Masjid di Kulon Progo Ini Jadi Taj Mahal di Indonesia

Mabur.co – Sekitar abad ke-17 silam, tepatnya di India bagian utara, sebuah bangunan unik nan megah bernama Taj Mahal, dibangun seorang raja bernama Kaisar Mughal Shah Jahan, untuk istri kesayangannya bernama Mumtaz Mahal.

Selain memiliki gaya artistektur unik yang memadukan corak India, Persia, dan Arab, Taj Mahal juga dikenal sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia, sekaligus simbol cinta abadi seorang raja kepada permaisurinya yang telah meninggal dunia.

Siapa sangka, bangunan serupa Taj Mahal ternyata juga ada di Indonesia, tepatnya di Kulon Progo, Yogyakarta. Selain memiliki gaya arsitektur unik, bangunan ini konon juga dibuat oleh seorang raja sebagai tanda cinta dan rasa sayangnya yang begitu besar kepada seorang wanita. 

Bangunan itu adalah Masjid Trayu yang terletak di Dusun Trayu, Kalurahan Tirtorahayu, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini merupakan salah satu masjid bersejarah sekaligus masjid tertua yang ada di Kabupaten Kulon Progo. 

Masjid Trayu di Kalurahan Tirtorahayu Galur Kulon Progo Foto JH Kusmargana

Oleh masyarakat sekitar, Masjid Trayu sendiri dikenal sebagai masjid tiban atau masjid yang tiba-tiba sudah ada, dan tidak diketahui kapan waktu pembangunannya. Nama Trayu sendiri diambil dari nama wilayah masjid berdiri yang berada di Kalurahan Trayu. Saat ini telah berganti nama menjadi Tirtorahayu. 

Menurut salah satu takmir masjid, Zulhan Fauzi, ada dua versi kapan Masjid Trayu ini dibangun. Sumber pertama menyebut, masjid ini dibangun sejak abad 17 sampai abad 18 oleh Raja Kadipaten Pakualaman, Sri Pakualam I atau II. Sementara sumber kedua menyebut, masjid ini dibangun oleh Sri Pakualam ke V di abad ke-19.

“Tidak ada yang tahu persis kapan pembangunan masjid ini. Namun yang pasti masjid ini dibangun untuk mengenang seorang wanita bernama Raden Roro Ratu Ayu,” ujarnya. 

Pilar penyangga di ruang utama Masjid Trayu Foto JH Kusmargana

Raden Roro Ratu Ayu atau yang juga dikenal Ratu Ayu (Turayu) merupakan seorang wanita asli Trayu.  Ia dipercaya sebagai menantu Sri Pakualam 1 atau istri Permaisuri Sri Pakualam II sekaligus juga ibu dari Sri Pakualam V. 

Dinas Kebudayaan DIY sendiri menyebut, Masjid Trayu dibangun oleh Pakualam V untuk mengenang ibundanya yang bernama Garwo Raden Ayu Resminingdyah yang berasal dari Trayu. Meski belum bisa dipastikan kebenarannya, sangat dimungkinkan Resminingdyah merupakan orang yang sama dengan Raden Roro Ratu Ayu.

“Konon masjid ini dibangun sebagai bentuk rasa cinta dan rasa sayang Sri Pakualam II kepada istrinya. Atau mungkin juga Sri Pakualam V kepada ibunya,” ungkap Zulhan.  

Sebagai masjid kuno peninggalan Kadipaten Pakualaman, Masjid Trayu ini memiliki gaya arsitektur mirip seperti masjid Keraton Kesultanan Mataram Islam pada umumnya. Memiliki halaman luas memanjang dengan dua pohon sawo kecik tepat di depannya, masjid ini memiliki bentuk atap limasan susun tiga yang khas dengan masjid di Jawa.

Bentuk atap Masjid Trayu Foto JH Kusmargana

Yang unik dan membedakan Masjid Trayu dibanding masjid lainnya adalah bentuk ruang utama yang memiliki banyak pilar penyangga. Yakni 4 pilar utama serta 16 pilar lain di sekelilingnya yang berukuran lebih kecil.

Menurut Zulhan, pilar-pilar kayu ini telah disambung dengan pilar beton di bagian bawahnya, untuk keperluan meninggikan bangunan.

Banyak dihiasi ornamen serta corak warna putih hijau khas Puro Pakualaman, masjid ini juga memiliki ruang serambi yang luas. Di serambi inilah terdapat sebuah bedug besar tua serta kentongan kayu yang biasa dibunyikan saat menjelang waktu salat tiba. Termasuk di momen bulan puasa.

Pernah beberapa kali dipugar, menurut Zulhan, Masjid Trayu telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya sejak 2018 silam. Hingga saat ini, masjid ini masih digunakan sebagai pusat kegiatan peribadatan oleh masyarakat sekitar.

“Masjid ini sempat direnovasi dua kali. Meski begitu sejumlah bangunan masih asli dan dipertahankan. Seperti atap bangunan utama, pilar penyangga, lantai, mimbar, hingga bedug. Sementara untuk mustoko yang terpasang merupakan tiruan, karena aslinya telah dibawa ke museum Puro Pakualaman sebagai koleksi,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *