalan dengan konsep Xin dalam ajaran Konfusianisme, yakni kejujuran dan dapat dipercaya sebagai salah satu dari Lima Kebajikan Utama (Wu Chang).
Bentuknya yang bulat juga kerap dikaitkan dengan konsep Taiji atau simbol Yin dan Yang, yang melambangkan keseimbangan dan harmoni alam semesta.
Selain nilai simbolis, manggis juga dikenal sebagai buah yang menyehatkan dan dipercaya membawa keberuntungan serta umur panjang.
Aromanya yang harum dan cita rasanya yang unik menjadikannya populer di kalangan masyarakat perkotaan di Tiongkok.
Tak heran, menjelang Imlek, manggis sering diburu sebagai hadiah premium maupun sajian istimewa dalam perayaan keluarga. ***



