Mabur.co – Sekitar 10 tahun lalu, atau tepatnya di tahun 2016, saat dunia mulai melihat YouTube sebagai peluang baru dalam menghasilkan pundi-pundi alias cuan, sejumlah konten kreator Indonesia dari generasi pertama di Indonesia, seperti Young Lex, Jovial da Lopez, Andovi da Lopez, Reza Arap, Kemal Palevi, dan Dycal, pernah membuat lagu kolaborasi berjudul “Ganteng Ganteng Swag” (GGS).
Dalam lagu kolaborasi tersebut, terdapat salah satu frasa di dalam liriknya yang berbunyi “YouTube, YouTube, YouTube, lebih dari TV!”.
Ketika frasa itu diperdengarkan dan sempat viral pada saat itu, banyak yang kemudian membanding-bandingkan televisi dengan platform YouTube secara keseluruhan. Di mana televisi masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat pada saat itu, sebagai hiburan audiovisual terbaik yang bisa didapatkan di setiap sudut rumah.
Sementara kehadiran YouTube sebagai penghasil cuan alternatif, masih dianggap sebelah mata oleh banyak kalangan, mengingat YouTuber (konten kreator yang mengunggah konten ke platform YouTube), biasanya hanya bersifat perseorangan, memiliki tim yang terbatas, dan hanya mengandalkan pemasukan dari adsense, dan sebagainya.
Sementara dari sisi televisi yang sudah lebih established, mereka sudah punya nama besar (branding), kepercayaan, dan juga pemirsa di seluruh Nusantara, yang didukung dengan peralatan serba canggih dan tim produksi yang tersebar di berbagai daerah.
Namun 10 tahun berlalu sejak frasa itu dikumandangkan oleh Jovial da Lopez dan kawan-kawan, kini televisi justru mulai dihadapkan pada situasi pelik. Di mana pemirsa setia mereka mulai meninggalkan kebiasaan menonton TV di rumah, dan lebih suka menyaksikan tayangan di YouTube, yang bisa diakses kapan saja dan di mana saja, tanpa harus menunggu jam-jam tertentu, dan sebagainya.
Bahkan kini, para YouTuber juga sudah mempunyai alat-alat produksi yang tidak kalah canggih dengan media televisi, serta mampu menggaji setiap kru produksinya dengan angka yang cukup layak.
Belum lagi dengan cakupan YouTube, yang bisa diakses di seluruh dunia (jika tidak dibatasi oleh aturan batas regional), maka sudah jelas bahwa YouTube telah berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir, dan pelan-pelan mulai mengalahkan eksistensi televisi konvensional.
Berani Siarkan Pertandingan Sepak Bola Secara Gratis

Salah satu perkembangan besar YouTube juga terlihat dari variasi konten yang ditayangkan dari waktu ke waktu.
Dalam konteks siaran sepak bola, awalnya YouTube hanya diposisikan sebagai saluran untuk menyiarkan analisis dari pengamat tertentu, menampilkan highlights atau cuplikan pertandingan yang sudah lewat, hingga siaran live reaction, atau menayangkan penonton yang menonton sebuah pertandingan tertentu, tanpa menampilkan gambar dan suara dari pertandingan yang sedang disaksikan.
Namun semakin ke sini, para YouTuber mulai berani berinovasi yang lebih ekstrem. Mereka kini juga mampu menyiarkan siaran langsung pertandingan sepak bola tertentu, yang biasanya hanya bisa disaksikan di televisi, atau platform OTT (Over The Top) seperti Vidio, Vision Plus, Netflix (untuk film), SPOTV NOW, dan seterusnya.
YouTuber asal Brasil, Casimiro Miguel, dengan kanal YouTube-nya bernama CazéTV, menjadi salah satu pihak yang merintis tren baru ini. Ia membeli hak siar Piala Dunia 2026 lalu, dan berhak menyiarkan seluruh 104 pertandingan Piala Dunia 2026 di kanal YouTube miliknya, tanpa harus berlangganan membership terlebih dahulu, alias gratis.
Di Indonesia sendiri, Reza Arap dengan kanal YouTube-nya yang bernama YB, berhasil menjadi salah satu pemegang hak siar turnamen Piala AFF 2026, yang saat ini masih berlangsung.
Tren ini pun langsung diikuti oleh beberapa kanal YouTube besar lainnya, seperti Hanif Thamrin yang menyiarkan beberapa pertandingan pre-season untuk tim-tim besar (Juventus, Chelsea, AC Milan, Liverpool, Manchester United, dan masih banyak lagi), Sport77 yang mulai menyiarkan pertandingan timnas futsal Indonesia, serta RANS Entertainment yang ikut menyiarkan beberapa pertandingan tim nasional putri Indonesia, serta beberapa pertandingan persahabatan lainnya.
YouTube Semakin Melebihi TV
Hal ini semakin menegaskan posisi para YouTuber (sekaligus platform YouTube secara keseluruhan), dari yang awalnya hanya bisa membuat konten lucu-lucuan serta membuat lagu dengan lirik “YouTube, lebih dari TV“, kini ucapan dalam lirik tersebut seolah mulai menjadi kenyataan.
Mereka sudah mampu menjadi official broadcaster untuk sebuah saluran olahraga resmi, legal, dan tentu saja menguntungkan (profitable).
Sebaliknya, stasiun televisi yang dulu masih menganggap YouTuber sebelah mata, kini harus mulai gigit jari. Ketika banyak orang kini lebih suka menyaksikan tayangan siaran langsung lewat YouTube, yang bisa ditonton berulang-ulang, dijeda, melakukan interaksi dengan sang kreator secara real-time, dan seterusnya.
Sementara televisi hanya bisa menyiarkan siaran langsung secara utuh dan non-stop hingga usai, dan jika ada momen tertentu yang terlewat, tidak ada lagi kesempatan untuk menyaksikannya kembali, dan sebagainya.
Apalagi ketika banyak stasiun televisi konvensional yang mulai tutup atau berganti kepemilikan, serta melakukan konvergensi ke ranah digital seperti YouTube atau semacamnya, membuat posisi televisi menjadi semakin sulit, dan tidak punya pilihan lain, selain beradaptasi dengan pola baru yang sedang tren saat ini. (*)
