Kelompok musik asal Korea, Bangtan Sonyeondan atau dikenal secara singkat dengan sebutan BTS akan menggebrak publik musik Indonesia. Kini kampanye kemunculan mereka sedang digodok. Media berebut saling merespons.
Kelompok musik K pop ini juga dikenal kemunculannya dengan gaya perpaduan hip hop dan rap. Evolusi BTS sejak 2013 sempat menyematkan identitas nama lain yang dikenal dengan Beyond The Scene.
Entah apa alasannya pengubahan identitas nama itu apakah terkait dengan prospek ratusan miliar atau bahkan triliunan yang akan ditangguk sekali konser, saya tidak tahu. Beberapa kelompok musik di Indonesia saya amati juga ada yang berubah nama grup dan itu wajar saja. Nama artis dan nama orang saja juga bisa dengan mudah berubah.
Kebudayaan homo sapiens beserta kreasinya sangatlah menantang diikuti perkembangannya. Sangat dinamis. Kebetulan telinga saya sendiri lebih akrab dengan lagu-lagu jadul ala kelompok musik Amerika dan Eropa. Di masa kecil dan masa remaja menguasai telinga usia emas saya melalui radio Unisi FM, Geronimo FM, dan Rakosa FM. Ketiganya ada di Yogyakarta.
Kini dengan penetrasi musik BTS yang merangsek ke telinga, saya pun belajar mencintai dan menerima kebaruan. Betapa pun saya tahu bahwa kini, setidaknya yang saya rasakan, masih saja perangkap era hiperrealitas kebudayaan mengintai dan menguasai kita. Sebuah era ketika banyak orang lebih suka mengonsumsi gaya dan simbol. Boleh jadi, status keaslian tidak menjadi rujukan karena sudah mengikhlaskan diri memasuki fatamorgana citra.
Anda boleh mencurigai saya masih tetap menggunakan perspektif jadul dalam mendudukkan BTS sebagai bagian dari budaya massa musikal yang tak bisa dihindari. Tapi, bagaimanapun saya tetap harus menetapkan perspektif dan apa mau dikata jika hal itu yang spontan merongrong asumsi saya.
Barangkali karena penetrasi bacaan yang masuk di era usia emas saya adalah terkait hiperrealitas menjadikan perspektif itu bersemayam abadi dan seolah-olah juga menjadi benteng wacana alternatif meskipun zaman sudah bergeser.
Meskipun begitu, tetap ada yang menarik dengan kehadiran BTS karena Bangtan Sonyeondan jika dicari artinya ternyata adalah laki-laki yang anti-peluru. Artinya, mereka hadir dengan semangat yang berani menantang zaman, bukan lebay seperti yang terlihat dari lagu Attack on Bangtan yang mengandung semangat tak kenal menyerah demi impian di dunia musik hip hop yang sangat kompetitif.
Di era saya remaja, kalau mendengar ada konser, sejujurnya tidak selalu membuat saya tertarik. Karena saya lebih menyukai keseriusan mendengarkan dan itu bisa melalui radio yang di masa itu setiap radio mempunyai versi tangga lagu terbaik.
Misalnya setiap hari Jumat, mulai jam 14.00, semua radio di DIY akan memutar Dasa Tembang Tercantik Nusantara. Ini saja sudah memuaskan saya karena bisa berganti-ganti mendengarkan lagu yang saya sukai melalui siaran radio yang berbeda gelombang. Begitu juga jika radio tertentu memutar tangga lagu mancanegara seperti yang diputar UNISI FM.
Radio yang sungguh ikonik di masa remaja saya dan hingga kini masih mengudara serta abadi sebagai nama hotel di selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Entah berapa ribu homo sapiens yang masih sangat bergetar perasaannya memandang nama UNISI begitu turun dari kereta api dan terseret imajinasinya ke era kejayaan radio sekian puluh tahun silam?
Kembali ke BTS yang wajah-wajah personelnya sangat bersih dan mulus, pastilah membuat Gen Z histeris jika memandang. Apalagi kalau melihat konsernya bisa pingsan.
Kalau boleh sombong, saya bersyukur sejak remaja tidak begitu saja meleburkan diri ke dalam dunia citra dan hiperrealitas karena bekal pemahaman filsafat dan budaya massa sedikit-sedikit sudah saya pahami dan tertanam dalam pikiran saya. Membuat saya tetap mencoba kritis dan sedikit mengambil jarak karena menyadari meskipun dunia musik bisa membius hati nurani namun tetaplah secara esensial hanya dunia hiburan.
Semoga saja para Gen Z, kaum Milenial, kaum Jadulian seperti saya, dan siapa pun atau berapa pun usia Anda para homo sapiens yang menyukai BTS, terhindarkan dari fanatik berlebihan sehingga kalau Anda menjerit melihat konser atau mendengar lagu BTS serta tidak kesampaian cinta Anda pada salah satu personel BTS, tidak langsung memutuskan bunuh diri.
Ingat kini wacana kesehatan mental juga mengepung dunia para homo sapiens yang jika mudah goyah akan mudah pula bunuh diri di kos atau kontrakan rumah yang kini juga sedang tren di Indonesia.
Aduh jangan sampai terjadi, deh, please, hahaha… ***
Penulis adalah pemimpin redaksi mabur.co



