110 Tahun Ismail Marzuki: Merekam Perjuangan Dalam Lagu Kenangan

Oleh: Wahjudi Djaja*

Sarina, een kind uit de dessa. Die stampte haar padi tot beras. Zij zong daarbij heel leuke wijsjes. Voor Kromo die lag in het gras.

Sebuah lagu yang digubah tahun 1931 oleh Ismail Marzuki (Kwitang, 11 Mei 1914 – 25 Mei 1958) mengisahkan gadis desa yang berjuang melawan penjajah Belanda. Perlu penelusuran sejarah lebih lanjut apakah jiwa kepahlawanan Ismail Mz terkait dengan tradisi Kwitang (Kwee Tang Kiam, jago silat asal Cina yang masuk Batavia abad XVII). Satu hal yang pasti, Ismail Marzuki dikenal lihat dalam mendokumentasikan beragam peristiwa dan momentum sejarah bangsa ke dalam berbagai jenis lagu.

Kita tak bisa membayangkan bagaimana prosesi ‘boyongan‘ ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta. Sebuah episode yang menandai dimulainya revolusi perang kemerdekaan. Kereta yang ditumpangi Bung Karno, Bung Hatta dan para pemimpin bangsa bergerak dari Jakarta pada 3 Januari 1946. Karena di luar jadwal perjalanan kereta api, maka disebut kereta apu luar biasa. Sampai di Stasiun Tugu pada 4 Januari 1946 setelah beberapa kali lolos dari incaran tentara Belanda. Peristiwa itu kemudian diasosiasikan seperti dalam lirik “Sepasang Mata Bola” karya Ismail Mz:
Dua mata memandang
Seakan-akan dia berkata
Lindungi aku pahlawan
Daripada si angkara murka

Penelitian sementara–Partisipasi Seniman Dalam Perjuangan Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta, (Kemendikbud,.1996: 124-125), lagu tersebut ditulis saat Ismail Mz dalam perjalanan ke Surabaya menghadiri peringatan Hari Radio. Sampai di Yogyakarta, remang-remang cuaca. Bahwa kemudian lagu tersebut diasosiasikan sebagai kenangan perpindahan ibukota, dalam konteks membangun semangat kebangsaan, tentu tak bisa dilarang. Nuansa kenangan tentang Kota Perjuangan juga diabadikan mendiang penyair Joko Pinurbo, Jogja itu terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.

Kemarahan rakyat Bandung pada 24 Maret 1946 yang membakar sendiri kotanya tak mungkin bisa menggelora sampai saat ini andai Ismail Mz tidak menggubah lagu Halo-halo Bandung. Sebuah lagu lama yang dia gubah kemudian dimasuki unsur perjuangan untuk membangkitkan rasa nasionaisme. Lagu lain tentang Kota Kembang ini adalah Bandung Selatan di Waktu Malam dan Saputangan dari Bandung Selatan. Dalam irama keroncong, lagu-lagu tersebut memberikan sentuhan rasa yang memikat.

Bukan hanya merekam peristiwa dalam konteks revolusi perang kemerdekaan, Ismail Mz juga piawai dalam mendeskripsikan tanah airnya sambil membangkitkan rasa cinta. Ini terlihat jelas pada lagu Indonesia Pusaka (1949):
Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa
Disana, tempat lahir beta
Dibuai, dibesarkan bunda
Tempat berlindung dihari tua
Tempat akhir menutup mata

Sebuah pemahaman sejarah, kesaksian atas kehidupan, dan komitmen atas dedikasi perjuangan terlihat jelas pada lirik di atas. Lebih dari sekedar tanah dan air, Ismail Mz menggunakan istilah pusaka. Bukan sebuah komoditas, tetapi ada sesuatu yang keramat saat dia memandang Indonesia. Ada peran leluhur, ada tanggung jawab kekinian kita, dan ada amanah masa depan untuk anak cucu. Sebuah pemahaman dan penghayatan yang kompleks.

Adalah lagu yang bisa menggantikan Gugur Bunga (1945) saat kita melepas kepergian tokoh apalagi pahlawan? Rasanya, sejak Indonesia merdeka sampai saat ini belum ada yang bisa menggantikannya. Sebuah lirik yang disusun dengan bahasa hati, dilandasi rasa hormat dan dibingkai nasionalisme yang saat dinyanyikan tak sulit menggugurkan air mata:
Telah gugur pahlawanku
Tunai sudah janji bakti
Gugur satu tumbuh seribu
Tanah air jaya sakti

Kehalusan perasaan Ismail Mz bisa jadi karena ditempa kondisi keluarga. Baru menginjak usia tiga bulan, ibunya meninggal dunia. Dua kakaknya, Yusup dan Yakup, bahkan meninggal dunia. Ismail kemudian hidup bersama ayah dan kakaknya, Hamidah. Cintanya tumbuh seiring derap perjuangan bangsanya. Tak aneh jika lagu-lagunya memiliki daya renung yang tinggi dan penghayatan yang mendalam. Silakan simak lirik lagu Melati di Tapal Batas (1947):
Engkau gadis muda jelita
Bagai sekuntum melati
Engkau sumbangkan jiwa raga
Di tapal batas Bekasi

Tidak saja menggunakan personifikasi yang pas, Ismail Mz juga memperhatikan betul persajakan (a-i-a-i). Dalam irama keroncong, Toto Salmon menyanyikan lagu itu dengan amat indah dan mengena. Masih banyak lagu gubahan Ismail Mz yang berpijak pada tanah air berikut kisah dan keindahannya. Aryati, Rayuan Pulau Kelapa, Ibu Pertiwi, Bandaneira, Hari Lebaran dll.

Jika nasionalisme dipahami–seperti Hans Kohn membatasi–sebagai paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara, maka Ismail Mz–melalui lagunya–telah meletakkan bingkainya.

Penulis bersama Jose Rizal Manua dan Free Hearty di TIM

110 tahun silam seorang musisi besar lahir dan mendedikasikan hidupnya dalam perjuangan melalui keahlian yang dimilikinya. Masa dimana seniman, sastrawan dan wartawan bersinergi penuh dengan negarawan untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsanya. Namanya dipahatkan pada sebuah pusat kebudayaan Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Sudah tiga kali saya ke TIM sebelum direnovasi oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pernah, pada 12 Mei 2018 diskusi bertiga dengan Dr Free Hearty (Ketua Umum Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negara Serumpun) dan Bang Jose Rizal Manua. Salah satu temanya, sejarah harus didudukkan pada tempatnya, tidak saja oleh para pelaku tetapi juga kita penerusnya.

Pesan Dr Free Hearty saat itu, bahwa hidup harus berarti. “Bila hidup itu mengalir, apalah arti karang, kerikil atau pasir. Nama besar tak harus diikuti dengan besar kepala karena hidup mengejar hakikat semata”. Lalu, kini kita disibukkan dengan diskusi bahwa musik itu haram. Ah, Indonesia!

Ksatrian Sendaren, 11 Mei 2024
*Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama), dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *