Mabur.co- Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memberikan dampak signifikan terhadap sektor pertanian di sejumlah wilayah.
Berkurangnya curah hujan menyebabkan banyak lahan pertanian mengalami kekeringan, sehingga pasokan air untuk mengairi sawah dan kebun menjadi terbatas. Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan tanaman terganggu, bahkan sebagian tanaman terancam mengalami gagal panen.
Peningkatan Beban Biaya Petani
Selain menurunkan produktivitas hasil pertanian, kekeringan juga meningkatkan beban biaya yang harus ditanggung petani.
Sebagian di antaranya harus menggunakan pompa air atau mencari sumber air alternatif agar tanaman tetap dapat bertahan. Jika kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan akan berdampak pada pendapatan petani serta ketersediaan pangan di daerah.
Pakar Klimatologi dan Hidrometeorologi, Fakultas Geografi UGM, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si, menuturkan, Indonesia tahun ini diprediksi akan mengalami musim kemarau yang berdampak sangat besar, terutama sebagian besar Pulau Jawa akibat Elnino dengan indeks anomali suhu hingga 2,5-30C.
Musim kemarau yang panjang menyebabkan pertumbuhan tanaman terganggu akibat kekurangan air.
“Kekurangan air bagi padi dan tanaman yang membutuhkan air banyak menyebabkan peningkatan risiko gagal panen,” ucapnya, Rabu (5/8/2026).

Menurut Emilya Nurjani, kebutuhan air yang tinggi sedangkan ketersediaan terbatas menyebabkan petani mengeluarkan biaya tambahan untuk irigasi, pompa, buat sumur bahkan membeli air.
Stres Air
“Tanaman mengalami stres air sehingga pemupukan menjadi kurang efisien,” ucapnya.
Menurut Emilya Nurjani pula, pendapatan petani menurun bisa mengakibatkan hasil panen yang berkurang dan kemampuan beli benih serta sarana produksi musim berikutnya terbatas.
“Dampak bagi masyarakat terutama di perdesaan adalah kekurangan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga atau konflik pemanfaaatn sumberdaya air antar-wilayah atau antar-kelompok. Menurunnya kesempatan kerja di sektor pertanian, pendapatan masyarakat desa menurun sehingga daya beli berkurang. Meningkatnya risiko kebakaran lahan dan hutan, serta meningkatkan kerentanan pangan,” katanya.
Emilya Nurjani, menjelaskan, beberapa kegiatan yang bisa dilakukan oleh petani untuk mengatasi musim kemarau panjang antara lain, budidaya tanaman yang tahan kering atau tanaman dengan musim tanam yang pendek dan tidak membutuhkan air banyak (misalnya jagung, kacang-kacangan).
Alih-alih hanya menunggu musim hujan, masyarakat dapat mengembangkan kegiatan ekonomi yang lebih adaptif terhadap kondisi kemarau.
Irigasi Tetes
“Sistem irigasi hemat air dengan menggunakan mulsa, hidroponik atau irigasi tetes atau sprinkle,” katanya.
Menurut Emilya Nurjani pula, kemarau panjang tidak hanya menyebabkan penurunan produksi pertanian, tetapi juga memengaruhi ketahanan pangan, pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat desa.
“Diversifikasi mata pencaharian, pemanfaatan teknologi hemat air, pengembangan usaha bernilai tambah, dan penguatan ekonomi desa menjadi alternatif yang harus dilakukan. Harapannya masyarakat tidak hanya mampu bertahan selama musim kemarau, tetapi juga membangun sistem penghidupan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim,” katanya.
