Rakyat Paling Bahagia di Dunia: Pasangan Ini Lestarikan Budaya dengan Produksi Gandewa

Mabur.co – Bertempat di rumah sederhana miliknya, Joko Triyanto (55) warga Padukuhan Ngulakan, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo, menjalankan usaha pembuatan busur panah tradisional khas Yogyakarta atau dikenal juga dengan nama gandewa. 

Sudah lebih dari satu dekade terakhir, tepatnya sejak 2012 silam, ia menjalankan usaha pembuatan kerajinan busur panah dengan memanfaatkan bahan-bahan tak terpakai di sekitarnya, mulai dari limbah kayu, bambu, hingga pipa paralon bekas.

Bersama istrinya yang juga seorang atlet pemanah, ia menggantungkan sumber penghidupan keluarganya dari usaha pembuatan busur dan anak panah, baik untuk panahan tradisional jemparingan maupun panahan prestasi modern. 

Dibantu sejumlah pekerja, Joko menjalankan proses produksi gandewa secara mandiri di rumahnya. Mulai dari pemilihan bahan, pemotongan kayu untuk gagang busur, perakitan tali busur, pembuatan anak panah, hingga tahap akhir penyelesaian. Bahan baku utama berasal dari limbah kayu, bambu, serta material bekas lain yang masih layak pakai.

Tempat produksi busur panah tradisional atau gandewa milik Joko foto JH Kusmargana

Dalam sebulan, Joko mampu memproduksi sekitar 10 hingga 20 busur panah berbagai jenis, serta sekitar 25 lusin anak panah. Harga jual busur panah sendiri berkisar antara Rp350.000 hingga Rp1.200.000 per unit, sementara anak panah dijual Rp400.000 hingga Rp800.000 per lusin, tergantung bahan dan model. Dari aktivitas tersebut, Joko dan istrinya pun bisa meraup omzet belasan juta rupiah per bulan.

“Alhamdulillah bisa untuk makan sehari-hari dan menyekolahkan anak,” katanya.

Produk buatan Joko sendiri selama ini tidak hanya dipasarkan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan JawaTengah saja. Sebab banyak pesanan juga  datang dari berbagai daerah lain, seperti Sumatra, Kalimantan, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur. Ia bahkan juga pernah menerima pesanan dari luar negeri, salah satunya dari Swiss.

Untuk pemasaran, Joko memilih melakukannya secara langsung dari mulut ke mulut meski sebagian tetap dilakukan melalui media sosial dan jaringan komunitas panahan. Joko tidak memiliki toko fisik, tetapi mengandalkan reputasi produk dan rekomendasi dari pengguna. Terlebih namanya sudah sangat dikenal di kalangan pemanah tradisional di Kulon Progo dan sekitarnya. 

“Awalnya dari kebutuhan komunitas panahan. Lama-lama pesanan datang dari luar daerah,” kata Joko.

Usaha pembuatan busur panah ini bermula dari ketertarikan Joko pada olahraga panahan. Sekitar 10 tahun lalu, ia mulai mempelajari cara membuat busur dan anak panah secara mandiri. Pengetahuan tersebut akhirnya terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap panahan tradisional jemparingan.

Selain memproduksi peralatan, Joko juga aktif melatih panahan, khususnya jemparingan. Ia membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar, tanpa mematok biaya tetap.

Menurut Joko, meningkatnya minat masyarakat terhadap panahan menjadi faktor utama berkembangnya usaha ini. Tren tersebut juga mendorong munculnya perajin-perajin busur panah tradisional di sejumlah daerah.

Bagi Joko, menjalani usaha pembuatan busur panah tradisional ini tidak hanya soal ekonomi. Sebab baginya olahraga panahan tradisional jemparingan merupakan bagian dari identitas budaya Yogyakarta yang perlu dijaga keberlangsungannya. Dengan menyediakan peralatan yang terjangkau dan berkualitas, ia berharap semakin banyak masyarakat tertarik menekuni olahraga tersebut.

“Kalau peralatannya tersedia dan mudah diakses, orang akan lebih tertarik mencoba,” ujarnya.

Joko berharap jemparingan dapat terus berkembang, tidak hanya sebagai olahraga tradisional, tetapi juga sebagai aktivitas yang memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat lokal..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *