Mabur.co – Hari ini, tepat 110 tahun silam, seorang tokoh militer paling berpengaruh sekaligus jenderal besar yang pernah dimiliki bangsa Indonesia lahir ke dunia. Dialah Jenderal Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia yang pertama.
Lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916, Jenderal Soedirman dikenal sebagai Pahlawan Nasional yang pernah memimpin perang revolusi atau perang kemerdekaan di era tahun 1945 hingga 1949.
Salah satu yang paling diingat di benak bangsa Indonesia tentang Jenderal Soedirman adalah saat ia memimpin perang rakyat semesta melawan Belanda yang ingin menguasai kembali wilayah Indonesia pada masa perang agresi militer Belanda ke-2.
Meskipun dalam kondisi sakit parah akibat mengidap penyakit tuberkulosis, Jenderal Soedirman tetap berjuang memimpin perang gerilya dengan berjalan menyusuri hutan dan perbukitan sejauh 100 kilometer dari arah Yogyakarta hingga melintasi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Meski tidak secara langsung memasuki wilayah Kulon Progo, jejak perjuangan pasukan Jenderal Soedirman hingga kini masih bisa ditemui di kabupaten sisi barat kota Yogyakarta itu. Hal itu disampaikan sejarawan Kulon Progo, Ahmad Athoillah.
“Memang saat memimpin perang gerilya, Jenderal Soedirman tidak secara langsung melewati wilayah Kulon Progo. Namun sejumlah pasukan mendukung perjuangan beliau dari wilayah Kulon Progo,” kata Ahmad Athoillah kepada mabur.co.
Dukungan yang dimaksud Ahmad Athoillah adalah keberadaan markas pasukan TB Simatupang di wilayah Dusun Banaran, Desa Banjarsari, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo.
Di tempat inilah berbagai informasi rahasia dari pasukan telik sandi TNI tentang kondisi Yogyakarta disampaikan kepada Jenderal Soedirman. Termasuk juga berbagai informasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX kepada Jenderal Soedirman.
“Jadi semua informasi soal kondisi maupun perkembangan situasi itu disampaikan lewat radio kepada Jenderal Soedirman melalui markas di Samigaluh ini,” katanya.
Selain markas TB Simatupang, di wilayah Kota Wates hingga saat ini juga masih bisa ditemui jejak sisa-sisa perjuangan sejumlah pasukan Tentara Pelajar Kulon Progo dalam mendukung perjuangan pasukan republik di bawah kepemimpinan Jenderal Soedirman.

Jejak itu adalah sebuah monumen berupa patung Tentara Pelajar dengan sejumlah relief yang menggambarkan perjuangan para pejuang yang terdapat di sisi utara Alun-alun Wates.
Ahmad Athoillah sendiri menjelaskan bahwa pada masa perang agresi militer Belanda ke-2 banyak didirikan unit-unit pasukan tentara cadangan yang berisi siswa atau pelajar. Biasa disebut Tentara Pelajar. Unit ini didirikan di berbagai wilayah termasuk di Wates, Kulon Progo.
“Mereka merupakan pasukan pelajar yang berasal dari anak-anak pegawai pemerintah yang bertugas di wilayah Kulon Progo. Tugas mereka adalah memberikan dukungan pada pasukan inti TNI,” katanya.
Turut membantu melawan pasukan Belanda di kawasan Jembatan Bantar, Sentolo, tak sedikit pasukan Tentara Pelajar di Wates ini diketahui gugur.
Untuk mengenang keberanian dan jasa mereka, puluhan nama anggota Tentara Pelajar ini pun kemudian diabadikan di Monumen Tentara Pelajar Wates. ***



