Usia saya sebagai makhluk homo sapiens saat ini adalah setengah abad. Jadi kalau saya bisa menarasikan suasana ritual budaya ruwahan masa kecil dengan ikut membuat kolak, apem, dan ketan, itu bukan cerita fiktif.
Jika suasana bulan ruwah tiba, seperti saat kolom ini ditulis, orang sekampung saya di masa kecil akan bergantian membuat kolak, apem, dan ketan. Pastilah dulu saya tidak tahu apa maknanya, yang penting bulan ruwah itu bisa makan apem, ketan, dan kolak yang enak!
Dibuat spesial oleh setiap rumah dalam satu kampung yang secara ekonomi mampu, secara bergiliran dibagikan antar-tetangga. Jadi, selama sebulan penuh bisa beberapa kali makan kolak, apem, dan ketan. Seingat saya dalam sebulan saya dulu pernah mengganyang tandas kuliner kolak, apem, dan ketan hingga hitungan lebih dari sepuluh hari.
Barulah ketika saya sudah dewasa saya paham apa makna dari ritual budaya ruwah dan ngapem beserta kuliner pendukungnya, yang sekali makan tidak lebih dari dua puluh menit!
Apem ternyata merupakan simbol yang bermakna sebagai permohonan maaf. Sedangkan ketan yang dibuat gampang lengket di tangan itu, berarti sebagai perekat atau persatuan antar-sesama. Kemudian kolak bisa saja diartikan sebagai pengingat pada Sang Khalik.
Jadi, bulan ruwah menjadi simbol yang maknanya cukup dalam. Yaitu sebagai bulan bersih diri sebelum memasuki bulan Ramadan yang dalam kultur Jawa juga disakralkan sebagai bulan suci.
Begitulah. Budaya homo sapiens di belahan dunia mana pun memuat keragaman bentuk dan pesan moral.
Setiap momen upacara atau ritual tertentu dengan segala pernak-pernik kuliner lezatnya, sebenarnya kalau mau ditelusuri tujuannya hanya ini: menjaga bumi, berbagi kepada sesama, dan ungkapan syukur kepada Sang Penata Alam Semesta yang diyakini ada yaitu Tuhan, God, Pengeran, Gusti Allah, Sing Gawe Urip, dan banyak lagi nama lain yang sejenis dan artinya sama.
Pemahaman itu akhirnya memang merasuk dalam diri saya hingga kini. Saya bersyukur karena pindah ke mana pun jika masih di Jawa pasti akan menjumpai ritual budaya terkait bulan ruwah. Di luar Jawa kalau isinya orang Jawa juga akan menjumpai ritual budaya makan kolak, apem, dan ketan itu! Hahaha.
Spiritualitas budaya memang manfaatnya sangat besar. Yang terpenting adalah sebagai penyeimbang hidup agar secara sosial juga tetap sehat.
Apalagi di era media sosial yang lebih gencar menguasai hidup kita dan jika tidak hati-hati akan menjerumuskan pada kubangan sakit mental, aspek kesehatan budaya, kesehatan sosial, dan kesehatan semesta harus benar-benar terjaga. Semua itu setidaknya bisa dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.
Jika ada yang mengaitkan arti ruwah dengan arwah, sebagai penanda harus mengingat leluhur juga, pasti tujuannya juga mulia. Karena memang sungguh celaka kalau kita menjadi makhluk homo sapiens yang ternyata ahistoris. Sangat beruntung kita hidup dalam alam yang setiap hari dan setiap bulannya berperan juga untuk saling mengingatkan dan saling mengutuhkan.
Perang Dunia Ketiga mungkin sudah di depan mata, beberapa petinggi dunia konon juga sudah berupaya mencegah dan bahkan mantan Presiden SBY juga sudah mengingatkan agar jangan sampai terjadi, karena bisa saja menghilangkan lima miliar makhluk homo sapiens yang sama sekali tidak bersalah.
Semoga saja dari tanah kita Jawa, melalui momentum ruwahan, kembali dapat menyatukan semua makhluk homo sapiens di mana pun berada agar menjauhi kemungkinan perang dan tetap menjunjung tinggi perdamaian dunia. Agar kita sampai kapan juga masih tetap bisa makan apem, kolak, dan ketan yang menyehatkan jiwa dan mental itu! ***



