Mabur.co – Sejumlah warga kampung Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman menggelar tradisi nyadran di masjid Masjid Kagungan Dalem Sambisari, yang merupakan masjid milik Keraton Yogyakarta.
Ribuan warga nampak mengikuti setiap prosesi Nyadran ini untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, sekaligus juga mengenang dan meneladani perjuangan leluhur termasuk Raja Mataram Sultan Agung.
Rangkaian prosesi ritual nyadran di masjid Sambisari sendiri dimulai sejak pagi. Ratusan warga nampak memenuhi halaman masjid dengan memakai busana tradisional Jawa.
Suasana sakral terasa saat prosesi nyadran diawali dengan pembacaan doa yang dipimpin Abdi Dalem Masjid Sambisari, Mas Bekel Amat Murtejo.
Lantunan Surat Al Fatihah, surat-surat pendek, tahmid, serta tahlil Hadiningrat menggema serempak, bersama tokoh masyarakat dan warga yang duduk bersila dengan khusyuk bersama-sama.

Setelah selesai doa bersama, prosesi dilanjutkan dengan ritual tabur bunga di area makam leluhur sekitar masjid. Warga nampak berjalan beriringan membawa bunga setaman dalam wadah anyaman bambu.
Ritual tabur bunga ini dilakukan sebagai simbol mengharumkan nama dan mengenang jasa para pendahulu, termasuk ulama penyebar Islam yang dimakamkan di Makam Kompleks Masjid Sambisari ini.
Di antaranya seperti Raden Mas Kiai Chasan Bisri atau Kiai Muhsin Besari, putra Kiai Nur Iman dari Mlangi.
Di makam ini, sejumlah warga nampak khusyuk memanjatkan doa-doa agar generasi penerus senantiasa mendapat keberkahan dan keteladanan dari perjuangan para leluhur.
Puncak prosesi sendiri ditandai dengan kirab gunungan berisi hasil bumi serta aneka jajanan pasar yang sebelumnya disusun rapi menyerupai gunung kecil.
Gunungan ini kemudian diarak mengelilingi Dusun Sambisari dengan diiringi doa dan salawat.
Sejumlah anak-anak hingga orang tua, nampak antusias mengikuti prosesi arak-arakan yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil pertanian dan rezeki yang diterima warga.
Setibanya kembali di halaman masjid, gunungan kemudian didoakan oleh penghulu masjid, sebelum akhirnya diperebutkan warga.
Mereka merangsek dengan tertib untuk mendapatkan bagian hasil bumi, yang diyakini membawa berkah. Suasana penuh kegembiraan bercampur haru menutup rangkaian prosesi.

Selain doa dan kirab, kegiatan juga diisi pengajian menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan menghadirkan Gus Faik Muhammad dari Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak.
Dalam tausiyahnya, ia mengajak masyarakat menjadikan tradisi Nyadran ini sebagai sarana menjaga harmoni sosial sekaligus memperkuat keimanan di momen menjelang bulan Ramadan.
Mewakili Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Raden Mas Rahmadi menegaskan bahwa tradisi nyadran bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat akan perjuangan Sultan Agung dalam membangun peradaban dan tatanan budaya Jawa yang berakar pada nilai spiritualitas.
“Tradisi ini adalah wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya merawat kebudayaan adiluhung agar tetap hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi juga datang dari Bupati Sleman, Harda Kiswaya yang turut hadir.
Ia menilai tradisi nyadran di Sambisari mencerminkan religiusitas masyarakat sekaligus memperkuat kohesi sosial.
“Kegiatan ini bukan hanya tradisi budaya, tetapi juga penguat nilai kebersamaan dan spiritualitas warga. Pemerintah mendukung penuh pelestarian tradisi seperti ini agar tetap lestari dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” tegasnya. ***



