Mabur.co – Seorang warga asal Borobudur, Magelang Jawa Tengah berinovasi dengan membuat pertunjukan wayang jenis baru yang disebut Wayang Relief.
Tak seperti wayang kulit yang menceritakan kisah Ramayana atau Mahabarata, Wayang Relief ini justru mengisahkan cerita dari kisah yang terdapat pada relief Candi Borobudur.
Dia adalah Wito Prasetyo, asal Dusun Sangen, Desa Candirejo, Borobudur, Kabupaten Magelang. Ternyata ia sudah mulai membuat Wayang Relief ini sejak tahun 2022 silam.
Dikutip Berita Magelang, Senin (11/5/2026), Wito mengaku membuat Wayang Relief ini sebagai jawaban atas ketertarikannya pada relief Candi Borobudur yang menyimpan begitu banyak pesan moral.
Sebagai mahakarya budaya dunia, Borobudur tak hanya menyimpan kemegahan arsitektur masa lampau.
Namun juga menyimpan berbagai pesan kehidupan lewat 2.672 panel relief yang terdapat di seluruh keliling bangunannya.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.460 panel merupakan relief naratif yang memuat berbagai cerita, seperti Karmawibhangga, Lalitavistara, Jataka Avadana, Gandawyuha, hingga Bhadracari.
Relief-relief ini umumnya akan dibaca dengan metode pradaksina, yakni berjalan searah jarum jam dimulai dari sisi timur candi.
Namun sayangnya tak semua orang awam bisa mengerti isi maupun pesan moral dari cerita ini.
Atas dasar itulah ia membuat Wayang Relief. Selain agar cerita pada relief Candi Borobudur dapat lebih mudah dipahami, wayang ini juga dibuat agar semakin banyak orang mengetahui isi pesan moral yang terkandung di dalamnya.
Tentang Wayang Relief
Pada tahap awal, Wito sendiri mengangkat cerita “Sasa Jataka” yang berada pada panel 23–25 di lantai satu sisi timur luar atas Candi Borobudur. Kisah tersebut menceritakan Bodhisattwa yang terlahir kembali sebagai seekor kelinci.
Dalam cerita itu, sang kelinci bersama tiga sahabatnya yakni berang-berang, kera, dan serigala, bertekad memberikan derma kepada seorang pertapa.
Nilai moral utama yang ingin disampaikan ialah ketulusan dan kesungguhan hati dalam memberi yang terbaik kepada sesama.
Wito mengatakan, selain cerita Sasa Jatakaa, sejumlah cerita lain dari relief Candi Borobudur juga telah dipersiapkan untuk dikembangkan menjadi lakon wayang relief berikutnya.
Berbeda dengan wayang kulit yang harus dibuat dengan kulit hewan asli, bentuk Wayang Relief lebih fleksibel. Tak jarang ia bahkan membuatnya dengan media dua dimensi yang lebih terjangkau seperti kertas karton.
Kertas karton itu biasanya akan dipahami sesuai dengan karakter masing-masing tokoh namun dengan motif tatahan maupun pewarnaan yang dibuat lebih sederhana dibanding wayang kulit.
Dalam pertunjukannya, wayang relief juga tetap menggunakan kelir atau layar putih sebagai latar.
Hanya saja teknik penataan atau simpingan dibuat lebih menyerupai struktur punden berundak seperti bentuk bangunan Candi Borobudur.
Dimana biasanya tokoh wayang dengan ukuran paling tinggi akan ditempatkan di bagian luar, sedangkan wayang yang lebih kecil akan ditempatkan di bagian dalam. Sementara di tengah akan dipasang kayon atau gunungan.
Untuk musik pengiring Wito tetap menggunakan gamelan sebagaimana wayang kulit pada umumnya. Namun, nuansa gamelan dibuat lebih spiritual dan kontemplatif guna menyesuaikan isi cerita yang berisi ajaran kebajikan Buddha.
Bahasa Indonesia biasanya akan digunakan Wito sebagai dalang dalam setiap pertunjukan wayang relief agar pesan cerita lebih mudah dipahami masyarakat secara luas.
Penggunaan bahasa Indonesia ini juga sekaligus menunjukkan bahwa wayang relief dirancang sebagai pertunjukan berskala nasional yang dapat dinikmati masyarakat lintas daerah.
Durasi pertunjukan sendiri biasanya akan dikemas lebih ringkas dengan waktu pementasan sekitar satu hingga dua jam, menyesuaikan cerita dan kebutuhan pertunjukan.
Wayang Relief sebagai Media Edukasi Budaya
Melalui wayang relief, Wito Prasetyo berupaya menghadirkan cara baru untuk membaca kembali pesan-pesan kebajikan dari relief Candi Borobudur.
Tidak hanya sebagai tontonan, pertunjukan ini juga diharapkan menjadi media edukasi budaya sekaligus ruang refleksi tentang nilai-nilai kehidupan yang diwariskan leluhur Nusantara.
Berkat inovasinya Wito pun berhasil mendapatkan program dana hibah dari pemerintah Indonesia pada 2025 yang bersumber dari Dana Abadi Kebudayaan dan dikelola oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Tak hanya itu, karya wayang relief ini juga telah didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum sebagai ciptaan seni terapan dengan judul “Wayang Relief”. Dan tercatat dalam Surat Pencatatan Ciptaan yang terbit pada 29 April 2026 lalu.




