Dualisme Matahari di Keraton Solo, Tedjowulan Ngejawantah

Sinar matahari yang jatuh di Keraton Solo tampaknya tidak selalu terang dan mulus. Ada saja mendung yang menghalangi. Kalau matahari itu diibaratkan orang, maka juga ada dualisme kepemimpinan yang bergejolak di sana. Eksistensi kubu Tedjowulan pun ditolak kubu Paku Buwana (PB) XIV Purbaya.

Atas situasi yang menegangkan itu, pemerintah turun tangan. Kementerian Kebudayaan menunjuk kubu Tedjowulan sebagai pelaksana tugas kepemimpinan di Keraton Solo. Tedjowulan pun ngejawantah (muncul menjejakkan diri) bersama Surat Keputusan (SK) resmi pemerintah. Pemerintah menganggap sah SK tersebut karena dalam perundingan kubu PB XIV Purbaya tidak pernah hadir.

Sebagai makhluk homo sapiens biasa yang menjunjung tinggi kodrat kemanusiaan, sejujurnya saya tidak pernah tertarik dengan persoalan dualisme seperti itu. Karena di alam semesta ini tidak pernah ada rumus dualisme. Tidak ada rumus duplikat.

Kalau itu terjadi, namanya sudah melawan kodrat. Untuk menyadari soal kodrat ini, orang tidak perlu sekolah tinggi. Semua sudah jelas rujukannya. Jika benar di dunia ini ada delapan miliar lebih makhluk homo sapiens apakah sidik jarinya ada yang sama? Tidak ada!

Tanpa harus membawa-bawa nama Tuhan, dari sini saja sebenarnya setiap orang harusnya sudah menyadari kedudukannya di mana. Kecuali memang ada campur tangan politik yang kemudian menggelembung menjadi politisasi, itu beda cerita.

Boleh jadi arah dari suksesi di Solo itu mau ke sana. Kalau itu dirasa menjadi alternatif yang menguntungkan untuk sekaligus jualan bisnis isu, silakan saja. Semua itu pilihan bagi yang memang mau berbisnis.

Sebagai makhluk homo sapiens yang hanya suka membaca media, saya hanya menyayangkan saja karena yang saya lihat secara substansial adalah eksistensi keraton sebagai cagar budaya. Sebagai cagar budaya adiluhung, keraton menyimpan narasi sejarah, narasi estetika, narasi perjuangan, dan keseluruhan pencapaian kebudayaan yang seharusnya tetap dijunjung tinggi.

Kalau kemudian terjadi geger genjik (heboh) soal siapa pewaris trah dan sejenisnya, sebenarnya itu bisa diselesaikan tanpa campur tangan pemerintah. Sekali lagi, kalau antar-homo sapiens yang ada di Keraton Solo menyadari posisinya sendiri, di mana sebenarnya. Kodrat kemanusiaannya seperti apa jika tertempatkan dalam bentang panjang trah itu sendiri.

Tidak ada istilah saling klaim karena bayi kembar pun tidak akan pernah lahir secara bersamaan. Sang ibu adalah yang paling tahu mana bayi pertama yang lebih dulu lahir. Kecuali memang tertukar, lain lagi ceritanya. Tetapi biasanya tetap ada tanda fisik yang bisa dikenali secara jelas oleh sang ibu yang juga terkodratkan tidak akan pernah membohongi hati nurani.

Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang yang berjalan adalah gelembung sisa kontroversi betapa pun Menteri Kebudayaan sudah menunjuk pihak Tedjowulan sebagai jalan tengah penyelesaian.

Yang saya heran kenapa warisan tahta kepemimpinan di Jawa bisa bermuatan kontroversi. Padahal jelas kalau konteksnya keraton maka rujukan tahta dan trah lebih kredibel. Berbeda dengan konteks negara demokrasi yang memang masih harus diperebutkan, eyel-eyelan (saling berdebat), dan sejenisnya.

Lebih spesifik lagi, kenapa sebagai manusia, tidak harus mengidentifikasi diri sebagai Jawa atau etnis lainnya, di masa kini lebih senang melawan kodrat? Bukankah dalam konteks keraton sebenarnya tidak perlu ada politik suksesi?

Saya memilih menggunakan cara pandang sederhana saja. Tidak perlu muluk-muluk. Karena warisan trah alam semesta ini hanya berpasang-pasangan secara serasi tanpa perlu perdebatan lagi. Matahari hanya satu dan bulan hanya satu.

Pagi hanya sekali sehari, begitu pula siang, sore, dan malam hari. Hanya sekali dalam satu putaran per hari. Alam semesta saja sudah berputar dengan selalu menepati janji, tidak pernah berbohong, tidak pernah ada yang bisa menghentikan, karena selalu hanya begitu saja.

Mohon maaf, saya tidak bisa menelaah dengan cara mengada-ada dan terlalu spekulatif karena bagi saya konflik dan kontroversi yang ada hanya drama biasa saja. Sungguh sayang jika dalam drama itu saya melebihi sebagai penonton dan justru memberikan pandangan yang mendramatisir sehingga bisa saja justru menjerumuskan perspektif banyak orang.

Siang ini saya kangen tengkleng Solo. Sudah. Itu saja! Hahaha…***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *