Mabur.co- Ketika berbicara tentang sejarah politik Indonesia, sulit untuk tidak menyebut nama Suharto. Selama 32 tahun Suharto memimpin Indonesia, bangsa ini mengalami perubahan besar di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, pertahanan, hingga kehidupan sosial.
Namun, masa pemerintahannya juga diwarnai dengan berbagai kontroversi dan kritik tajam terhadap praktik kekuasaan yang dianggap otoriter.
Era kepemimpinan Suharto dikenal sebagai Orde Baru berlangsung dari 1966 hingga 1998 menjadikannya salah satu pemimpin terlama di Indonesia.
Kepala Museum Memorial Jenderal Besar HM Suharto, Gatot Nugroho, menjelaskan di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul itulah Suharto dilahirkan pada 8 Juni 1921. Suharto merupakan anak dari pasangan Kertosudiro dan Sukirah.
“Kertosudiro merupakan seorang petani yang juga pembantu lurah. Tempat lahir Suharto kini telah menjadi museum yang diberi nama Museum Suharto,” ucapnya saat diwawancarai mabur.co via whatsapp, Senin (26/1/2026).
Gatot mengatakan, Suharto masuk ke sekolah ketika berusia delapan tahun, dan kerap berpindah-pindah sekolah. Semula ia disekolahkan di SD Puluhan, Godean.
Lalu ia pindah ke SD Pedes karena ibunya dan ayah angkatnya, Pramono, pindah rumah ke Kemusuk Kidul.
“Kertosudiro, ayah kandungnya, kemudian memindahkan Suharto ke Wuryantoro, Purwodadi, Jawa Tengah. Setelah lulus pada 1939, Suharto diterima bekerja di sebuah bank desa (volks bank) sebagai pembantu klerek yang kerjanya setiap hari mengayuh sepeda berkeliling kampung, bertemu dengan petani, dan pedagang kecil,” ucapnya.
Gatot mengatakan, Suharto menjadi anggota KNIL, Angkatan Perang Belanda di Hindia, pada 1 Juni 1940. Di KNIL inilah, ia mendapatkan pendidikan militer dari Belanda pada usia yang relatif muda, yaitu 19 tahun.
Kelak di KNIL ini pula, ia mendapat pendidikan untuk mencapai pangkat sersan. Ketika Belanda tunduk pada Jepang Februari 1942, Suharto pindah ke Yogyakarta. Setelah Jepang membuka lowongan Kempetai (polisi militer Jepang), Suharto ikut melamar.
Berkat bantuan Prawirohardjo, ayah Sudwikatmono, Suharto berhasil diterima.
“Atas saran kepala polisi militer, Suharto kemudian masuk menjadi anggota PETA (Pembela Tanah Air) pada Oktober 1943, dalam usia 22 tahun,” ucapnya.
Gatot menjelaskan, pada Oktober 1945, Suharto resmi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada masa perang kemerdekaan, Suharto memimpin pasukan untuk menghadapi aksi-aksi militer Belanda yang berupaya kembali menduduki Indonesia.
“Suharto berhasil memimpin pasukan merebut kembali Yogyakarta dari tangan Belanda yang belum menyerah untuk menguasai Indonesia. Meskipun penggagas serangan itu adalah Raja Yogyakarta, Gubernur Militer, serta Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, akan tetapi pada peristiwa inilah nama Suharto mulai dikenal secara luas,” ucapnya.
Gatot kembali mengungkapkan, program dan kebijakan yang relevan untuk zaman sekarang yang harus dilaksanakan adalah bagaimana anak-anak bangsa, anak-anak yang tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga di seluruh Indonesia, bisa belajar tentang sejarah perjuangan bangsa.
Khusus anak-anak di wilayah Yogyakarta harus paham betul sejarah Yogyakarta. Suatu wilayah yang dikenal dengan nama para pahlawan bagi Yogyakarta dan bagi Republik Indonesia.
Oleh sebab itu, maka perlu ada kebijakan. Pertama, ada program yang bernama wawasan kebangsaan. Kedua, program cinta tanah air. Selanjutnya, program yang terkait bagaimana anak-anak bangsa selalu menjaga dan memiliki karakter Pancasila.
Program-program itu sekarang ada, tetapi sangat minim. Harus kembali digalakkan dengan metode-metode yang sesuai dengan zaman sekarang.
“Anak-anak tidak hanya dikasih pendidikan kebangsaan, nasionalisme, dan karakter Pancasila. Tapi, mereka harus diajak untuk melihat ke tempat-tempat bersejarah. Khususnya yang ada di museum-museum perjuangan di Yogyakarta. Museum perjuangan di Yogyakarta bermacam-macam di antaranya Museum Benteng Vredenburg, Museum Sonobudoyo, Museum Memorial Jenderal Besar Suharto, museum yang ada di Kagungan Dalem Keraton Yogyakarta, Museum Dharma Wiratama TNI Angkatan Darat, Museum Pusat TNI Dirgantara Mandala, dan Museum Jenderal Sudirman,” katanya.
Gatot mengatakan pula, anak-anak tidak hanya diberi pendidikan secara teori, tapi implementasinya juga. Anak-anak diajak ke tempat-tempat yang bersejarah, untuk memantapkan, merenungkan, kemudian mengenal betul perjuangan para pejuang pada saat itu. Bahkan kepemimpinan sudah ada di Yogyakarta sejak zaman Mataram kuno sampai sekarang.
“Generasi muda kita bisa belajar dengan sejarah agar mereka tahu masa lampau. Kemudian akan mengerti kehebatan perjuangan, kehebatan Indonesia pada masa lampau itu sehingga bisa menjadi bekal saat ini, dan menjadi bagian penting untuk masa depan mereka,” ungkapnya. ***



