Tahun Baru Tak Lebih dari Sekadar Pergantian Waktu Biasa

Setiap momen pergantian tahun, yang terjadi pada 31 Desember menuju 1 Januari di tahun berikutnya, banyak orang merayakannya dengan berbagai cara, seperti misalnya pesta kembang api, bakar-bakar makanan di depan rumah, hingga mengadakan doa bersama.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah setiap momen pergantian tahun harus dirayakan seperti itu? Apakah momen pergantian tahun boleh tidak dirayakan sama sekali?

Well, kita mesti sedikit flashback ke sejarah asalnya.

Dikutip dari berbagai sumber, perayaan tahun baru sejatinya sudah dimulai dari zaman sebelum masehi, tepatnya 200 SM yang dipelopori oleh masyarakat Mesopotamia. Perayaan ini dilakukan karena pada saat itu belum perhitungan ada kalender masehi, dimana mereka menandai pergantian tahun dengan cara melihat matahari yang tepat berada di atas khatulistiwa.

Jika dihitung melalui perhitungan kalender Masehi saat ini, maka hari itu terjadi pada tanggal 20 Maret. Artinya tahun baru akan dirayakan pada tanggal 21 Maret. Perayaan tradisional semacam itu disebut juga Nowruz atau tahun baru Persia, yang menandai hari pertama musim semi.

Momen pergantian tahun baru pada masa itu dilakukan dengan membersihkan dan menghias rumah, dan juga menyiapkan berbagai makanan dan minuman untuk para tamu. Mirip seperti momen silaturrahmi atau halal bi halal pada hari lebaran di masa kini.

Seiring dengan perkembangan peradaban, mulai banyak orang yang kemudian memanfaatkan momen pergantian tahun dengan berbagai macam perayaan. Hal ini sudah bisa ditemukan sejak abad ke-7 silam di negara Tiongkok. Disana orang-orang kerap merayakan pergantian tahun baru Imlek dengan meniupkan terompet, yang kemudian diikuti dengan menyalakan petasan atau kembang api.

Mereka beranggapan bahwa membunyikan suara-suara keras di malam pergantian tahun dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat, sekaligus membawa keberuntungan. Selain itu, kembang api juga melambangkan semangat baru, harapan, dan doa untuk kemakmuran bagi seluruh masyarakat Tiongkok saat memasuki tahun yang baru.

Seketika perayaan tersebut diikuti pula oleh masyarakat dari berbagai negara lain di dunia, sehingga membuat perayaan tahun baru semacam ini menjadi tampak “umum” untuk dirayakan setahun sekali.

Di Indonesia sendiri, momen perayaan tahun baru sering dimanfaatkan dengan menggelar berbagai acara nongkrong, baik itu  dari kalangan keluarga, teman, restoran/hotel (yang terpaksa lembur di malam tahun baru), sampai perusahaan tertentu yang terkadang juga memberikan kerja ekstra di momen pergantian tahun untuk melayani customer, dan seterusnya.

Selain itu, tentu saja UMKM di pinggir jalan juga kebagian rejeki di momen-momen seperti ini. Karena dengan banyaknya orang yang berkumpul di satu titik untuk merayakan tahun baru, mereka bisa ikut mendapatkan untung dari pernak-pernik yang dijual, seperti misalnya terompet, kembang api, dan tentu saja makanan dan minuman, untuk mengisi tenaga selama kegiatan nongkrong merayakan tahun baru tersebut.

Munculnya Resolusi di Setiap Pergantian Tahun

Selain soal perayaan, tahun baru biasanya identik dengan kata “resolusi”. Resolusi adalah semacam harapan baru bagi individu tertentu yang ingin dicapai di tahun yang baru. Resolusi juga bisa disebut sebagai doa atau cita-cita.

Sama halnya seperti perayaan tahun baru, istilah resolusi juga sudah ada sejak hampir 4.000 tahun silam. Dimana bangsa Babilonia saat itu menandai pergantian tahun dengan melakukan festival dan ritual sebagai rasa syukur. Setelah itu raja Babilonia juga melakukan sumpah ketika memasuki tahun yang baru, untuk bisa menjadi penguasa yang lebih baik bagi seluruh rakyatnya.

Di era saat ini, pasti kita sudah sering mendengar kata “resolusi” di setiap menjelang pergantian tahun. Namun pada akhirnya, apakah resolusi itu benar-benar menjadi kenyataan?

Biasanya kata resolusi akan mulai lenyap alias jarang dibicarakan ketika memasuki pertengahan Januari. Karena disitu orang-orang sudah mulai menjalani “realita hidup” yang sebenarnya tanpa berpikir lagi soal angan-angan yang ingin dicapai dan sebagainya. Pada akhirnya, resolusi hanya akan menjadi resolusi, tanpa benar-benar dijalankan apalagi dicapai.

Tapi anehnya, semua orang seolah-olah selalu memaksakan diri untuk membuat resolusi tahun baru, hanya karena ingin mengikuti trend, atau sekedar terlihat keren untuk ditampilkan di sosial media.

Tidak Ada yang Spesial dari Pergantian Tahun

Dari semua penjelasan tadi, apakah pernah terlintas dalam pikiran anda, haruskan setiap pergantian tahun dirayakan dengan cara seperti ini? Baik itu pesta-pesta beserta resolusinya?

Bertahun-tahun lamanya anda merayakan tahun baru, membuat resolusi, dan sebagainya, lalu apa hasilnya? Apakah sesuai dengan yang anda harapkan? Atau justru malah lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya?

Well, hidup memang tidak pernah mudah. Mau itu tahun baru, tahun lalu, atau kapanpun itu. Semuanya penuh dengan tantangan dan masalahnya masing-masing. Dan tentu saja, masalah tersebut datang tanpa mengenal waktu. Sehingga kita harus selalu siap dengan segala situasi yang terjadi di depan mata.

Dari sini mungkin kita bisa belajar, bahwa tahun baru hanyalah sebuah pergantian tanggal, bulan, hari, jam, menit, dan detik dari sebelumnya. Tidak ada yang spesial sama sekali.

Bahkan kalau dipikir lebih jauh, pergantian waktu tersebut menjadi penanda bahwa waktu kita di dunia sudah semakin berkurang. Kita semakin dekat untuk dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Maka, esensi apa yang membuat tahun baru pantas dirayakan dengan heboh seperti itu?

Belum lagi soal efek domino yang biasa terjadi setelah malam pergantian tahun, seperti sampah yang menumpuk, kemacetan lalu lintas, berisik, hingga resiko kematian yang selalu mengintai. Itu semua bisa terjadi ketika banyak orang berkumpul di satu tempat hanya untuk merayakan sesuatu yang sifatnya semu dan hanya trend sesaat.

Pada akhirnya, apapun cara anda dalam merayakan tahun baru, termasuk jika tidak merayakannya sama sekali, itu adalah pilihan pribadi anda. Namun alangkah baiknya, anda juga ikut memikirkan bagaimana dan seperti apa perayaan tersebut dilakukan, termasuk dampaknya untuk orang-orang di sekitar anda. Daripada sekedar merayakan sesuatu yang sifatnya semu, masih banyak cara lain yang lebih bijak yang bisa dilakukan untuk merayakan tahun baru, tanpa harus capek-capek keluar duit, keluar rumah, apalagi sampai menghasilkan sesuatu yang tidak diinginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *