Mabur.co – Proses pembacaan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 memang dilaksanakan di Jakarta, yang merupakan ibu kota Indonesia sampai hari ini. Namun, Yogyakarta sebagai satu-satunya daerah istimewa di Indonesia, rupanya juga memiliki sumbangsih tersendiri bagi proses kemerdekaan tersebut.
Yogyakarta sempat menjadi ibu kota darurat pada Januari 1946 hingga Desember 1949, untuk mengamankan para pemimpin negara (Soekarno dan kawan-kawan) dari serangan para tentara sekutu serta pasukan NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie), yang berupaya kembali merebut wilayah Indonesia (Jakarta), meskipun telah dinyatakan merdeka pada 17 Agustus 1945.
Tidak hanya sebagai ibu kota darurat pasca-momen proklamasi. Jauh sebelum Indonesia dinyatakan merdeka, Yogyakarta juga pernah menjadi lokasi beberapa pertemuan penting para pemimpin bangsa serta para pemuda, yang ditujukan untuk merumuskan bentuk kemerdekaan Indonesia dalam waktu dekat.
Sekaligus menentukan siapakah yang akan menjadi pemimpin (penggerak perubahan bagi seluruh masyarakat) dan seterusnya.
“Sejak awal abad 20, pergerakan nasional yang menjadi awal dari keinginan untuk merdeka bagi orang-orang Indonesia, itu telah difasilitasi oleh Yogyakarta. Jadi misalnya, kongres pertama Budi Utomo itu diselenggarakan di Yogyakarta. Kemudian kongres Jong Java juga diselenggarakan di Yogyakarta. Kemudian ada dua organisasi besar di bidang pendidikan yang masih eksis sampai sekarang, juga didirikan di Yogyakarta, yaitu Muhammadiyah dan Taman Siswa,” ucap Sejarawan UGM, Baha Uddin, dalam sesi Sinau Sejarah, seperti dilansir dari kanal YouTube Paniradya Kaistimewan, Senin (17/8/2026).
Tidak Kaget dengan Kabar Proklamasi di Jakarta
Ketika berbagai pertemuan penting telah terselenggara dengan baik di tanah istimewa bernama Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII sebagai pemimpin tertinggi di Yogyakarta pada saat itu, tidak lagi merasa heran dengan kabar proklamasi kemerdekaan yang disampaikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta di Jakarta, pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 tersebut.
“Ketika tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia diproklamasikan kemerdekaannya di Jakarta oleh Soekarno dan (Mohammad) Hatta, baik Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII tidak kaget lagi (dengan kabar proklamasi yang dibacakan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta), karena memang itulah yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia sejak lama. Dan karena memang Yogyakarta telah menjadi bagian dari (sejarah proklamasi) itu,” tambah Baha Uddin.
Menurut Baha, Jakarta boleh saja menjadi pusat lahirnya Indonesia melalui pembacaan teks proklamasi, namun sejatinya, Yogyakarta adalah tempat utama yang turut membesarkan Indonesia sampai dengan hari ini.
Salah satu buktinya adalah momen perubahan ibu kota seperti yang telah disebutkan di atas, di mana Yogyakarta berperan penting menyelamatkan para pemimpin bangsa, di tengah kepungan tentara dan sekutu Belanda, yang sempat menguasai wilayah Batavia (Jakarta) di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. (*)
