Menyikapi Berbagai Persoalan Mutakhir, Mahasabha Purbakala Audiensi ke Paniradya Pati (Bagian 1)

3 Min Read
People sit at a long conference table with microphones and boxed favors during a meeting; a camera on a tripod is set up in the center of the room.
Tim Mahasabha Purbakala saat audiensi ke Paniradya Pati DIY. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Di ruang audiensi Paniradya Kaistimewan DIY, suasana hening. Satu per satu tatapan disapa dengan senyum.

“Bapak/Ibu Paniradya Pati DIY yang kami hormati, dan seluruh hadirin yang kami hormati, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Salam budaya. Salam purbakala.”

Itulah kalimat pembuka Mahasabha Purbakala diwakili Mohammad Basyir Zubair atau yang akrab disapa Embas, budayawan dan praktisi arkeologi Yogya.

Mereka tidak datang membawa proposal tebal saja. Mereka datang membawa pertanyaan: Apa yang tersisa dari sebuah peradaban, setelah para raja wafat, setelah pasar dan kota runtuh?

“Yang tersisa adalah benda. Bangunan. Lapisan tanah yang menyimpan cerita. Yang tersisa adalah purbakala, warisan yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dijual, tidak bisa dilupakan, kecuali oleh bangsa yang memilih untuk lupa.

Group of people standing in a conference room behind a long table, in front of a large mounted screen with a crest above, posing for a group photo.
Tim Mahasabha Purbakala saat audiensi ke Paniradya Pati DIY. (Foto: Istimewa)

Mahasabha Purbakala adalah organisasi advokasi dan pelestarian warisan arkeologi Indonesia, berkedudukan di Kotagede, Yogyakarta. Mereka bukan dinas, bukan kampus. Anggotanya arkeolog IAAI, sejarawan, penulis, pemandu warisan yang tiap hari mengajak orang menyentuh sejarah.

Keberlanjutan Identitas Budaya Yogyakarta

Audiensi ini penting karena Paniradya Pati adalah jantungnya Keistimewaan. Baru 11 hari sebelumnya, Paniradya Pati Kaistimewan DIY, Kurniawan, mengatakan, rangkaian Memetri Kaistimewan menjadi bagian dari upaya memperluas pemaknaan keistimewaan dengan tema Mulyaning Manah, Mukti ing Bumi, Wibawaning Jagad sebagai pijakan untuk melihat hubungan antara nilai luhur dan keberlanjutan identitas budaya Yogyakarta.

Mahasabha masuk di celah itu. Keistimewaan DIY berdiri di atas lima pilar, salah satunya kebudayaan. Di dalam kebudayaan itu, kata mereka, ada dimensi yang kurang mendapat perhatian: arkeologi, literasi purbakala, dan ingatan kolektif.

“Kami ini kecil. Tapi kami bergerak. Hari ini kami hadir bukan sekadar membawa mimpi. Kami membawa program yang sudah matang. Sebab itu kami minta kepeloporan Paniradya Pati Kaistimewan DIY untuk bisa mengawal semua ini,” ujar Sastrawan dan Antropolog, Bustan Basir Maras, sebagai salah satu pembicara mewakili Mahasabha Purbakala.

Dalam public hearing Perda Pelestarian Warisan Budaya sebelumnya, Pansus DPRD DIY juga pernah mencatat bahwa pelestarian benda cagar budaya seringkali tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai non-bendanya, dan perlu diintegrasikan dengan RTRW dan RDTR.

Itu yang dikhawatirkan Mahasabha. Kotagede bukan cuma bata. Di sana ada mitos Kalang, ada mantra pendirian dalem, ada sumur-sumur tua yang dianggap pusering bumi.

Pentingnya Literasi Purbakala untuk Warga

Kalau hanya bangunannya yang disimpan tanpa ceritanya, Yogyakarta akan seperti museum tanpa jiwa. Usulan Mahasabha konkret: adanya literasi purbakala untuk warga, pemetaan partisipatif situs yang belum terdaftar, dan dana keistimewaan untuk literasi lapangan, bukan cuma festival.

Audiensi yang berlangsung kurang lebih satu jam itu, ditutup tanpa janji megah, ada komitmen positif bersama. Ada anggukan: keistimewaan harus dirawat dari lapisan tanah paling bawah. (Bersambung).

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar