Punahnya Aksara Jawa

Judul ini akan berlaku andai hingga saat ini sosialisasi penggunaan aksara Jawa tidak digalakkan. Jika penggunaan aksara Jawa digalakkan seperti yang terjadi sekarang, maka akan lain ceritanya.

Kita tahu, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta cukup gencar membuat acara terkait dengan sosialisasi aksara Jawa. Para pelajar dan mahasiswa juga kalangan umum kini banyak juga yang mengikuti program pengenalan aksara Jawa. Nama jalan, nama gang kampung, majalah, tabloid, dan kalender yang bertuliskan aksara Jawa juga banyak dan mudah didapat. Terlebih lagi di internet juga melimpah ruah bahkan metodologi pembelajaran yang efektif juga ada.

Ilustrasi Pembelajaran aksara Jawa Foto Dokumentasi Apri Nugroho

Namun, bagi saya yang jadi pertanyaan adalah, yang benar-benar bisa membaca aksara Jawa  apakah jumlahnya masih banyak juga? Hingga tulisan ini saya buat, saya belum mendapatkan data yang pasti mengenai jumlah orang yang mampu membaca dengan baik aksara Jawa, mulai dari lingkup kalurahan, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Kalau dari sisi komunitas memang ada yang tetap melestarikan dan juga sudah banyak.

Tetapi, sudahlah, itu bukan menjadi ganjalan yang terpenting adalah sosialisasi yang terus menerus dan edukasi tiada jeda. Lebih dari itu adalah penyadaran pentingnya mengenal dan syukur-syukur bisa membaca aksara Jawa dengan baik, tak pernah istirahat dicanangkan.

Apalagi kini kita berhadapan dengan zaman yang juga memberi ruang pada bangkitnya artefak hingga mendapatkan apresiasi memadai. Oleh sebab itu, dengan adanya rasionalisasi aksara Jawa akan semakin membuat masyarakat terbuka pikirannya bahwa memang ada yang harus dipahami dan dilestarikan dari pertumbuhan sejarah literasi kuno berupa aksara Jawa.

Kita bersyukur bahwa kongres aksara Jawa dan lomba aksara Jawa juga selalu rutin digelar dan yang menyenangkan peserta kongres atau lomba itu bisa ratusan. Pastilah jumlah ini harus selalu dijaga agar semakin bertambah bulan semakin banyak lagi yang meminati. Meskipun cukup susah juga untuk menggenjot secara masif karena sejumlah pihak menganggap keberadaan aksara Jawa kurang populis.

Kendala persepsi inilah yang harus ditumbangkan. Apalagi jika dibenturkan dengan fungsionalisasi, maka akan semakin tergencet eksistensi aksara Jawa dalam ranah publik. Tapi, begitulah tantangannya, setiap yang berbau artefak bisa jadi sepi peminat. Namun bukan berarti yang sepi itu buruk. Justru untuk aksara Jawa meskipun malas mempelajari, namun sesungguhnya diam-diam menyimpan pesona tersendiri.

Sayangnya, masyarakat memang sudah cukup lama dinina-bobokan oleh cuci otak budaya massa yang arusnya kurang memberi ruang pada eksistensi aksara Jawa. Terlebih lagi jika tidak ada dana keistimewaan, apakah di Yogyakarta penggalangan edukasi aksara Jawa juga akan bernilai gencar? ***   

Penulis adalah jurnalis dan sastrawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *