Lampu auditorium Institut Francais Indonesia Yogyakarta dipadamkan Selasa 29 September 2026 pukul 19.30 WIB.
Di layar, seorang penari bercaping kerucut berlari di hutan, tubuhnya meliuk seperti akar.
Judul di poster yang tertempel di pintu masuk: Manusia Jawa dan Tumbuhan, Dokumenter puitik Wicak Baskoro berdasarkan karya Iman Budhi Santosa (IBS).
Ini bukan pemutaran biasa. Di poster tertera kredit panjang: produser Miranda Harlan, co-director Ndaru Murdopo, dance & choreography Besar Widodo, poetry reader Landung Simatupang. Didukung Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, LPDP, dan Institut Francais dengan program Liberte, Creativite, Diversite.

Setelah film selesai diputar, penonton tidak langsung pulang.
Mereka tetap duduk dan turut berdiskusi. Tampil ke depan Tonny Trimarsanto sebagai pembahas, Sukandar Moderator, didampingi Wicak Baskoro Direktor dan co-director Ndaru Murdopo.
Mereka duduk setengah lingkaran di depan layar yang baru saja dipadamkan setelah para penonton bertepuk tangan.
Sastra-Indonesia.com mencatat Iman Budhi Santosa adalah satu di antara tujuh orang yang mendirikan Persada Studi Klub (PSK) pada 5 Maret 1969 di Malioboro 175 A, komunitas yang diduga melahirkan sekitar 1500-an penyair, termasuk Emha Ainun Nadjib dan Linus Suryadi AG.
Manusia Jawa dan Tumbuhan adalah Sedhulur
Karya Iman tentang tumbuhan bukan hanya sekadar soal botani.
Dalam kosmologi Jawa, manusia dan tumbuhan adalah sedhulur. Raja Jawa-Yogya Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Pameran Narawandira 2023, seperti dikutip Koropak.co.id, pernah berkata: “Seperti tanaman asem, tanjung, gayam, beringin, kepel, hingga belimbing wuluh, semuanya sangat dekat dengan kosmis masyarakat Jawa.”
Budaya Jawa merefleksikan hubungan alam sebagai kausalitas. Ada kepercayaan lama: orang Jawa dilarang menebang pohon beringin sembarangan karena diyakini ada penjaganya.
Ada laku prihatin yang sering pula dijelaskan Rama Iman, begitu muridnya biasa akrab menyapa. Manusia Jawa harus mengolah cita-cita berlandaskan tirakat sepanjang hidup untuk sukses dunia akhirat.
Film Wicak menterjemahkan semua itu secara visual. Tubuh penari yang menyatu dengan pohon, suara vokal Oryza Widyasari dan Sugito Sosrosasmito seperti mantra.
Malam itu di IFI, setelah layar mati, diskusi berlangsung khusyuk dan asyik.
Manusia Jawa kembali belajar menjadi tumbuhan, tidak menaklukkan hutan, tapi tumbuh dan hidup bersamanya.
