Nama Diponegoro sudah terbaptis sebagai pahlawan yang tak terbantahkan. Namanya melambung tinggi karena menjadi motor Perang Jawa antara 1925 hingga 1930 yang membuat Belanda akhirnya bangkrut.
Banyak infrastruktur Belanda yang rusak dalam Perang Jawa itu seperti jembatan, rel kereta api, bangunan pemerintahan, dan sejenisnya. Perang Jawa juga yang menjadi tonggak penyadaran nasionalisme agar rakyat siap berdarah-darah membela Tanah Air.
Kita tahu, Diponegoro sudah menjadi sosok ikonik pada zamannya. Lelaki kurus yang tampak ringkih kesehatannya itu ternyata bisa menggelorakan semangat peperangan melawan Belanda. Namanya menjadi oposisi sejati bagi Belanda. Diponegoro tidak hadir sebagai sampah zaman. Diponegoro tidak hadir sia-sia sebagai manusia. Ia tahu betul kapan harus berkiprah menyumbangkan hidup untuk tidak tinggal diam melawan Belanda.
Sebenarnya banyak momentum perang melawan Belanda yang digelorakan siapa pun pahlawan yang ada sebelum dan sesudah Diponegoro berkiprah. Banyak perjanjian yang dibuat dengan Belanda diwakili oleh para tokoh pribumi. Namun semuanya itu bisa saja diingkari oleh Belanda. Sama dengan nasib Diponegoro yang akhirnya berhadapan dengan politik pengasingan: dibuang oleh Belanda ke luar Jawa.
Sampai di sini saya tidak habis pikir kenapa sampai lahir juga lukisan tentang penangkapan Diponegoro yang dibuat oleh Raden Saleh pada 1857 dan itu merupakan rekaman zaman saat penangkapan Diponegoro yang sesungguhnya pada 28 Maret 1830. Saya sangat kagum melihat lukisan penangkapan Diponegoro yang dibuat oleh Raden Saleh itu dan saya kira itulah lukisan yang bernilai sebagai nujuman atau ramalan hari depan Indonesia.
Raden Saleh mungkin saja sangat biasa saat membuat lukisan berdasarkan kisah nyata itu. Namun keberadaan lukisan itu seperti menuntun, membukakan jalan, bagi terbukanya tabir siasat licik Belanda. Melalui lukisan itu pula perlahan-lahan masyarakat Indonesia bisa belajar mengenai politik yang licik, strategi menghadapi perundingan, dan esensi negosiasi melawan musuh, siapa pun dia.
Bagi kita boleh jadi yang bisa dipetik dari kiprah Diponegoro adalah bagaimana cara terbaik dalam mengisi zaman. Agar bukan sampah eksistensi yang diberikan kepada negara namun sumbangsih sebagai agent of change, agen perubahan melalui profesi masing-masing. Raden Saleh sendiri mungkin memang hanya dokumentator visual pada zamannya, perannya mirip dengan pakar digital zaman kini yang dipercaya mendokumentasikan peristiwa di seputar kekuasaan. Barangkali ia mirip dengan jurnalis istana negara. Waktu itu juga pesaingnya masih sedikit.
Namun entah mengapa ia diizinkan juga menyaksikan adegan penangkapan Diponegoro itu. Semoga saja apa yang ia visualkan tidak berbeda jauh dengan keadaan yang sesungguhnya pada zaman itu.
Saya kerap berandai-andai dan membayangkan apakah yang ada dalam pikiran orang-orang yang datang berkerumun pada peristiwa penangkapan Diponegoro yang pasti sangat dramatis itu.
Siapa sajakah mereka? Saya periksa satu per satu orang di dalam lukisan itu, semuanya seperti berada dalam suasana yang murung dan menegangkan. ***



