Gadunganisme dan Budaya Manipulasi Kita Sehari-hari

Mabur.co – Belakangan sedang tren bangkitnya budaya gadungan. Atau hanya karena gaduh di media mainstream dan media sosial saja sehingga fenomena budaya gadungan kini kembali marak? Bukankah sejak zaman dahulu juga sudah ada budaya gadungan dalam bidang apa pun?

Kalau dua pertanyaan itu justru benar, maka budaya gadungan bisa saja tidak mengenal tren. Budaya itu akan selalu ada dengan sendirinya seiring perkembangan zaman.

Motif orang menjadi gadungan juga macam-macam. Ada yang mengincar harta, itu yang paling umum. Menjadi gadungan untuk mendapatkan rupiah. Namun ada juga yang amat berbeda, menjadi gadungan karena ingin merogoh perasaan lawan jenis! Ahai, ada ada saja, bukan?

Masalahnya, kalau menulis pakai AI 100 persen itu, jadinya masuk perangkap budaya gadungan apa bukan? Mungkin ini akan memancing perdebatan. Tapi mungkin juga menarik untuk diangkat sebagai medan perbincangan khas.

Artinya yang bisa menjadi punya predikat gadungan bukan hanya pramugari, polisi, wartawan, pejabat, namun jangan-jangan kategori orang menulis dengan AI penuh, bisa juga disebut gadungan. Jangan-jangan lho, ya. Nanti saya bisa dirujak netizen. Hahaha.

Karena dunia menulis sebenarnya dunia kreativitas, sama dengan karya seni lainnya. Karya tulis berupa karya sastra atau apa pun jelas basisnya yaitu kreativitas. Kalau begitu, bukankah lebih baik hand made, bikinan tangan sendiri secara langsung.

Kalau untuk dunia kedokteran, misalnya, saya kira AI sudah bisa digunakan secara penuh. Justru agar penanganannya presisi dan tidak mengenal mal praktik.

Oleh sebab itu, perspektif gadungan ini juga murni akan diberlakukan menjadi kriminal, main-main, atau apa. Kalau murni kriminal maka sudah selesai. Titik. Nah kalau ternyata ada embel-embel lain yaitu gadungan dengan motif bersenda gurau misalnya, itu jadi lain lagi.

Tapi, apa ada jadi gadungan untuk bersenda gurau? Untuk konteks itu pula, barangkali yang tepat adalah menjadi politisi, karena boleh mencla-mencle dan itu bisa jadi hanya senda gurau. Artinya jadi politisi dengan sengaja ingin bersenda gurau, maka ingin disebut pula sebagai manusia gadungan. Bukan manusia substantif! Hahaha.

Nah inilah kelebihannya jika orang menggunakan kreativitas dalam memandang sesuatu maka terminologi gadungan pun bisa menjadi bernilai lentur. Setidaknya masih bisa dimaafkan. Tapi, apakah memaafkan politisi yang pernyataannya bisa bernilai gadungan, nggak jelas benar salahnya, bisa tetap dilakukan? Mengingat pernyataan politisi sering sumir, bias, maunya begini ternyata lewat jalan begitu.

Saya kalau pas jadi juri lomba karya sastra itu juga sering deg-degan jangan-jangan berhadapan dengan karya gadungan? Kawan saya yang jelas sastrawan saja, menulis autentik, begitu dicoba karyanya dimasukkan aplikasi pendeteksi AI, kok keluarnya pernyataan 70 persen tidak autentik? Padahal ia benar- benar menulis sendiri. lho!

Wah ngeri juga ya semua bisa saling mencurigai. Lalu siapa yang gadungan siapa yang asli? Jangan- jangan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap pasukan Delta Force Amerika itu juga manusia gadungan, manusia robot?

Belajar dari itu juga setiap pejabat di Indonesia kini mungkin segera berpikir dan memutuskan ada diri yang lain, yang jadi gadungan, agar bisa mewakili ke mana-mana. Ngeri sekali jika itu sampai terjadi. Ideologi gadunganisme berjalan melenggang ke mana-mana. Mirip manusia robot yang sekarang bisa persis dengan kita dan bisa dipesan ke Tiongkok karena memang mampu membayar.

Lalu siapakah yang sesungguhnya menjadi kekasih Anda hari ini? Apakah ia kekasih gadungan? ***

Satmoko Budi Santoso, jurnalis dan sastrawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *