Varian virus ternyata banyak nama dan jumlahnya. Covid-19 saja diklaim bisa bermutasi menjadi ragam penyakit baru.
Situasi yang paling saya ingat dari tragedi Covid-19 sekian tahun lalu adalah ketika mendengar ada kosa kata lockdown.
Lantas kampung-kampung menutup diri, gang-gang kampung ditutup rapat, antar-tetangga tidak bersinggungan, aktivitas agama pun bisa dihentikan sementara waktu.
Saat mendengar pertama kali Covid-19 dulu, saya sempat ragu, tidak sepenuhnya percaya bahwa virus yang disebarkan langsung mematikan. Tetapi, kita tahu bersama, framing media sangat maut.
Seolah-olah dengan adanya Covid-19 dunia sudah kiamat. Sirine ambulans pun meraung di mana-mana bahkan sampai desa tempat tinggal saya. Kematian para tetangga saya yang diklaim terkena Covid-19 pada akhirnya diyakini tidak juga. Sialan!
Sampai di sini, jika sekarang muncul adanya virus Nipah yang jika dibaca di internet kurang lebih sama dengan Covid-19, saya mendadak apatis.
Boleh jadi ini sikap yang salah karena seperti mencari pembenaran sendiri. Tetapi, berdasarkan pengalaman Covid-19, kalau dituruti bikin stres berkepanjangan juga.
Tindakan preventifnya terlalu berlebihan. Boleh jadi stres yang menghinggapi banyak orang itu yang justru memperparah keadaan.
Jika hal itu menghampiri orang yang sedang sakit, maka bisa jadi akan semakin bertambah parah penyakitnya.
Memang, kita harus waspada terhadap semua penyakit. Apalagi yang memang diketahui sudah menjadi wabah. Tapi, jika sekarang ada virus Nipah, saya yang pasti memilih bersikap biasa saja meresponsnya.
Kalau pun berita yang menyertainya menjadi trending tentu karena sedang dikonsumsi secara massal. Bisa jadi karena penasaran. Bukan karena wabah virus itu langsung mematikan!
Saya memilih menghibur diri saja dan cukup memahami bahwa di masa kini sedang marak adanya virus Nipah.
Saya pikir di zaman semakin canggih, penyakitnya kok ikut canggih juga, ya. Apa tidak terkait dengan bisnis kesehatan? Atau memang bagian dari bisnis kesehatan itu sendiri? Saya kurang paham juga.
Namun, satu hal yang pasti, kearifan lokal Jawa mengajarkan adanya menu makanan atau minuman tertentu sebagai penangkal terserangnya kemungkinan penyakit.
Salah satunya adalah jamu dan sayuran. Juga buah-buahan. Saya kembali meyakini kuliner yang bermuara pada kearifan lokal Jawa itu.
Mulailah saya kini mengonsumsi lagi jahe, kunir asam, kayu manis, secang, dan sejenisnya, aneka bahan wedang uwuh favorit saya itu.
Kuliner itu rupanya mampu memberikan sugesti kesehatan pada diri saya. Dengan mengonsumsinya lagi di masa sekarang secara agak brutal, semoga bisa menjadi tameng virus Nipah atau apa pun.
Boleh jadi, saya juga akan melawan jika virus Nipah ini akan digelembungkan menjadi komoditi bisnis serupa Covid-19. Karena seperti menghadapi pembunuhan berencana saja. Maksudnya mencegah tapi justru menghambat aktivitas dan bahkan mematikan aktivitas! ***



