Mabur.co- Nama Tjokropranolo memang tak secemerlang tokoh bangsa lainnya dalam Perang Revolusi (1945-1949). Pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 21 Mei 1924, pengawal yang merangkap ajudan Panglima Besar TNI, Jenderal Soedirman tetap punya peran penting. Ia berani pasang badan melindungi martabat negara dan atasannya.
Kesetiannya melindungi Jenderal Soedirman yang sedang sakit selama perang gerilya tiada dua. Kondisi itu membuatnya jadi salah satu suksesor dari perang gerilya. Ia kerap jadi pilihan utama Soedirman untuk menjalankan misi khusus.
Sejarawan UGM, Fajar Pratikto mengatakan, Letnan Jendral TNI (Purn) Tjokropranolo, sebelum menjabat gubernur DKI, ia menjadi asisten Gubernur Ali Sadikin selama satu tahun.
“Baru kemudian pada Juli 1977, pria yang akrab disapa Bang Nolly itu dilantik sebagai Gubernur Jakarta,” katanya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Fajar, Letnan Jendral TNI (Purn) Tjokropranolo menjadi pengawal pribadi Jenderal Soedirman di Yogyakarta tahun 1946 dengan pangkat kapten.
Dia kemudian menjadi komandan dua batalyon, yaitu komandan Corps Polisi Militer (CPM) tahun 1948 dan komandan pasukan pengawal pribadi Jenderal Soedirman dari 1948-1949.
“Selama perang pembelaan kemerdekaan Indonesia melawan Belanda, dia ikut terjun dalam kampanye perang gerilya bersama Jenderal Soedirman dari awal sampai akhir, saat Jenderal Soedirman pulang ke Yogyakarta tanggal 10 Juli 1949,” ucapnya.
Meloloskan Soedirman dari Serangan Maut
Menurut Fajar pula, setelah Belanda menyerahkan kepulauan Nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Tjokropranolo mempersiapkan pengaturan keamanan untuk kedatangan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan Jenderal Soedirman di Jakarta.
“Letnan Jenderal TNI (Purn) Tjokropranolo, turut meloloskan Soedirman dari serangan maut tentara Belanda yang berkali-kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap Soedirman. Dalam karier kemiliteran, ia tidak hanya terjun ke medan, tetapi juga banyak terlibat dalam posisi penting di balik layar, antara lain Asintel Siaga dan Kepala Intelijen dalam berbagai konflik, dan sekretaris militer untuk presiden,” ucapnya.
