Mabur.co – Permainan tradisional asal Yogyakarta, Jejamuran atau juga dikenal dengan Jamuran menjadi salah satu dolanan anak yang saat ini nyaris punah.
Hal itu terlihat dari jarangnya permainan ini dimainkan oleh anak-anak dalam satu dekade terakhir, bahkan dalam berbagai ajang lomba permainan tradisional yang digelar oleh pemerintah sekalipun.
Diwariskan secara turun-temurun, Jamuran sendiri merupakan permainan tradisional yang menggabungkan unsur gerak dan lagu serta interaksi sosial. Dolanan anak ini biasanya dimainkan oleh tujuh hingga sembilan orang.
Karena tidak memerlukan peralatan khusus atau tempat yang luas, permainan ini sangat mudah dimainkan oleh siapa saja dan di waktu apa saja, bahkan di malam hari sekalipun.
Dikutip laman Kalurahan Sinduadi Sleman, permainan Jamuran memiliki ciri khas yakni penggunaan tembang dolanan anak berjudul Jamuran yang dinyanyikan bersama oleh para pemain.
Dalam permainan ini, satu anak akan bertugas sebagai pancer, sementara pemain lainnya bergandengan tangan membentuk lingkaran mengelilingi pancer yang berdiri di tengah. Seluruh pemain kemudian berjalan memutar sambil menyanyikan lagu atau tembang Jamuran.
Saat kalimat terakhir lagu dinyanyikan, para pemain akan berhenti berjalan. Setelah itu pancer kemudian menyebutkan jenis jamur yang akan menjadi instruksi bagi seluruh pemain.
Jika pancer menyebut jamur let wong, maka para pemain harus segera mencari pasangan dan berpelukan. Bila yang disebut jamur let kayu, pemain harus mencari pohon atau tiang untuk dipeluk.
Ada pula jamur emprit mabur, yang mengharuskan pemain berlari menghindari kejaran pancer, atau jamur kendhil yang membuat pemain harus segera berjongkok di arena permainan.
Disamping 4 jenis jamur tersebut, masih ada jamur lain yang bisa disebut. Seperti jamur gagak, jamur parut, jamur bunga, hingga jamur monyet.
Jika pancer telah menyebut satu jenis jamur, namun ada pemain yang terlambat bergerak sehingga tertangkap atau tidak sesuai intruksi, maka dia akan bergantian menjadi pancer pada putaran berikutnya.
Meski terlihat sederhana, namun permainan jamuran mampu membawa keseruang bagi para pemainnya. Tak hanya itu, permainan tradisional ini juga dapat melatih konsentrasi, ketangkasan, kerja sama, hingga kemampuan anak untuk berpikir dan merespons instruksi dengan cepat.
Karena dimainkan secara berkelompok, permainan jamuran yang konon diciptakan oleh Sunan Giri ini juga dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan, keakraban dan mempererat hubungan pertemanan.
Mungkin tak banyak yang tahu, dibalik permainan sederhana ini, ada ajaran filosofis dan pesan mendalam yang hendak disampaikan Sunan Giri terhadap masyarakat khususnya generasi muda.
Dalam tradisi Jawa, kata jamuran dimaknai sebagai simbol manusia yang terus tumbuh dan mengembangkan kemampuan dirinya, sebagaimana jamur yang tumbuh dari alam.
Pertanyaan ‘jamur apa’ yang diucapkan dalam lagu melambangkan pilihan, keinginan, atau cita-cita yang muncul dari pikiran manusia. Sementara tindakan memilih jenis jamur dimaknai sebagai proses menentukan tujuan hidup yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Filosofi permainan ini mengajarkan bahwa manusia harus terus mencari ilmu, keterampilan, dan pengetahuan sebagai bekal kehidupan. Setelah menemukan jalan yang dipilih, seseorang juga harus konsisten menjalaninya, tidak mudah berpindah-pindah tujuan, serta tetap teguh dalam pilihan hidupnya.

